PertamaANGKALANKERINCI(pekanbarupos.co) – Di bawah terpal biru yang dipasang seadanya, beberapa orang duduk di atas batangan kayu yang dijadikan kursi di atas tanah. Parang tajam dan gancu di tangan mereka bergerak cepat, menghantam tandan sawit yang keras. Suara duk, duk, duk terdengar berulang, berpadu dengan tawa kecil di antara mereka.
Itulah keseharian Bu Helma, Pak Sahrun, Evan Gunawan, Bu Rohani, dan beberapa warga paro baya yang ditemui media ini di salah peron kelapa sawit di Jalan Langgam/Koridor RAPP KM 4 Kelurahan Pangkalan Kerinci Barat Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan Riau, Rabu (1/10/2025).
Sejak pukul 08.00 pagi hingga lewat waktu Ashar, tangan mereka tak berhenti bekerja, memisahkan brondolan sawit dari tandannya.
“Kalau baru mulai, tangan ini sakit semua. Tapi lama-lama terbiasa, ,” ucap Bu Rohani sambil tersenyum, meski keringat menetes deras di keningnya.
Pekerjaan ini sederhana, namun melelahkan. Mereka tidak digaji bulanan. Upahnya hanya Rp 100 per kilogram dari hasil sawit yang dicacah. Dalam sehari, rata-rata Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu yang bisa mereka bawa pulang.
“Kurang lebih 50-60 kg kami dapatkan tiap harinya. Hanya saja kalau gajiannya kami perpekan atau perdua pekan. Jadi, biar agak nampaklah uangnya,” kata Bu Helma.
Ia tampak pasrah, namun tetap bersyukur. Suaminya seorang nelayan yang penghasilannya tidak menentu. “Kadang dapat ikan, kadang pulang kosong. Jadi saya ikut bantu di sini. Kalau tidak, dapur di rumah bisa sepi,” tuturnya.
Apalagi, warga asal Desa Rantau Baru ini mengaku belum ada mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.
Bersama dalam risiko. Setiap ayunan parang dan gancu menyimpan risiko. Satu kali saja lengah, mata parang bisa melukai jari. Namun, sepertinya 7 pekerja, 4 wanita dan tiga pria ini sudah mahir.
“Kalau saya dan isteri cuma ini pekerjaan kami,”ungkap Pak Sahrun menimpali diantara bunyi benturan gancu dan tandan sawit yang beradu.
Namun mereka tampak menikmatinya. Sambil bercengkerama, saling melempar candaan, mereka mencoba melupakan rasa letih.
“Kalau tidak ramai-ramai begini, mungkin berat rasanya. Tapi kalau bersama, jadi ringan. Ada yang mencacah, ada yang kumpulkan brondolan juga ada yang buang tandan yang sudah kosong. Silahkan kalau mau tangkos diambil saja,” kata Evan Gunawan yang paling muda di antara mereka menawarkan jangkos untuk menambah nutrisi tanaman
Brondolan sawit yang mereka hasilkan bukan untuk mereka. Setelah dipisahkan, brondolan itu akan dijual pemilik veron (penampungan sawit) ke pabrik. Mereka hanya menerima bagian kecil, selebihnya untuk orang lain.
“Yang penting halal, walau sedikit. Kami bersyukur masih bisa kerja,” ujar Bu Helma lirih.
Meski begitu, ada harapan yang selalu mereka gantungkan. Harapan akan adanya perhatian, bantuan, atau sekadar jaminan yang bisa membuat hidup mereka sedikit lebih ringan. “Kami dengar ada bantuan sosial, tapi ya sampai sekarang belum ada juga,” ucap Bu Helma, matanya menerawang.
Brondolan Harapan. Bagi sebagian orang, brondolan sawit mungkin hanya sisa-sisa kecil tak berarti. Tapi bagi warga seperti Bu Helma dan kawan-kawannya, setiap butiran brondolan adalah napas hidup. Dari sanalah uang belanja dapur, uang sekolah anak, bahkan ongkos listrik di rumah didapatkan.
Mereka adalah potret nyata perjuangan hidup di tengah gemerlap industri sawit yang besar. Di balik angka-angka miliaran rupiah ekspor, masih ada tangan-tangan kecil yang mengais rezeki dari sisa-sisa tandan.
“Kalau ada yang tanya, apa rasanya kerja begini? Ya, jawabannya, capek tapi bahagia. Karena kami masih bisa makan, anak-anak bisa sekolah. Itu sudah cukup buat kami,” tutup Bu Helma sambil kembali mengayunkan parangnya.
Brondolan sawit itu terus menumpuk di bawah terpal biru. Bagi mereka, setiap butirnya adalah butiran harapan. Harapan yang tak pernah padam, meski hidup kerap terasa berat.(amr)
Pekanbaru Pos Riau