Jumat , 3 Juli 2026
Ketua DPRD Pelalawan Baharudin, MH saat Bincang Santai Tapi Asyik bersama Ketua PA Pangkalan Kerinci Hermanto SHI ME.

Tinggi Perkara Cerai di Pelalawan, Judi Online Salah Satu Penyebab

PANGKALANKERINCI (pekanbarupos.co) — Tingkat perceraian (cerai gugat) dan cerai talak tercatat angka yang cukup tinggi terjadi di Kabupaten Pelalawan. Betapa tidak, dari 800 perkara yang masuk, 80 persennya adalah kasus isteri menggugat cerai suaminya. Banyak faktor penyebab. Selain masalah ekonomi, sangat fenomenal disebabkan game online.

Pasangan yang bercerai, tak hanya warga biasa, tapi juga karyawan dan kalangan pegawai (ASN) di lingkup Pemkab Pelalawan.

Hal ini terungkap dari Bicara Santai Tapi Asyik (Bisik) Ketua DPRD Pelalawan Baharuddin,MH dan Ketua Pengadilan Agama (PA) Pangkalan Kerinci Hermanto, S.HI,ME.

‘’Ya, dari Bisik dengan Ketua PA Pangkalan Kerinci belum lama ini memang menunjukkan angka perceraian cukup tinggi terjadi di Kabupaten Pelalawan. Seperti disebutkan Pak Ketua PA, salah satu penyebab perceraian yang unik itu karena game online,’’kata Baharuddin, MH, Ketua DPRD Kabupaten Pelalawan kepada media ini, Rabu (11/10/2023).

Tak tanggung-tanggung jelas Baharudin, pada kesempatan menghadiri Podcast di studio mini PA Pangkalan Kerinci di Desa Makmur Kecamatann Pangkalan Kerinci terungkap data yang cukup mengejutkan. ‘’Bayangkan saja, masih menurut data Ketua PA Pangkalan Kerinci, Pak Hermanto, dari 800 an perkara yang ditangani PA dalam satu tahunnya 80 persen atau sekitar 650-700 kasus diantaranya adalah gugat cerai. Artinya, isteri menggugat cerai suaminya sangat tinggi,’’ungkap Bahar.

‘’Yang uniknya itu, diantara faktor perceraian antara pasangan ini, sang suami kecanduan game online. Bisa jadi, judi online atau lainnya. Kan, di alat komunikasi canggih saat ini berbagai fasilitas ada. Kalau tidak pandai mengendalikannya tentu berdampak buruk. Jadi, pandai-pandailah,’’kata Ketua DPRD Pelalawan lagi.

Menurut politisi Golkar ini, dirinya memang sengaja mempertanyakan masalah ini pada podcast yang bertajuk Perjuangan Aspirasi masyarakat di Kantor Pengadilan Agama itu. Hal ini supaya masyarakat tahu dan bisa memetik pelajaran dari kasus perceraian yang terjadi.

‘’Apalagi dari data yang disampaikan Ketua PA itu, perkara perceraian ini tak hanya masyarakat biasa, tapi juga ASN termasuk honorer di lingkungan Pemkab Pelalawan. Tentu hal ini menjadi catatan tersendiri bagi DPRD Pelalawan bagaimana hal ini bisa diminimalisir dengan menggandeng bagian pembinaan kepegawaian,’’ujar Baharudin.

‘’Bayangkan saja, dalam satu tahun ada 650-700 janda di Kabupaten Pelalawan,’’imbuhnya sambil keheranan sambil menyebutkan usia pasangan yang berperkara gugat cerai atau talak itu ring usianya berkisar 30 tahun ke bawah.

‘’Sampai-sampai di istilahkan ‘JUS’ (Janda Usia Subur) oleh Pak Ketua PA saat kami bincang-bincang pada podcast itu. Masih muda, anak masih satu dua orang. Memang penyebabnya sekali lagi banyak problematikanya. Tapi salah satu penyumbang yang selalu menjadi catatan saya adalah game online,’’beber Bahar.

Karena game oline juga lanjutnya Bahar menyetir penjelasan Ketua PA Pangkalan Kerinci, Hermanto, ekonomi jadi berantakkan karena suami tidak kenal siang dan malam lagi, karena banyak menghabiskan waktu bersama hape androidnya. Siang kadang banyak tidurnya, kalau ditegur marah. ‘’Ya, dengan begitu muncullah KDRT, karena tak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi. Ujung-ujungnya isteri minta cerai,’’kenang Bahar sambil menambahkan dalam Bisik Podcat itu dikethaui ada perkara perceraian pada pasangan usia diatas 50 tahun, namun sedikit sekali jumlahnya.

Mantan aktivis Himpunan Pelajar Mahasiswa Pelalawan ini menambahkan jadi merunut data yang disebutkan pihak PA Pangkalan Kerinci, game onlen atau judi onlen memang sangat berbahaya. Tak hanya untuk kalangan pelajar begitu menyeret dalam rumah tangga. ‘’Ini perlu menjadi perhatian semua pihak. Bagaimana hal ini bisa ditekan bersama.

Terutama di kalangan ASN yang notabene secara ekonomi cukup mapan, namun karena faktor game online atau wanita idaman lain hingga menjadi berantakan rumah tangga. Jadi, medsos juga menjadi salah satu penyumbang perceraian,’’ kata Ketua DPRD Pelalawan.

Ketua PA Pangkalan Kerinci lanjut Ketua DPRD Pelalawan membandingkan kehidupan para orang tua dulu dibandingkan sekarang. ‘’Kalau tingkat ekonomi tentu terbilang lebih mapan generasi seterusnya. Tapi berbalik angka, justru saat ini kasus perceraian meningkat. Memang tak dipungkiri bagian dari takdir. Namun kita juga harus bijak menyikapinya. Apalagi jika perceraian itu disebabkan game onlen,’’paparnya.

Sampai-sampai Ketua PA lanjut Bahar, terkhusus fenomena game online ini merupakan kasus yang baru, dulu tidak terpikirkan oleh pihak pengadilan bahwa boomingnya game online ini bisa menjadi penyumbang penyebab perceraian, dan faktanya ini terjadi di Kabupaten Pelalawan dan begitulah faktanya yang sudah masuk perkaranya ke Pengadilan Agama.

Meski tidak rinci, namun Ketua DPRD Pelalawan juga merangkum dari podcast yang menghadirkan dirinya itu terkait perceraian di kalangan ASN dan honorer merasa perlu didada data perlu diambil langkah-langkah antisipasi.

‘’Menurut Ketua PA, pegawai kita PNS baik honorer banyak melakukan perceraian, guru-guru Pemda termasuk pegawai RAPP juga banyak. Padahal secara ekonomi sudah mapan tapi memang itu ya karena pergaulan. Kadang dia PNS ternyata banyak hutang, salah satunya karena game online yang nggak jelas dan orang datang ke rumah,’’pungkasnya.(amr)

About Linda Agustini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *