Cooling System Ala Kapolres Kuansing
ARMISMAN, seorang pria paruh baya yang usianya mendekati satu abad ini tetap bersemangat. Meski sudah renta, penyakitan dan kaki kanannya buntung, tak menghalanginya untuk menyalurkan hak suaranya di Pemilu 2024, Rabu (14/2).
Laporan Muhammad Syaifullah, Kuansing
Kakek tua renta ini hidup sebatang kara di rumahnya yang semi permanen di Desa Sawah Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Anaknya ada, tapi tinggal tidak serumah dengannya.
Kulitnya mengeriput, tangannya tak lagi kuat menggenggam, ditambah kaki kanannya buntung, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Untuk berjalan pun, ia perlu ditopang tongkat ketiak.
Sekedar berjalan ke depan rumah pun pria lanjut usia (lansia) itu sulit. Perlu usaha keras. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia pun harus bergantung belas kasih tetangga. Tak satu dua orang yang mengaku kasihan terhadapnya.
“Kasihan kakek itu, sudah tua, disabilitas hidup sebatang kara lagi,” kata Iwan salah satu warga Kota Telukkuantan.Pagi yang mendung itu, ia mengenakan peci putih dan celana lewis warna abu-abu-abu serta baju kemeja bermotif kotak-kotak bersiap pergi ke TPS 003 Desa Sawah.
Pria tua renta yang mengaku berusia 78 tahun ini termasuk pemilih penyandang disabilitas. Meski begitu, ia begitu semangat ke TPS untuk menyalurkan hak suaranya. Semangatnya patut diacungi jempol.
“Usia saya sudah 78 tahun,” katanya kepada wartawan, Rabu (14/2). Kakek berkulit keriput ini bercerita pengalamannya. Mulai dari bagaimana mencukupi kebutuhannya sehari-hari, seperti makan dan minum hingga keinginannya pergi ke TPS.
“Tinggal surang (sendiri,red) di rumah. Untuk makan, banyak tetangga bantu,” ucapnya. Pria lanjut usia ini merupakan satu dari 997 pemilih penyandang disabilitas yang akan menyalurkan hak suaranya di Pemilu 2024 di Kabupaten Kuantan Singingi.
Jam tangan sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Sinar matahari tak kunjung tampak, masih tertutup mendung. Hujan pun sesekali turun membasahi tanah Kota Telukkuantan.
Kondisi itu tak menyurutkan niat Armisman pergi ke TPS. Namun keterbatasannya, membuatnya harus berfikir dua kali untuk datang ke TPS seorang diri. Apalagi cuaca tidak bersahabat. Hujan sesekali turun.
Ia hanya bisa duduk termenung di lantai teras rumahnya. Kemeja bermotif kotak-kotak dan celana pendek lewis warna abu-abu pun tak luput dari tempias air hujan.
Pria tua itu hanya duduk seorang diri di depan rumah. Disamping kirinya tersandar tongkat ketiak, alat untuk membantunya berjalan. Ia sesekali melihat warga yang lewat didepan rumah. Di dalam benaknya, ia berharap ada tetangga yang bisa mengantarnya ke TPS. Tapi angan itu tak kunjung datang.
Setelah beberapa saat menunggu, melintas anggota Bhabinkamtibmas yang akan melakukan pemantauan Pemilu 2024. Melihat lansia duduk sendirian, polisi itu pun menghentikan motornya.
Polisi itu pun kemudian menghampiri Armisman yang masih duduk di lantai teras rumah. Polisi itu pun bertanya kepada sang kakek,” apa yang bisa dibantu kek?,” tanya polisi. Armisman pun lantas menyampaikan keinginannya kepada petugas Bhabinkamtibmas yang menghampirinya itu. Ia berniat pergi ke TPS.
“Nak (Saya mau,red) ke TPS, bisa tolong antar,” pintanya. Dijawab anggota Bhabinkamtibmas,” Bisa kek, tunggu sebentar,” kata Pak Bhabin. Tubuhnya yang tua renta ditambah penyandang disabilitas, maka Armisman tak memungkinkan dibonceng dengan motor. Sehingga anggota Polri itu pun melapor ke Kapolres Kuansing AKBP Pangucap Priyo Soegito.
Kebetulan saat itu, Kapolres dan Forkopimda sedang melakukan peninjauan pemilihan di Lapas Kelas II B Telukkuantan. Tak jauh, jaraknya dengan rumah Armisman hanya 1 kilometer.
Mendapat informasi itu, perwira melati dua di pundak itu pun tanpa berfikir panjang langsung meluncur ke rumah Armisman di Desa Sawah. Hanya perlu lima menit dari Lapas Kelas II B Telukkuantan.
Sesampainya di rumah Armisman, Kapolres langsung mengutarakan niatnya untuk menjemputnya pergi ke TPS menggunakan kursi roda yang disediakan ambulans Dokkes Polres Kuansing. “Bapak saya bantu ke TPS pakai kursi roda ya?,” tanya Pangucap. Langsung di jawab Armisman,” iya pak, terima kasih banyak pak telah membantu”.
Kemudian Kapolres AKBP Pangucap dibantu personel memapah Armisman duduk di kursi roda. Setelah itu, Kapolres mendorong Armisman ke TPS 003 Desa Sawah yang jaraknya hanya 300 meter dari rumahnya.
Kapolres bersama Armisman serta petugas lainnya harus menembus rintik hujan untuk sampai ke TPS 003 Desa Sawah. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai ke TPS.
Terima Kasih Armisman ke Pak Polisi
Suasana di TPS 003 Desa Sawah tampak ramai. Belasan kursi pemilih yang tertata rapi berada di luar TPS, dipenuhi warga yang antre untuk memilih. Meski kondisi hujan, ternyata tidak mempengaruhi warga menggunakan hak suaranya di Pemilu 2024.
Pagi itu sekira pukul 10.30 WIB, suasana di TPS 003 Desa Sawah terlihat lebih ramai. Selain warga yang mau memilih, ternyata unsur Forkopimda dari KPU, Bawaslu dan Polri melakukan peninjauan di TPS tersebut.
Petugas KPPS pun tampak hilir mudik mengatur para pemilih dan mempersilakannya duduk sesuai urutan. Untuk mempermudah saat pemilihan, para pemilih akan dipanggil sesuai antrean pendaftaran.
Pemilih yang dipanggil petugas KPPS diberi lima surat suara dan dipersilahkan menggunakan hak pilihnya di bilik suara. Satu pengawas pemilu tampak bekerja ekstra dan memberi arahan agar petugas KPPS tidak terlibat terlalu jauh di bilik suara.
Saat semua orang sibuk memilih di TPS 003 Desa Sawah, puluhan pasang mata tertuju kepada rombongan Kapolres AKBP Pangucap Priyo Soegito yang mendorong warga disabilitas Armisman di tengah rintik hujan.
Kedatangan Kapolres bersama Armisman disambut Ketua KPU Irwan Yuhendi, Ketua Bawaslu Mardius Adi Saputra serta petugas KPPS TPS 003 Desa Sawah.
Kedua pimpinan penyelenggara Pemilu itu pun turut menyalami Armisman yang duduk di kursi roda yang saat itu didorong Kapolres. Lalu, Ketua KPU pun mempersilahkan Armisman untuk langsung memilih tanpa mengantre. “Tolong bang, bantu. Disabilitas didahulukan ya. Tak usah antre,” pinta Ketua KPU Kuansing Irwan Yuhendi kepada petugas KPPS.
Armisman dibantu personel polisi menyerahkan undangan ke petugas KPPS. Tanpa menunggu lama, ia pun kembali didorong ke bilik suara untuk menyalurkan hak suaranya. Usai mencoblos, Armisman mengaku bahagia bisa menyalurkan hak suaranya di Pemilu 2004. Ketika ditanya wartawan, “Gimana perasaan bapak bisa memilih?,” dijawab Armisman singkat “Senang”.
Ia pun mengaku terkejut sekaligus kaget dengan kedatangan Kapolres AKBP Pangucap. Ia pun tak menyangka akan dijemput oleh seorang Kapolres. “Kaget saya, kok banyak datang polisi ke rumah,” cerita Armisman kepada wartawan di TPS 003 Desa Sawah, Rabu (14/2).
Ternyata katanya, kedatangan Kapolres AKBP Pangucap dan anggota untuk menjemputnya pergi ke TPS 003 di Desa Sawah. Kebetulan lokasi TPS hanya 400 meter dari rumahnya. “Ternyata mau jemput saya pergi ke TPS,” ujarnya.
Ia pun merasa lega dan berterima kasih kepada Kapolres Kuansing AKBP Pangucap Priyo Soegito yang telah membantu sehingga ia bisa menyalurkan haknya di Pemilu 2024.
“Saya berterima kasih dan terharu, pak polisi bisa perhatian kepada saya. Saya senang bisa ikut Pemilu bersama warga lainnya,” kata Armisman begitu tiba di TPS 03 Desa Sawah.
997 Disabilitas dapat Prioritas
Tak hanya Armisman, sebanyak 997 pemilih disabilitas di Kabupaten Kuansing diberi kesempatan yang sama dalam pesta demokrasi Pemilu 2024, Rabu (14/2). Tak hanya diberikan hak yang sama, penyandang disabilitas juga diperlakukan prioritas serta memperoleh akses khusus oleh penyelenggara Pemilu.
“Pemilih disabilitas dapat prioritas saat melakukan pencoblosan di TPS,” kata Ketua KPU Kuansing Irwan Yuhendi didampingi Komisioner Yeni Gusneli kepada Pekanbaru Pos, Jumat (16/2) via telepon selulernya.
Masih kata Irwan, seperti Armisman yang memilih di TPS 003 Desa Sawah Kecamatan Kuantan Tengah. Maka, sesampainya di TPS diperlakukan khusus dari pemilih lain. “Dia (Armisman,red) tak perlu antre seperti pemilih lain,” katanya.
Sementara Komisioner KPU Kuansing Yeni Gusneli memaparkan hak politik penyandang disabilitas diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 Pasal 13 tentang hak politik untuk penyandang disabilitas.
Ia mengatakan saat pemungutan suara, penyandang disabilitas akan lebih diprioritaskan dalam memberikan suara. Penyandang disabilitas diberikan tempat duduk di depan, sekalipun mereka terlambat. “Kita berikan akses khusus atau prioritas untuk pemilih disabilitas,” kata Yeni
Akses khusus ini lanjutnya, diberikan mulai dari kedatangan hingga selesai memberikan hak suara. Mereka diberi kursi atau tempat duduk khusus, yang terletak di baris depan. “Kita beri templet alat bantu pencoblosan untuk pemilih tuna netra serta boleh didampingi saat pencoblosan,” katanya.
Masih kata Yeni, KPU, PPK hingga PPS di tingkat desa telah melakukan identifikasi penyandang disabilitas yang sudah memiliki hak politik untuk mengikuti pemilu tahun 2024. “Mereka (penyandang disabilitas,red) diidentifikasi sesuai hasil coklit pantarlih. Sehingga diketahui jenis dan klasifikasi kaum disabilitas,” katanya.
Ia juga membeberkan klasifikasi penyandang disabilitas yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) di Kabupaten Kuansing.
Diantaranya lanjutnya, disabilitas fisik ada 443 pemilih, disabilitas intelektual 60 pemilih, disabilitas mental 192 pemilih, disabilitas sensorik wicara 145 pemilih, disabilitas sensorik rungu 48 pemilih, dan disabilitas sensorik netra 109 pemilih. “Jumlah totalnya ada 997 penyandang disabilitas di Kuansing,” lanjutnya.
Sesuai ketentuan hukum yang berlaku lanjutnya, maka pemilih penyandang disabilitas memiliki perhatian khusus dengan dipastikan pemenuhan hak-hak politik oleh penyelenggara pemilu. “Kita berikan kemudahan akses partisipasi politik kaum disabilitas pada pemilu 2024,” katanya.
Aksi Spontan Bukan Pencitraan
Berita terkait Kapolres Kuansing AKBP Pangucap Priyo Soegito mendorong pemilih disabilitas ke TPS mendadak viral di media. Puluhan media tak ketinggalan mengulas aksi humanis perwira menengah itu.
Saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (16/2), Pekanbaru Pos dan tiga wartawan Riau Pos Group disambut hangat oleh perwira melati dua di pundak itu.
Bahkan sempat melontarkan candaan kepada Pekanbaru Pos yang terakhir masuk ke ruangan,” Ya terakhir ini siapa ya,” canda Kapolres sambil tersenyum kepada Pekanbaru Pos. Proses diskusi dan wawancara pun berjalan santai. Tidak tegang meski di ruang orang nomor satu di Polres Kuansing. Penuh canda dan tawa. Lepas tanpa beban.
“Ayo silahkan, makanan dan minumannya dicicipi. Mau kopi atau kopi susu bang?,” tanya Kapolres kepada wartawan, “Tak usah ndan!” jawab salah satu wartawan.
Saat ditanya aksinya mendorong Armisman viral, Kapolres menanggapi santai. Ia mengaku aksinya itu merupakan reaksi spontanitas. Ia pun membantah bahwa aksi humanisnya itu pencitraan. “Itu aksi spontanitas saja, bukan pencitraan lho,” ujar Kapolres Kuansing AKBP Pangucap Priyo Soegito kepada Pekanbaru Pos, kemarin.
