PANGKALANKERINCI (pekanbarupos.co) — Namanya Jalan Guru. Berada hampir persis di tengah ibu kota Kabupaten Pelalawan, Pangkalan Kerinci. Jauh sebelum Kabupaten Pelalawan terbentuk, jalan ini sudah ada. Panjangnya sekitar 200 meter dan bermuara langsung ke Jalan Lintas Timur Sumatera Pangkalan Kerinci. Saat ini, kondisinya berlubang dan terendam air. Buruk dan menyulitkan warga yang melintasinya.
‘’Kalau usia jalan ini yo lebih 30 tahun lah. Jauh belum Kabupaten Pelalawan ini terbentuk Jalan Guru ini sudah ada sekitar tahun 1990-1991. Namun, kondisi saat ini boleh dikatakan hancur lah,’’ungkap H M Tahar, Ketua RT 001 RW 009 Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota, Kabupaten Pelalawan, Riau, Jumat (12/7/2024).
M Tahar yang lebih akrab disapa Wak Tahar ini adalah salah seorang tokoh pendiri Kabupaten Pelalawan. Bahkan, beliau ini merupakan Sekretaris Pendiri Kabupaten Pelalawan bersama sejumlah tokoh yang lainnya hingga terbentuk Kabupaten Pelalawan Oktober 1999 lalu.
‘’Saya dah tak mau mengusulkan perbaikan jalan ini lagi,’’imbuhnya dengan nada datar. Sepertinya tokoh yang cukup berjasa untuk terbentuk kabupaten ini cukup kecewa. Apalagi, selain ada sekolah di Jalan Guru tersebut juga ada rumah tempat tinggalnya serta rumah keluarganya di jalur tersebut bersama masyarakat lain.
Padahal, lanjut Wak Tahar, jalan yang sangat padat dilewati masyarakat setiap harinya ini, karena diapit dua jalur jalan besar yakni Jalan Lintas Timur dan Jalan Pemda ini memang perlu sentuhan dan campur tangan pemerintah.
‘’Kalau jalan ini ambo yang menyerahkannya (lahan milik beliau,red). Bahkan nama jalan ini ambo yang membagikannya namo Jalan Guru. Karena dulu dan sampai sekarang di belakang jalan ini banyak guru-guru kita di SMAN 1 itu. Mereka tinggal di sini. Makanya nama Jalan Guru. Tapi itulah, kondisi jalan ini terbiar bertahun-tahun,’’bebernya sambil mengaku untuk pengaspalan Jalan Guru pertama sekali memang dilakukan pada saat Pemkab Pelalawan sudah terbentuk.
‘’Jalan ini diaspal sejak 2001 lalu kalau tak silaf ambo,’’ujarnya mengenang sambil menambahkan untuk parit kecil di kiri kanan jalan sebagai saluran air dibuat secara mandiri.
Meski enggan mengusulkan perbaikan Jalan Guru ke Pemkab Pelalawan. Namun pelaku sejarah terbentuknya Kabupaten Pelalawan ini tetap menyampaikan ide konstruktifnya. ‘’Salah satu solusinya badan jalan ditinggikan agar tidak terendam air saat hujan turun. Paling perlu ditinggikan sekitar 30 cm lagi. In syaa Allah sudah aman, karena drainase utama Jalan Pemda sangat mampu menampung limpahan air dari Jalan Lintas Timur,’’paparnya memberi solusi.
Melihat kondisi yang sangat dikeluhkan masyarakat itu, pihak Sekolah HaJe-Q melakukan pembersihan di parit. Meski mengurangi genangan air di dekat pintu masuk sekolah tersebut dan menyisakan lubang jalan yang rusak, namun dititik lainnya genangan air masih ada.
‘’Iya bang belum semua jalur parit ini dibersihkan. Tapi, alhamdulillah untuk genangan di depan jalan masuk ke sekolah kami (HaJe-Q) sudah aman sementara. Meski lubang yang ada di badan jalan tetap ada,’’kata Pj Mudir sekolah HaJe-Q Wahyu Anugerah, kemarin.
Dari pantauan media ini, Jalan Guru yang terhubung langsung dengan Jalan Maharaja Indra (Jalan Lintas Timur,red) dan Jalan Pemda berada di posisi rendah. Selain itu, parit yang dibangun masyarakat secara mandiri lebarnya sekitar 30 centimeter dan tidak mampu menampung debit air. Karena berada di posisi menurun, air limbah masyarakat plus air hujan, membuat jalan ini awet terendam bertahun-tahun. Malah, beberapa titik lubang menganga. Kondisi ini sangat membuat tidak nyaman warga melintas di sana.
Namun, karena akses jalan ini memudahkan masyarakat mencapai Jalan Lintas Timur dan Jalan Pemda serta belokan ‘U Turn’ sehingga meski jalan buruk warga tetap ambil resiko melintas di sana.(amr)
Pekanbaru Pos Riau