
PELALAWAN(pekanbarupos.co)- Di sebuah sudut di Kabupaten Pelalawan, tepatnya di Desa Sungai Ara Kecamatan Pelalawan kehidupan berjalan di atas luka yang perlahan membesar.
Luka itu bukan sekadar retakan kayu atau genangan lumpur ia adalah simbol dari harapan yang lama tak tersentuh.
Pagi itu, Ahad (29/3/2026) jalan utama yang menghubungkan Sungai Ara menuju Merbau tampak lebih seperti kubangan panjang. Lumpur menganga, genangan air menutup lubang-lubang dalam, seolah menyembunyikan bahaya yang siap menelan siapa saja yang melintas.
Di kiri-kanan, hamparan kebun sawit berdiri tegak, kontras dengan jalan yang justru tak lagi layak disebut akses utama.
Tak jauh dari sana, Dermaga Biru yang dahulu menjadi nadi aktivitas warga untuk bongkar muat atau sekadar naik turun warga dari mencari ikan kini berdiri rapuh.
Papan-papan kayunya lapuk, beberapa bahkan telah patah, menyisakan celah yang menganga. Setiap langkah di atasnya bukan lagi rutinitas biasa, melainkan perjudian kecil antara selamat atau celaka.
Di atas dermaga itu, seorang pria menunjuk ke bagian lantai yang hampir roboh. Di belakangnya, beberapa pemuda duduk diam, wajah mereka menyimpan campuran antara kesal dan lelah.
Bukan tanpa alasan.
Persatuan Pemuda Sungai Ara (PPSA) akhirnya angkat suara.
“Kami malu melihat kampung kami seperti tidak bertuan,” ujar Ogi Saputra dengan nada getir.
“Akses jalan rusak berat, dermaga lapuk. Tidak ada sentuhan pembangunan,”imbuhnya dengan perasaan bercampur aduk.
Kalimat itu bukan sekadar kritik, ia adalah jeritan.
Bagi warga yang berada di pinggir Sungai Kampar jalan dan dermaga bukan sekadar fasilitas. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dari sanalah hasil kebun diangkut, anak-anak pergi menuntut ilmu, hingga keluarga saling berkunjung. Ketika urat nadi itu tersumbat, kehidupan pun ikut tersendat.
Di hari yang seharusnya menjadi momen bahagia sebuah pesta pernikahan di desa justru menyisakan rasa malu. Tamu-tamu dari kampung tetangga harus berjibaku melewati jalan berlumpur, menahan khawatir di setiap langkah.
“Kami sangat malu,” ungkap Nando.
“Seakan-akan kampung kami tidak punya pemerintah,”tambahnya lantang.
Ucapan itu terasa keras, namun lahir dari kenyataan yang mereka hadapi setiap hari. Bagi mereka, ini bukan sekadar soal infrastruktur, tapi soal kehadiran atau ketiadaan perhatian.
Warga menilai, lemahnya koordinasi antara pemerintah desa dan pemerintah daerah menjadi salah satu penyebab lambannya perbaikan. Sementara waktu terus berjalan, kerusakan semakin dalam, dan risiko semakin nyata.
Kata pemuda setempat. Lebih dari sekadar menghambat ekonomi, kondisi ini juga mengancam keselamatan. “Setiap lubang yang tertutup air bisa menjadi jebakan. Setiap papan rapuh di dermaga bisa menjadi titik jatuh yang tak diinginkan,”ujar Nando.
Kata dia, di Sungai Ara, masyarakat tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin jalan yang bisa dilalui tanpa rasa takut, dan dermaga yang bisa dipijak tanpa cemas.
“Harapan kami sederhana, namun terasa jauh agar kampung ini kembali terasa “bertuan,”harapnya.
Kini, semua mata tertuju pada pemerintah akankah jeritan ini didengar, atau kembali tenggelam seperti jalan yang tertutup lumpur.
“Sebenarnya tak perlu ada suara sumbang dari pemuda yang mewakili masyarakat, sekiranya pemerintah reaksi cepat, termasuk perusahaan yang ada di sekitar desa peduli dengan kondisi ini,”papar Joe Kampe yang juga pemuda setempat.
Kondisi jalan yang buruk dan dermaga lapuk sudah berlangsung sudah lama, tapi menjadi cerita lama masyarakat yang tidak kunjung berakhir.(amr)
Pekanbaru Pos Riau