Alumni Akpol 2003 ini bercerita bahwa saat itu ia meninjau TPS 003 Desa Sawah bersama Ketua KPU Irwan Yuhendi dan Ketua Bawaslu Mardius Adi Saputra. Seketika itu, ia dapat informasi ada pemilih disabilitas yang belum bisa menyalurkan haknya.
“Ceritanya itu, saya dapat info dari Bhabinkamtibmas kita, adanya masyarakat disabilitas belum memilih,” ucapnya. Mendengar informasi itu lanjut Kapolres, pihaknya bersama-sama anggota Polri lainnya langsung berinisiatif melakukan penjemputan ke rumahnya.
“Ya kita jemput saja supaya beliau, dapat hak yang sama seperti warga yang lain,” cerita Kapolres. Ternyata, sikap humanis ayah tiga orang anak itu bukan kali pertama. Bahkan tergolong sering. Alhasil, banyak menjadi perbincangan masyarakat lantaran aksi-aksinya yang terbilang langka.
Suami Adinda Martharindra ini juga disebut unik dan humanis oleh masyarakat. Karena ia biasa dekat dengan masyarakat kelas bawah yang menjalani hidup dalam keterbatasan. Sosok pria kelahiran Bekasi 42 tahun silam itu juga dikenal dekat dengan wartawan di Kuansing. Bahkan, ia tak segan datang ke Kantor PWI Kuansing hanya sekedar silaturahmi.
“Alhamdulillah sudah 20 tahun dinas, saya termasuk yang menganggap pers adalah rekan saya,” kata Kapolres.
Seorang anggota PWI Kuansing, Untung Palelo menilai bahwa Kapolres AKBP Pangucap Priyo Soegito sangat humanis dan akrab dengan para jurnalis yang bekerja di Kuansing. “Sambutannya baik dan humoris. Enak diajak ngobrol. Jarang Kapolres seperti ini,” ungkap Untung.
Simpati juga ditunjukkan Marsudi warga Kelurahan Sinambek. Ia mengungkapkan Kapolres Kuansing AKBP Pangucap cukup dekat dengan masyarakat. Selain humanis, juga humoris
“Pak Kapolres ini enak orangnya, humble. Diajak foto mau, ngobrol pun enak,” kata Marsudi seorang biker kepada Pekanbaru Pos, saat deklarasi Pemilu Tertib Lalu Lintas di Lapangan Limuno beberapa waktu lalu.
Hal senada disampaikan Kasubag Humas Polres Kuansing Iptu Aman Sembiring. Ia mengaku Kapolres selalu memberikan support kepada personil sehingga pelaksanaan tugas fungsi masing-masing benar-benar dapat berjalan dengan baik.
“Beliau (Kapolres,red) selalu mengedepankan sikap persaudaraan. Sehingga kami bekerja tidak muncul beban takut salah. Satu lagi, sangat mudah koordinasi, namun tetap menjunjung tinggi hirarki,” tuturnya.
Menanggapi penilaian masyarakat itu, Kapolres mengatakan semua itu kalau dilakukan dengan ikhlas pasti bernilai. Baik bagi pribadi orang yang melakukan maupun orang lain. “Yang penting ikhlas dan tulus. Saya biasa hidup susah dulu, jadi sudah terbiasa bergaul dengan masyarakat biasa,” ungkapnya.
Bapak tiga anak itu berusaha keras mengembalikan kepercayaan rakyat kepada Polri dengan melaksanakan tiga tugas utama, yakni sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.
Penekanan yang selalu dilakukannya adalah mengajak seluruh anggota Polri sebagai teladan dan panutan masyarakat baik saat berdinas maupun saat sedang tidak bertugas. “Kita itu harus menempatkan diri sebagai seorang bapak, teman, rekan kerja, tokoh serta menjadi suri tauladan yang baik,” ungkap Kapolres.
Pria lulusan Akpol 2003 telah memimpin Polres Kuansing hampir satu tahun telah benar-benar merubah pandangan masyarakat terhadap kinerja Polri terdapat berbagai penilaian negatif dari masyarakat.
“Kalau kita dekat dengan masyarakat, paling tidak kita tau apa keluhan mereka terkait institusi, sehingga kita bisa berikan solusi,” katanya.(***)
Pekanbaru Pos Riau