PANGKALANKERINCI(pekanbarupos.co)-Suasana syahdu menyelimuti Masjid Nuroh Al Badr, Pangkalan Kerinci Timur, pada Senin malam (16/3/2026). Ratusan jemaah tampak memadati ruang utama masjid hingga selasar untuk menyimak petuah agama dari Ustadz DR Ariful Bahri, Lc., MA.
Putra asli Kampar yang kini mengemban amanah sebagai pengajar tetap berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah.
Dalam rangkaian safari dakwahnya di tanah kelahiran, beliau menyampaikan tema krusial di penghujung bulan suci: “Agar Ramadhan Lebih Bermakna.” Tausiyah ini menjadi sangat istimewa karena bertepatan dengan malam ke-27 Ramadhan 1447 H, waktu yang dinanti-nantikan umat Islam di seluruh dunia.
Membuka ceramahnya, Ustadz Ariful mengupas makna filosofis dari kata “Ramadhan”. Secara bahasa, Ramadhan merujuk pada musim panas yang membakar.
”Hikmah terindahnya adalah Ramadhan itu panas karena ia ‘membakar’ dosa-dosa hamba-Nya. Allah menginginkan kita keluar dari bulan ini dalam keadaan bersih, tanpa noda dosa sedikit pun,” tutur Pembina Ponpes Al Madania Riau menyebut rahasia nama ‘Ramadhan’ sebagai penggugur dosa.
Ustadz yang biasa menggelar rutin memberikan nasihat di gate 19 Masjid Nabawi ini juga memaparkan seputar
kemuliaan umur dan keajaiban satu Ramadhan.
Beliau menceritakan kisah dua orang sahabat yang masuk Islam bersamaan. Salah satunya meninggal syahid, sementara yang lain meninggal setahun kemudian secara wajar. Namun, dalam mimpi Thalhah bin Ubaidillah, orang yang meninggal belakangan justru memiliki derajat lebih tinggi di surga.
“Mengapa? Karena dia mendapatkan kesempatan satu kali lagi bertemu Ramadhan. Ini menunjukkan betapa agungnya nilai satu bulan Ramadhan jika dimaksimalkan dengan ibadah,” tegasnya.
Terkait umur manusia, Ustadz Ariful menjelaskan ada dua jenis “umur panjang”. Pertama umur panjang secara fisik (bilangan tahun) dan umur panjang secara amal. “Poin kedua ini bermakna meskipun raga telah tiada, nama dan pahalanya tetap hidup dan dikenang karena kebaikan yang ditinggalkan,”ungkapnya.
Beliau hafizhohullah yang murah senyum ini juga membagikan resep agar mendapatkan berkah umur panjang, yakni melalui doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik, serta menjaga hubungan Silaturahim (keluarga sedarah) dan Silatul Ukhwah (sesama muslim).
Ada juga pesan yang menohok para jemaah yang hadir terutama ummat Muslim tentunya. Yaitu,
Sebuah pesan mendalam disampaikan kepada jemaah mengenai tanda-tanda kerugian seorang hamba.
Menurut doktor bidang Tauhid Universitas Islam Madinah ini, hukuman terberat dari Allah di dunia bukanlah kemiskinan, melainkan ketika Allah mencabut rasa manis dalam beribadah.
“Hukuman terberat adalah saat hati mulai enggan bersujud dan sulit untuk beribadah. Jika kaki terasa berat melangkah ke masjid, waspadalah, jangan-jangan itu tanda hukuman Allah mulai menguasai diri,” pesannya dengan nada lembut namun menggetarkan.
Sebelum menutup dauroh yang berlangsung setelah sholat Tarawih, Ustadz Ariful juga merangkai beberapa panduan praktis mengisi 10 malam terakhir Ramadhan agar tidak berlalu sia-sia.
Diantara yang disebutkan beliau, memperbanyak doa dan pujian kepada Rabb pencipta langit dan bumi, utamakan memuji Allah dalam setiap doa.
Tingkatkan Kualitas Qiyam. Berbeda dengan 20 malam pertama, 10 malam terakhir harus lebih kencang ibadahnya.
I’tikaf dan Al-Qur’an. Targetkan khatam berkali-kali dan fokus berdiam diri di masjid.
Selain itu dianjurkan untuk berbagi keberkahan. Melalui sedekah makanan, uang, hingga menunaikan berbagai jenis zakat (Fitri, Mal, hingga Pertanian dan lainnya).
Kegiatan ini juga dirangkai dengan tanya jawab bersama jemaah dan berharap agar malam-malam yang dilalui jemaah diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dipertemukan dengan Lailatul Qadr yang penuh kemuliaan.(amr)
Pekanbaru Pos Riau