Warga: Harga Tak Wajar, Mencapai Rp40 Hingga Rp70 Ribu
INHU (pekanbarupos.co) — Kepala dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Ergusfian mengatakan, sulitnya LPG 3 kg an (gas melon) di Kabupaten Inhu akibat tersendatnya pendistribusian dari depot Pertamina ke Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE).
Hal itu disampaikan Ergusfian ketika diminta tanggapan terkait kelangkaan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) disejumlah Kecamatan yang setinggi langit hingga menyentuh Rp40 hingga Rp70 ribu/tabung. “Faktor yang pertama karena pasokan dari depot Pertamina menuju SPPBE tersendat akibat banjir,” ungkap Ergusfian kepada awak media ini melalui sambungan selulernya, Ahad (21/1/2024).
Hal itu, kata dia, biasanya pasokan dari depot Pertamina di Dumai, namun karena banjir yang merendam jalan di Pelalawan, pasokan dialihkan dari depot Pertamina di Padang. “Biasanya hanya satu hari, sekarang hingga tiga hari baru masuk ke SPPBE,” jelasnya.
Terkait melambungnya harga gas LPG yang disubsidi pemerintah ini, pihaknya akan memanggil para pengelola pangkalan LPG hingga agennya. “Sebagian sudah kami panggil. Dan kami juga akan memantau secara langsung dilapangan. Kami juga akan memantau dan memastikan harga gas elpiji sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan,” ucapnya.
Dirinya juga menghimbau para agen yang melayani pelaku usaha (warung) agar memberikan pemahaman kepada mereka sehingga tidak melakukan azaz pemanfaatan adanya keterlambatan pasokan LPG dengan menjual diatas HET. “Selain itu, mari bersama sama kita awasi. Jika ada pangkalan ataupun warung yang memainkan harga LPG segera dilaporkan,” pinta Ergusfian.
Sebelumnya, sejumlah masyarakat, terutama Ibu Rumah Tangga (IRT) di Kabupaten Inhu mengeluhkan dengan kelangkaan gas melon. Misalnya saja IRT yang berdomisili di Kecamatan Batang Cenaku, mereka merasa sebal lantaran selain sulit mencari LPG, diduga ada oknum oknum yang melakukan azaz pemanfaatan dengan menjual harga LPG tak sewajarnya. “Kemarin sampai membeli ke Kilan Rp70 ribu,” kata warga.
Warga lainnya juga mengungkapkan, dirinya juga membeli LPG dengan harga Rp 40 ribu disalah satu warung di Desanya, padahal pekan kemarin harga masih Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. “Ini namanya ambil kesempatan dalam kesempitan, ” ungkap warga menggerutu.
Sementara itu, salah seorang pengusaha (Agen) LPG inisial H yang berhasil dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sudah beberapa hari ini hanya melayani konsumen (masyarakat) dengan harga standar. “Biasanya yang membuat harga tinggi itu para pemilik warung,” ucap dia sembari mengaku sudah tidak melayani warung sejak LPG mengalami kelangkaan karena tersendatnya pasokan.(har)
Pekanbaru Pos Riau