KUANSING (pekanbarupos.co) — Namanya cukup singkat Sutoyo. Bapak dua anak kelahiran 11 Mei 1980 di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora Jawa Tengah ini terkenal sangat ramah terhadap semua orang.
Ia merupakan anak seorang petani transmigran yang hijrah ke Kabupaten Kuansing pada tahun 1980an melalui program transmigrasi yang digalakkan kala itu. Dengan logat Jawa yang kental, ia menceritakan kisah hidupnya mulai bisa duduk di kursi parlemen hingga bakal maju di Pilkada serentak di Kabupaten Kuansing.
Ia mengaku hidup di daerah transmigrasi tak serta merta selalu diliputi kesuksesan. Makanya sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, di pundaknya tersimpan beban berat yang harus ia pikul. “Dari kecil saya hidupnya keras, tak ada kata “dimanja” dari orang tua. Dari sinilah saya ditempa menjadi orang yang kuat,” kata Sutoyo.
Sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas tiga, ia harus ikut orang tuanya yang memutuskan untuk pindah ke Desa Sungai Kuning, Kecamatan Singingi Kabupaten Kuansing melalui program transmigrasi yang digelar pemerintah pusat. “Awal pindah ke sini (Kuansing,red). Hidup masih serba kekurangan, rumah pun tak layak,” katanya.
Meski tinggal di tempat yang kurang layak tak mengecilkan semangat Sutoyo. Kondisi tersebut malah semakin memacu dirinya untuk terus belajar di sekolah.
Hal tersebut diwujudkan setelah tamat SD di Sungai Kuning, ia meneruskan SMP di Blora, yakni di SMP 1 Kecamatan Kunduran Blora.
Mulai SMP inilah pengalamannya berorganisasi diasah, tak hanya itu ia juga berprestasi di sekolah. “Sejak SMP itulah saya sudah senang berorganisasi. Misalnya, masuk anggota OSIS dan Pramuka,” katanya.
Berkat mental kuat yang ditanamkan orang tuanya, ia setelah lulus SMP melanjutkan sekolah ke Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang berjarak sekitar 3 jam dari Blora.
Kondisi orang tuanya yang hanya seorang petani, ia pun berusaha mengurangi beban orang tuanya dengan membantu pamannya sebagai seorang pedagang. “Di Pati, saya bantu paman berdagang. Itu yang bisa saya lakukan untuk membantu orang tua,” ceritanya.
Tahun 1999, ia lulus SMA. Saat itu, pria bertubuh besar ini mempunyai keinginan untuk masuk AKABRI. Namun cita-citanya itu harus kandas, karena orang tuanya tak merestui. “Sempat putus asa juga. Maka saya tak langsung kuliah, tapi intropeksi diri di rumah belajar mencari ilmu di lingkungan masyarakat,” katanya.
Setahun kemudian, ia memutuskan untuk menikah dengan pujaan hatinya Tumini yang juga dari suku Jawa. Langkah itu bukan tanpa alasan, ia memutuskan nikah muda agar saat anaknya tumbuh besar ia masih kuat untuk mencari nafkah untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. “Hasilnya, saya masih muda, anak saya nomor satu sudah SMA dan satu lagi SMP,” ujarnya.
Setelah menikah, ia aktif di organisasi kepemudaan tingkat desa. Pria yang hobi olahraga voli dan bulu tangkis ini pun mencoba peruntungan dengan masuk kader Partai Golkar di tingkat desa. “Tahun 2006 saya mulai terjun ke dunia politik dengan sebatas kader desa Golkar,” katanya.
Karirnya sebagai kader Golkar melejit saat DPD Golkar Kuansing dipimpin H Sukarmis. Saat itu ia ditunjuk sebagai koordinator desa di partai berlambang pohon beringin tersebut.
Karir politiknya menanjak saat ia berhasil menyumbang suara yang cukup signifikan pada periode kedua H Sukarmis menjadi Bupati Kuansing. “Hampir 80 persen lebih, pas masa pak Sukarmis di periode kedua. Pemilih hampir 3000 orang,” katanya.
Setelah sukses mengantarkan H Sukarmis dalam kepemimpinannya yang kedua, karir politik pria beranak dua ini terus meningkat. Ia kemudian ditunjuk untuk menduduki kepengurusan partai di tingkat DPD Kabupaten Kuansing.
Di tingkat DPD inilah ia terus mengasah kepiawaiannya dalam berorganisasi. Makanya Partai Golkar memberikan kesempatan kepadanya untuk maju sebagai calon anggota legislatif tahun 2014 lalu. “Alhamdulillah, saya terpilih menjadi anggota dewan dari Dapil 2 Kuansing yakni Singingi dan Singingi Hilir,” katanya.
Padatnya jadwal sosialisasi kepada masyarakat agar duduk di kursi parlemen tutur Sutoyo, kuliahnya di Universitas Lancang Kuning jurusan hukum tertunda. Setelah terpilih, barulah ia melanjutkan kuliahnya. Tahun 2014 akhir ia akhirnya menamatkan kuliah dengan gelar sarjana hukum. Setahun kemudian, ia pun kembali meneruskan kuliah pasca sarjana di Universitas Islam Riau juga mengambil jurusan hukum.
“Tahun 2010 kuliah, tahun 2014 lagi sibuk skripsi pas Pileg. Sibuk Pileg, skripsi tertunda dan baru diteruskan setelah terpilih. Akhirnya lulus tahun 2014. Saat ini sedang S2 di UIR,” katanya.
Keterpanggilan untuk memperjuangkan hak masyarakat khususnya Dapil dua dan umumnya Kabupaten Kuantan Singingi katanya, berkat dorongan yang besar dari masyarakat.
“Alhamdulillah saya kembali terpilih untuk kedua kalinya menjadi anggota DPRD 2019-2024,” katanya. Tak cukup sampai disitu, dengan kepiawaiannya Sutoyo pun kembali terpilih menjadi anggota DPRD Kuansing periode 2024-2029 dari dapil yang sama.
Meski begitu, perjuangan untuk masyarakat serasa kurang maksimal di kursi dewan, maka di Pilkada 2024 ini, ia akan ikut bertarung di Pilkada serentak 2024 sebagai bakal calon wakil Bupati mendampingi Dr Adam MH. “Di dewan, kita tak bisa maksimal memperjuangkan masyarakat. Jika mau maksimal, mau tidak mau kita harus jadi eksekutif,” katanya.
Maka jelang periode ketiganya di DPRD Kuansing, ia pun merasa terpanggil untuk maju di Pilkada Kuansing mendampingi Bakal Calon Bupati Dr Adam MH yang merupakan kolega separtainya sekaligus ketuanya di Golkar Kuansing.
Menurut Sutoyo, Dr Adam yang merupakan putra Sukarmis itu sudah seperti saudara bagi dirinya. Sebagai anak eks transmigrasi, ia pun tidak pernah bermimpi akan menjadi bakal calon wakil bupati mendampingi Adam.
“Saya mengerti, saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanya berpegang pada falsafah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Dan, Kuansing harus dibangun dengan kebersamaan” ulasnya.(cil)
Pekanbaru Pos Riau