PEKANBARU (pekanbarupos.co)– Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih selimuti berapa wilayah di Provinsi Riau.
Diantaranya, kota Pekanbaru yang saat ini mulai membatasi jarak pandang serta menimbulkan dampak pada udara kurang baik untuk kesehatan.
Bahkan, sesuai informasi dari Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru, dampak kabut asap sudah mulai memicu penyakit terhadap masyarakat. Yaitu, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang jumlah penderitanya cukup mengkhawatirkan dan cukup tinggi sebanyak 376 kasus terhitung mulai awal Agustus 2026.
Informasi tersebut disampaikan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Kota Pekanbaru, Edi Satriawan. Menurutnya, ratusan kasus penyakit pernapasan tersebut tersebar di berbagai wilayah kota Pekanbaru yang sedang dalam penanganan dan pengawasan tim medis si fasilitas layanan kesehatan di seluruh wilayah Kota Pekanbaru.
Untuk pasien yang terdata mengalami gejala ISPA tergolong kategori pneumonia dan Non-Pneumonia dengan keluhan berupa batuk, pilek, hingga radang tenggorokan.
“Angka tersebut kita dapatkan sesuai laporan dari berbagi fasilitas kesehatan yang ada di seluruh wilayah kota Pekanbaru. Untuk gejalanya terbesar masih berdada di kategori Non-Pneumonia. Sedangkan untuk Pneumonia hanya sembilan pasien,” jelasnya.
Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya Juli 2026, kaus saat ini termasuk kecil. Namun, ini tetap menjadi perhatian dan harus menjadi kewaspadaan bagi masyarakat untuk terus berhati-hati dan menjaga kesehatan dengan mengurangi aktivitas tidak penting di luar ruangan.
“Pada Juli 2026, kasus ISPA di Pekanbaru memang mencapai sebanyak 5.325 kasus dengan kategori pneumonia sebanyak 20 kasus dan sisanya kategori Non-Pneumonia. Tapi ini tetap menjadi perhatian agar masyarakat bisa terus waspada,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho menghimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan dari dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan ini.
Ia meminta masyarakat untuk mengurangi kegiatan diluar rumah atau ruangan yang tidak begitu penting. Terutama mulai membiasakan menggunakan masker dan lainya saat bepergian.
“Kita minta masyarakat selalu waspada untuk antisipasi dan jaga kesehatan akibat dampak kabut asap ini. Salah satunya mengurangi kegiatan yang tidak terlalu penting diluar ruangan dan menggunakan masker saat bepergian,” katanya.
Agung juga menjelaskan, jika saat ini cuaca tidak sehat bukan hanya karena kabut asap, tapi juga di picu fenomena El Nino yang menyebabkan kondisi suhu udara di wilayah perkotaan menjadi lebih panas dan kering dari biasanya.
Suhu udara harian di Kota Pekanbaru dilaporkan dapat mencapai 32 derajat Celsius selama periode fenomena iklim tersebut berlangsung. Untuk itu, pemerintah daerah mendorong warga agar memprioritaskan tindakan pencegahan guna menjaga kondisi fisik.
“Kita juga menghimbau kepada seluruh tim kesehatan untuk terus memberikan pelayanan dan sosialisasi kepada masyarakat dengan cepat. Sehingga penyakit ini bisa diatasi dan di antisipasi dengan baik,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli mengatakan, untuk kasus ISPA di Riau, di domisili pada Balita, sehingga perlu jadi perhatian sesuai daya tahan tubuh balita yang rentan mengalami gangguan kesehatan ketika kualitas udara memburuk.
Begitu juga terhadap Lansia serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan juga diminta lebih berhati-hati.
“Kita juga menghimbau agar masyarakat terus berhati-hati. Terutama menjaga Balita dan Lansia serta yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan ala pelindung seperti masker saat bepergian,” tuturnya.
Sementara di tempat lain, terkait Karhurla makin meningkat di Provinsi Riau. Berdasarkan pantauan data satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru. Saat ini, tercatat ada 49 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai kabupaten di Riau.
Dari jumlah tersebut, terbesar berada di Kabupaten Pelalawan Sebanyak 35 titik panas yang terbagi di beberapa wilayah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Provinsi Riau, Edi Afrizal, melalui Kabid Kedaruratan Jim Gafur mengatakan, penanganan terus dilakukan dengan maksimal oleh seluruh tim. Hingga saat ini papar Jim, tim pemadaman baik dari darat dan udara masih berjibaku melakukan pemadaman.
“Upaya penanggulangan terus dilakukan. Tim darat kita kerahkan, water bombing juga dilakukan, termasuk pengerahan alat berat. Untuk pemadaman memang tim sedikit ada mengalami kesulitan karena sumber air di lokasi minim. Namun tim terus berupaya maksimal,” jelasnya.
Selain pemadaman dari udara dan darat, Pemerintah Provinsi Riau juga mengandalkan operasi modifikasi cuaca (OMC). Namun, pelaksanaan penyemaian awan sangat bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi syarat.
“OMC tergantung awan. Untuk penyemaian garam, kita bergantung pada kondisi awan yang ada,” tutupnya.(dre)
Pekanbaru Pos Riau