
KUANSING (Pekanbarupos.co)–Pimpinan Cabang Persaudaraan Jawa Kuantan Singingi (Perjasing) Pucuk Rantau yang dinahkodai Pakde Gito, bersukacita menyambut kedatangan tahun baru Islam 1447 H dengan pertunjukan kesenian Kuda Lumping.
Perayaan ini dihadiri Kades Muaro Tobek, Dt Paduko Marajo (Ninik Mamak), PC Perjasing dan PP Perjasing dan warga Pangkalan Muaro Tobek tumpah ruah membanjiri tempat atraksi kuda lumping.
Dalam sambutannya Ketua Umum Perjasing Ir. Heru Agus Santoso melalui Sekjend Perjasing Dimas Suprapto SKom, MKom menitipkan harapan dan apresiasi kepada PC PERJASING Pucuk Rantau.
“Semoga kegiatan ini menjadi contoh kepada PC Perjasing lain untuk lebih aktif dalam menjalankan organisasi dan melestarikan budaya sebagai jati diri bangsa,” tegasnya.
Sebelum pertunjukan juga ada momen tukar Peci dan Blangkon antara Perjasing dan Ninik Mamak Ds Pangkalan Muaro Tobek Datuk Paduko Marajo sebagai simbol Silaturahmi masyarakat Kuansing keturunan jawa yg telah membaur dengan masyarakat Kuansing.
PC Perjasing Pucuk Rantau juga memberikan santunan kepada 17 anak yatim dengan harapan membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka, memberikan kebahagiaan dan meringankan beban mereka setelah kehilangan orang tua.
“Semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk berbuat kebaikan kepada sesama dan membantu mereka yang membutuhkan,” harap Sekjend Perjasing.
Saat pertunjukan kuda lumping berlangsung Sekjend Perjasing juga ikut beratraksi dengan berjalan dan melompat diatas tumpukan beling atau pecahan kaca yang tajam sehingga menambah semarak suasana.
Di tengah gemerlapnya lampu-lampu yang berkilauan, kemeriahan lebih lagi terpancar dari atraksi kuda lumping yang memukau ratusan penonton yang memadati area sanggar Kuda Lumping Turonggoseto Desa Pangkalan, Muaro Tobek Kecamatan Pucuk Rantau Kabupaten Kuantan Singingi.
Para penonton, dari anak-anak hingga orang dewasa, tak dapat menyembunyikan kekagumannya terhadap keindahan gerakan yang lincah dan enerjik yang ditampilkan oleh penari dan kuda lumping.
Mereka terpesona oleh kekuatan atraksi yang tak hanya sekadar hiburan, tetapi juga membawa pesan-pesan kearifan lokal dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Kesenian kuda lumping seringkali ditampilkan dalam perayaan Tahun Baru Islam, terutama pada malam 1 Suro (tahun baru Muharram). Kesenian ini menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat, yang diyakini membawa keberkahan dan semangat baru untuk menyambut tahun yang akan datang.
PC Perjasing Pucuk Rantau menggelar kesenian tersebut dengan alasan, pertama Kuda Lumping adalah simbol semangat dan keberanian, kedua upaya melestarikan budaya, ketiga hiburan dan pemersatu, keempat aktifitas positif menghindarkan generasi pemuda day narkoba.
Meskipun ada beberapa pandangan yang mengaitkan unsur magis dalam kuda lumping dengan syirik, namun dalam konteks perayaan Tahun Baru Islam, kuda lumping lebih dilihat sebagai simbol keberanian, semangat, dan tradisi yang perlu dilestarikan.
Dengan demikian, kesenian kuda lumping memiliki peran penting dalam perayaan Tahun Baru Islam, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi dan upaya menjaga nilai-nilai budaya.(cil)
Pekanbaru Pos Riau