Kamis , 20 Agustus 2026
Drs. Alzaber, M.Si dan Sindi Amelia, M.Pd Membawa Buku Perangkat Pembelajaran untuk Diberikan kepada Seluruh Peserta

FKIP UIR Gelar Workshop Manfaat GeoGebra pada Modul Ajar Geometri di SMP Pelalawan

Pelalawan (pekanbarupos.co)– Dilatarbelakangi oleh penyempurnaan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka serta maraknya penggunaan teknologi di sektor pendidikan.

Kegiatan ini dilaksanakan khusus kepada 42 guru matematika yang tergabung di bawah naungan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMP Rayon II Kabupaten Pelalawan sebagai mitra aktif dari prodi Pendidikan Matematika FKIP UIR.

Frimadona, S.Pd, ketua MGMP Matematika SMP Rayon II Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau, menyampaikan bahwa “guru matematika SMP di Rayon II Kabupaten Pelalawan belum pernah memanfaatkan GeoGebra sebagai media dalam tatanan pembelajaran.

Disamping itu Kepala Sekolah SMP N Sorek Dua, H. Awaluddin, S.Pd mengungkapkan SMP di Rayon II Kabupaten Pelalawan ini belum menerapkan Kurikulum Merdeka yang dicetuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Tim PkM yang diketuai oleh Sindi Amelia, M.Pd dengan anggota Drs. Alzaber, M.Si dan Shalawati, S.Pd.I., M.Tesol memberikan pencerahan kepada peserta seputar transformasi kurikulum sekolah hingga sejarah pemanfaatan teknologi pada kurikulum di Indonesia.

Selain itu, tim juga menyampaikan bahwa pada Kurikulum Merdeka, terdapat beberapa perubahan istilah ataupun konsep dari perangkat pembelajaran. Istilah kelompok peserta didik juga mengalami perubahan. Jenjang SD hingga SMA dibagi kedalam 6 Fase saja yakni Fase A (kelas 1-2), Fase B (kelas 3-4), Fase C (kelas 5-6), Fase D (kelas 7-9), Fase E (kelas 10-11), Fase F (kelas 12).

Lebih lanjut, tim PkM juga menyajikan materi seputar pemanfaatan GeoGebra untuk belajar matematika khususnya untuk elemen Geometri dan Pengukuran. Tim pengabdian memberikan handbook “Perangkat Pembelajaran Geometri berbantuan GeoGebra yang menggunakan Kurikulum Merdeka” kepada seluruh peserta kegiatan. Dengan harapan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat lebih bermakna dan berdampak positif untuk para guru.

Namun demikian, antusias para peserta pengabdian sangat baik. Terbukti bahwa beberapa diantara mereka tetap mencoba membuat modul ajar meskipun kegiatan pengabdian telah berakhir. Peserta tetap menghubungi tim untuk meminta dibimbing terkait modul ajar yang telah mereka rancang.

Sindi juga menambahkan, Perangkat pembelajaran yang diberikan kepada guru menjadi contoh dari penggunaan Kurikulum Merdeka yang dikombinasikan dengan penggunaan teknologi, semoga dapat menjadi model perangkat yang mudah ditiru bagi guru untuk menjawab tuntutan pemerintah dan tantangan era digital. (rls)

About Linda Agustini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *