UKUI (pekanbarupos.co) — Data penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) bermasalah. Salah satu ibu rumah tangga menjadi korbannya. Ia adalah Euis Kartini. Penjual jajanan sekolah di kantin SMP 05 Desa Bukit Gajah Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan, Riau ini gagal menerima dana bantuan pemerintah karena data sertifikasi guru siluman yang muncul.
Pasalnya, alih-alih nama wanita 48 tahun dengan alamat Suka Maju Desa Bukit Gajah Ukui ini terdaftar sebagai guru penerima tunjangan sertifikasi. Faktanya, Bu Euis adalah ibu rumah tangga dan penjual jajanan sekolah di SMPN 05 Ukui. Namanya sebagai penerima dana PKH tidak muncul lagi.
‘’Selama ini mana ada menerima dana sertifikasi guru. Lah, orangnya hanya sebagai berjualan di kantin sekolah. Alih-alih datanya sebagai penerima tunjangan sertifikasi. Kan, data pada KK jelas ibu rumah tangga, kalau pun jualan di kantin itu membantu meringankan ekonomi keluarga saja, bukan guru yang menerima tunjangan sertifikasi,’’papar Rudi, yang tak lain adalah suami Euis Kartini kepada media ini, Rabu (11/10/2023).
‘’Kami sampaikan sekali lagi, Bu Euis tidak pernah menerima tunjangan sertifikasi guru. Datanya mengada-ada,’’imbuh Rudi sambil menyebutkan pada tahun 2022 lalu Bu Euis masih menerima bantuan PKH. Namun, data itu berubah sejak Januari-Februari 2023 hingga saat ini, karena data baru muncul terdaftar sebagai penerima tunjangan sertifikasi. Dengan memiliki pekerjaan ini dicatat tidak boleh menerima Bansos (honor daerah TK II Kab/Kota).
‘’Data yang baru muncul ini tidak benar,’’ujarnya lagi. Kondisi ini lanjutnya memang sangat miris. Karena Ibu Euis yang sebelumnya penerima bantuan PKH, kini sudah terputus. ‘’Hal ini dikarenakan nama Bu Euis tersebut terkoneksi di data penerima PKH adalah sebagai Penerima Tunjangan Sertifikasi guru. Data ini sangat merugikan Bu Euis,’’paparnya.
Betapa tidak lanjut dia, Bu Euis yang kesehariannya pekerjaannya adalah sebagai penjual di kantin sekolah smpn 05 di Desa Bukit Gajah Kecamtan Ukui. ‘’Ini berdampak pada isteri saya, sampai saat merasa ketakutan dan trauma di karenakan takut sebagai penerima tunjangan sertifikasi guru padahal tidak demikian,’’ungkap Rudi.
Berbagai langkah untuk mencari jalan keluarnya sudah dilakukan imbuh Rudi. Hanya saja belum mendapatkan hasil yang positif, baik dari desa maupun dari pendamping PKH Kecamatan Ukui.
‘’Kamis sudah berusaha mencarikan solusinya. Selain ke desa juga ke pendamping PKH Kecamatan Ukui yakni Pak Ishak. Namun, setalah dipertanyakan kepada pendamping PKH, beliau mengaku bukan sebagai sebagai penginput data hanya sebagai validasi saja,’’jelas Rudi.
Tak hanya ke pendamping PKH Kecamatan Ukui, Rudi yang tak puas dengan kondisi tersebut juga berusaha minta penjelasan ke pihak Dinas Kesejahtraan Sosial Kabupaten Pelalawan. ‘’Setelah komunikasi dengan Kadis Kessos Pak Romel hanya mendapatkan jawaban bahwa bapak tidak berhak lagi menerima bantuan,’’bebernya.
Selaku kepala keluarga, Rudi pun berharap agar Pemkab Pelalawan melalui Dinas Kessos mencari jalan keluar yang terbaik untuk Bu Euis Kartini yang tidak lagi menerima dana PKH. Malah terdata sebagai penerima tunjangan sertifikasi guru.
‘’Karena ini adalah beban mental bagi Bu Euis dan berharap Diskessos Kabupaten Pelalawan mengkros cek kembali khususnya data penerima PKH,’’harapnya.
Diakui Rudi, berdasarkan kreteria, di Desa Bukit Gajah khususnya penyaluran bantuan PKH ini dinilai banyak yang tidak tepat sasaran. Apalagi, didata penerima PKH sebagian ada yang punya kebun atau ladang dengan penghasilan rata-rata di atas UMP dan UMK.
‘’Yang layak dapat bantuan, tapi tidak mendapatkan bantuan PKH. Sedangkan yang punya kebun saiwit dapat bantuan PKH dan bantuan yang lainnya,’’pungkasnya.(amr)
Pekanbaru Pos Riau