Selasa , 14 April 2026

Innalillahi, Terjebak Macet, Pemotor Meninggal di KM 83 Jalan Lintas Timur

Perjalanan Terakhir Seorang Ayah

PANGKALANKERINCI(pekanbarupos.co)–
Ajal, jodoh, dan rezeki merupakan takdir yang sudah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takdir ini telah tertulis di Lauhul Mahfudz jauh sebelum manusia, bahkan bumi dan seisinya diciptakan dan tak pernah berubah.

Begitu pula dengan kehidupan Hariyanto, seorang pria sederhana berusia 55 tahun, berakhir dengan tragis di tengah banjir yang menggenangi KM 83 Jalan Lintas Timur, Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Senin, 27 Januari 2025, menjadi hari terakhir baginya, di tempat yang bahkan bukan rumah, melainkan jalan penuh genangan dan antrean panjang kendaraan. Seorang ayah, suami, dan pekerja keras ini menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan pulang menuju keluarganya di Pekanbaru.

Hariyanto berasal dari Bangka Belitung, namun selama bertahun-tahun menetap di Pekanbaru bersama istri tercintanya, Nurhayati, dan seorang putri yang sedang menempuh pendidikan di Medan, Sumatera Utara.

Hari-harinya banyak dihabiskan bekerja di kebun di Kempas Jaya, Kabupaten Indragiri Hilir. Demi keluarganya, ia menempuh hidup yang penuh perjuangan. Setiap dua minggu sekali, ia pulang ke Pekanbaru untuk bertemu keluarganya dan menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, mengingat ia memiliki riwayat penyakit asma, asam lambung, dan jantung.

Namun, kali ini perjalanannya berbeda. Banjir yang melanda wilayah KM 83 akibat luapan Sungai Kampar membuatnya terjebak di tengah kemacetan panjang. Seperti banyak pengendara motor lainnya, Hariyanto memilih untuk nekat menerobos banjir demi melanjutkan perjalanan.

Tapi, tubuhnya tak lagi mampu menanggung beban perjalanan panjang, kondisi jalan yang berat, serta kelelahan yang mendera. Ia terjatuh dari motornya di tengah antrean kendaraan. Saat itu, Hariyanto sudah tidak sadarkan diri.

Tim Satgas Banjir yang berada di lokasi langsung mengevakuasi Hariyanto. Meski berbagai pihak, termasuk kepolisian, BPBD, Tagana, dan lainnya berusaha memberikan pertolongan, nyawa Hariyanto tidak dapat diselamatkan. Ia dinyatakan meninggal dunia di lokasi sekitar pukul 13.30 WIB. Tim medis di RSUD Selasih hanya bisa mengonfirmasi bahwa ia telah tiada. Dalam tas pinggangnya, ditemukan obat-obatan yang memperkuat dugaan bahwa kondisi kesehatannya berperan dalam tragedi ini.

Ambulans Rumah Relawan Dhuafa (RRD) Pelalawan membawa jasad Hariyanto ke kediamannya di Jalan Muslimin Gang Santri, Kelurahan Sidomulyo Timur, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Pukul 16.00 WIB, ia tiba di rumahnya, disambut istri dan keluarga yang tampak tegar meski jelas dirundung duka. Nurhayati, sang istri, menerima jenazah suaminya dengan penuh ketabahan, meski kehilangan orang yang selama ini menjadi tumpuan keluarga.

Dedi, pengelola RRD Pelalawan yang juga anggota Satgas Banjir, menceritakan bahwa Hariyanto adalah seorang pria Tionghoa yang telah memeluk Islam. Hidupnya penuh pengabdian pada keluarga, dan meski dalam kondisi kesehatan yang rapuh, ia tetap berjuang untuk keluarganya. “Beliau seorang ayah yang luar biasa. Ia meninggalkan seorang istri dan anak perempuan yang sedang menempuh pendidikan di Medan. Semoga amal dan perjuangannya menjadi ladang pahala,” ujar Dedi dengan nada haru.

Hariyanto kini telah dimakamkan, meninggalkan kisah pilu di tengah bencana banjir yang melanda. Kejadian ini seakan menjadi pengingat betapa beratnya beban yang harus ditanggung mereka yang hidup di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat. Banjir di KM 83 ini bukan pertama kalinya memakan korban jiwa. Sebelumnya, seorang pengguna jalan juga meninggal di lokasi yang sama akibat banjir tahun lalu.

Bagi keluarganya, Hariyanto bukan hanya seorang ayah atau suami. Ia adalah simbol pengorbanan, seorang pria yang menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab meski banyak rintangan menghadang. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam, tetapi juga pelajaran berharga tentang arti perjuangan dan cinta terhadap keluarga. Semoga ia menemukan kedamaian di sisi-Nya, dan keluarganya diberikan kekuatan untuk melanjutkan hidup.

Hariyanto telah pergi, tetapi semangatnya akan terus hidup dalam kenangan keluarganya. Ia adalah sosok yang mengajarkan bahwa cinta sejati adalah tentang memberikan segalanya, bahkan di saat hidup begitu berat untuk dijalani.(Amr)

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *