Rabu , 11 Februari 2026
Oplus_131072

Bertahan 31 Tahun, Kisah Pak Mon Penjual Bubur Kampiun Mona di Pangkalan Kerinci

Bertahan 31 Tahun, Kisah Pak Mon Penjual Bubur Kampiun Mona di Pangkalan Kerinci

PANGKALANKERINCI(pekanbarupos.co) – Senyum lebar selalu menghiasi wajah Hermon Saputra (64), atau yang akrab disapa Pak Mon, setiap kali melayani pembeli di gerobak biru sederhananya. Sudah 31 tahun ia menggantungkan hidup dari dagangan bubur kampiun yang dikenal luas dengan nama Bubur Mona. Nama itu bukan asal, melainkan diambil dari salah satu anaknya, Mona, seolah menjadi doa agar dagangan ini tak lekang dimakan zaman.

Sejak tahun 1994, Pak Mon memulai usahanya dari nol. Kala itu, ia tak punya tempat berjualan, hanya numpang di sudut-sudut jalan. Gerobak pertama pun hasil berutang. “Waktu itu berat sekali. Tapi saya yakin, asal tekun, pasti ada jalan. Alhamdulillah, dari bubur ini saya bisa beli tanah, bangun rumah, dan sekolahkan anak-anak sampai lulus SMK,” kenyangnya didampingi isterinya yang setia mendampinginya saat berbincang dengan media ini, Rabu (23/9/2025).

Kini, enam anaknya tumbuh besar, dan ia sudah menggendong sembilan cucu. Semuanya hasil perjuangan dari semangkuk bubur. Seporsi Bubur Kampiun Mona hanya Rp10 ribu, terjangkau bagi banyak orang, namun menyimpan kisah panjang ketekunan di baliknya.

Cita rasa buburnya terjaga sejak awal. Santan selalu diperas sendiri, kelapa diparut manual, dan bahan dipilih dengan penuh hati-hati. Tak heran, siapa pun yang pernah merasakan bubur Mona biasanya kembali lagi. Bahkan, tak jarang dagangannya habis sebelum siang. “Kemarin, baru jam 11 pagi bubur sumsum sudah ludes,” ucapnya sambil tersenyum bangga.

Namun, perjalanan panjang itu tidak tanpa cobaan. Pernah gerobaknya terbalik, bahkan sempat ada ayam yang masuk ke wadah bubur. “Kalau hujan seharian, bisa tak laku sama sekali. Tapi saya percaya, rezeki sudah Allah tetapkan. Jadi tidak usah silau dengan rezeki orang lain. Saya fokus saja dengan bubur ini,” katanya penuh syukur.

Owner Bubur Mona ini juga memilih libur pada hari Jumat. Kenapa, karena hari penuh berkah dan penghulu hari lebih difokuskannya untuk ibadah mempersiapkan sholat Jumat. Baru berjualan lagi pada hari-hari lainnya.

Meski usianya sudah senja, tubuh Pak Mon tetap terlihat bugar. Ia rutin berolahraga bulutangkis, seolah menjadi sumber energi yang menjaga semangatnya tetap menyala. “Selama masih kuat, saya akan terus berjualan. Usia boleh tua, tapi selagi sehat, inilah jalan hidup saya,” ujarnya mantap.

“Malah ada yang beli bubur saya dibawa ke Jakarta. Ngakunya sampai sore bubur masih tetap awet,”kenangnya dengan bangga buburnya sampai ke ibukota dengan rasa tetap sama.

Kini, Bubur Mona bukan hanya sekadar kuliner legendaris di Pangkalan Kerinci. Ia adalah saksi perjalanan hidup seorang ayah yang membesarkan enam anaknya dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan kerja keras.

Setiap sendok bubur kampiun seharga Rp10 ribu itu tak hanya menyuguhkan rasa manis gurih santan, tetapi juga menghadirkan kisah perjuangan panjang yang sarat makna.(amr)

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *