KUANSING (pekanbarupos.co) — Dinas Perkebunan dan Peternakan Kuansing terus melakukan berbagai upaya dalam menangani wabah penyakit Septicaemia Epizootia (SE) atau penyakit ngorok yang menyerang kerbau di kabupaten itu.
Hingga saat ini terdata sudah ada ratusan ternak yang mati akibat terjangkit penyakit itu.
“Data ternak yang mati sejauh ini masih sama. Yakni 65 ekor mati dan 99 ekor potong paksa,” kata Plt Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, Andriyama Putra SHut MSi kepada Pekanbaru Pos kemarin.
Ia menyebutkan, jika pihaknya telah melakukan berbagai upaya dalam menekan penyebaran wabah SE itu, salah satunya dengan memaksimalkan penyuntikan vaksin terhadap ternak.
“Mengantisipasi penyebaran penyakit ngorok itu, kita memaksimalkan penyuntikan vaksin bagi hewan jenis sapi dan kerbau yang berada di titik tertentu,” katanya.
Vaksinasi katanya, diperuntukkan bagi ternak yang sehat atau belum terinfeksi bakteri penyakit ngorok. Tujuannya agar penyakit tersebut tidak menyebar ke ternak lainnya.
“Kalau kerbau yang sakit tak bisa divaksin. Tapi diobati atau diberi obat,” katanya.
Pemilik ternak tidak dipungut biaya apapun dalam setiap penyuntikan vaksin. Mereka hanya diminta agar tetap memantau hewan ternak apabila ditemukan tanda-tanda terjangkit penyakit ngorok.
“Lebih baik ternak dikandangkan saja. Agar tak terinfeksi,” ujarnya.
Kata dia, wilayah Kecamatan Kuantan Tengah tepatnya di Desa Kopah serta areal kebun sawit PT Duta Palma menjadi fokus utama penyuntikan vaksin. Sebab jarak wilayah tersebut cukup dekat jika dilihat dari bahaya penyebaran virus itu.
“Stok obat vaksin kita ada 2000 saat ini. Jika masih kurang kita minta lagi ke provinsi,” lanjutnya.
Saat ini lanjutnya, anggota di lapangan sudah diarahkan untuk bekerja maksimal dalam melakukan penyuntikan vaksinasi. Ia berharap vaksinasi bisa menekan penyebaran penyakit ngorok pada ternak.
“Itu upaya kita sampai saat ini. Kita berharap vaksinasi bisa menekan penyebaran penyakit ini,” jelasnya.(cil)
Pekanbaru Pos Riau