Sabtu , 22 Agustus 2026
Oplus_131072

MUI Kuansing Kecam Prilaku Orang yang Di Atas Jalur Konsumsi Tuak

Pelaku Memohon Maaf Lewat Medsos

KUANSING (pekanbarupos.co)–Sebuah video pendek yang merekam salah satu jalur di Tepian Narosa Telukkuantan mendadak viral.

Pasalnya salah seorang yang berada di atas jalur tersebut memamerkan tuak yang digenggam di tangan kanannya.

Hal tersebut pun mendapat tanggapan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI ) Kabupaten Kuantan Singingi.

Ketua MUI Kuansing Dr Bakhtiar Saleh mengatakan jika benar berita yang lagi viral tentang adanya seorang pria yang mengkonsumsi dan memamerkan tuak di Festival Pacu Jalur Tradisional di Tepian Narosa, maka hal tersebut sangat bertentangan dengan adat budaya Kuansing.

“Kalau itu benar, kita dari MUI sangat menyayangkan, sekaligus mengecam keras hal itu. Karena itu bertentangan dengan agama dan menabrak nilai-nilai adat budaya kita,” kata Dr Baktiar.

Menurut Dr Baktiar, negeri dan budaya pacu jalur kebanggaan masyarakat Kuansing ini perlu dijaga.

“Budaya kita perlu kita jaga, kita bangun bersama, jangan sampai ada oknum yang merusaknya,” katanya.

“Patut dipertanyakan juga, dari mana dia berasal, jalur mana dan anak keponakan siapa,” ujarnya.

Ia meminta kedepan panitia dapat memberikan sanksi yang tegas, kalau masih kedapatan terjadi peristiwa serupa.

“Ini menjadi penting agar semua kita bisa bahu-membahu dalam membangun negeri ini,” katanya.

Setelah viral di Medsos, pelaku didampingi Ketua Persatuan Batak Kuansing Hardianto Manik membuat video permohonan maaf. Video tersebut pun juga viral.

Dalam video tersebut, pengunjung asal Sumatera Utara tersebut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kabupaten Kuansing.

Dalam video tersebut, pengunjung tersebut mengaku bahwa dirinya baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Kuansing untuk menyaksikan langsung tradisi akbar Pacu Jalur.

“Ketidaktahuannya terhadap tata krama dan norma adat setempat memicu terjadinya kekhilafan,” katanya.

Ia mengakui telah membawa serta mengonsumsi minuman keras jenis tuak saat menaiki perahu jalur. Tindakan tersebut dinilai tidak etis dan melanggar kearifan lokal yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Kuansing.

“Saya orang Medan, Sumatera Utara, dan baru pertama kali datang ke daerah Kuansing. Saya tidak tahu bahwa tindakan membawa minuman keras di atas perahu jalur dilarang. Saya dari kampung, kalau ada kesalahan, saya meminta maaf sebesar-besarnya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua PBK Kuansing Hardianto Manik. Ia menegaskan posisi organisasi yang dipimpinnya untuk ikut bertanggung jawab secara moral atas ketidaknyamanan yang terjadi.

Atas nama keluarga besar masyarakat Batak di Kuansing, Hardianto menyampaikan permohonan maaf secara khusus kepada para pemangku adat (ninik mamak), tokoh masyarakat, serta seluruh warga  Kuansing.

“Ada saudara kami yang baru kali ini datang melihat Pacu Jalur dan karena kebanggaannya meminta naik ke perahu,” jelas Hardianto Manik.

Hardianto menegaskan pentingnya prinsip di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung bagi siapa saja yang berkunjung atau menetap di Kuantan Singingi.

“Untuk hari-hari berikutnya, kejadian seperti ini kami pastikan tidak akan terulang kembali,” katanya.

“Saya akan mengontrol seluruh warga maupun masyarakat Batak yang datang dari luar daerah agar selalu menghormati adat istiadat setempat,” tegas Hardianto.(Cil)

 

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *