MANDAH(pekanbarupos.co)-Kekecewaan masyarakat Dusun Saka Jalan, Desa Bente, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, kian memuncak.
Harapan besar yang pernah dititipkan warga terhadap pembangunan jalan penghubung menuju kawasan strategis di wilayah tersebut kini berubah menjadi tanda tanya besar.
Pasalnya, pembangunan jalan yang direncanakan melintasi kawasan perkebunan kelapa milik warga itu hingga kini terbengkalai tanpa kejelasan. Ironisnya, sebelum proyek berhenti, ratusan batang kelapa produktif milik masyarakat telah ditebang untuk membuka badan jalan.
Berdasarkan keterangan warga, jalan yang dibangun memiliki lebar badan jalan sekitar 11 meter dan bahu jalan 5 meter kiri dan 5 meter kanan dengan panjang yang baru dikerjakan sekitar satu koma enam kilometer. Namun setelah dilakukan penebangan pohon kelapa dan penimbunan menggunakan pasir, pekerjaan tidak lagi berlanjut hingga bertahun-tahun lamanya. Bahkan terdengar kabar masih belum tuntas status ganti rugi pohon kelapa yg ditebang oleh pihak kontraktor dengan warga pada saat itu.
“Masyarakat mempertanyakan lahannya dipakai untuk kepentingan bersama. Pohon-pohon kelapa yang selama ini menjadi sumber penghasilan juga ditebang. Tapi sampai sekarang jalannya tidak selesai dan terkesan ditinggalkan begitu saja,” ungkap Kepala Dusun setempat Herman Saka, Selasa (23/6/2026).
Kadus bersama warga lainnya memperkirakan lebih kurang 500 batang kelapa produktif terdampak pembukaan badan jalan tersebut. Hingga kini, menurut masyarakat, tidak ada ganti rugi yang mereka terima atas tanaman produktif yang telah ditebang. Bahkan masyarakat berinisiatif untuk menanam kembali pohon kelapa yang sudah ditebang akibat tidak adanya kejelasan yang pasti.
Padahal, pohon-pohon kelapa tersebut selama bertahun-tahun menjadi penopang ekonomi keluarga. Hilangnya tanaman produktif tanpa adanya manfaat nyata dari jalan yang dijanjikan membuat sebagian warga merasa telah menanggung kerugian ganda, pohon kelapa sudah ditebang dan manfaat jalan juga tidak jelas.
Dari pantauan di lapangan, kondisi jalan saat ini masih berupa hamparan tanah dan pasir. Di sejumlah titik tampak tidak rata, ditumbuhi rumput liar, bahkan mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat lama tidak mendapatkan perawatan maupun kelanjutan pembangunan.
Keluhan masyarakat sebenarnya telah berulang kali disampaikan. Namun hingga kini warga mengaku belum mendapatkan penjelasan yang memadai terkait status maupun kelanjutan proyek yang akan menghubungkan ke PT Sambu Sungai Guntung Kateman tersebut.
“Masyarakat sudah lama bersuara. Yang kami harapkan bukan sekadar janji, tetapi kejelasan. Kalau memang dilanjutkan, kapan. Kalau ada kendala, sampaikan kepada masyarakat,” ujar Kadus Herman.
Menurut informasi yang dihimpun, apabila jalan tersebut selesai dibangun akses transportasi masyarakat menuju sejumlah kawasan dan jalur ekonomi akan menjadi lebih mudah. Karena itu, warga berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan peninjauan serta memberikan kepastian terhadap nasib proyek yang telah bertahun-tahun mangkrak tersebut.
Masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak menolak pembangunan. Sebaliknya, warga mendukung penuh pembangunan yang membawa manfaat bagi daerah. Namun mereka berharap pengorbanan masyarakat berupa lahan dan ratusan pohon kelapa produktif yang telah ditebang tidak berakhir sia-sia akibat proyek yang terbengkalai tanpa kejelasan.
Kini, setelah bertahun-tahun menunggu, satu pertanyaan yang terus bergema dari Dusun Saka adalah, sampai kapan jalan yang telah mengorbankan kebun kelapa warga itu akan dibiarkan mangkrak.
“Kami minta Pemda Inhil, anggota DPRD nya juga ikut memberikan perhatiannya terkait proyek infrastruktur ini. Dilanjutkan atau warga tanam kembali kelapa,”pungkas Herman.(amr)
Pekanbaru Pos Riau