BAGANSIAPIAPI (pekanbarupos.co) – Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Rohil biasanya menjadi ruang musyawarah para tokoh adat. Namun pagi itu, Senin (24/11), suasananya berbeda. Ruang yang identik dengan petuah orang tua itu dipenuhi suara-suara muda—pelajar SMA sederajat dari Kecamatan Bangko yang datang bukan sekadar untuk berlomba, tetapi untuk didengar.
Mereka membawa kertas, pena, dan keberanian. Forum Jurnalis Literasi (FJL) memberi mereka panggung melalui “Lomba Menulis untuk Pemimpin Negeri”—sebuah ruang yang lebih dari sekadar adu keterampilan bahasa; ia menjadi corong kritik, kegelisahan, dan harapan generasi muda terhadap masa depan daerah.
Kritik yang Mengalir, Pemimpin Mengaku “Tersentuh”
Wakil Bupati Rohil, Jhony Charles BBA MBA, duduk di barisan depan, menyimak satu per satu gagasan yang dibacakan. Sesekali ia mengangguk pelan—gestur kecil yang menunjukkan bahwa apa yang disampaikan para pelajar bukan angin lalu.
“Daya kritis siswa luar biasa, masuk ke hati. Sarannya pun luar biasa,” ujarnya, seolah mengakui bahwa suara muda yang kerap dianggap remeh ternyata mampu menembus lapisan formalitas birokrasi.
Namun, di balik apresiasi itu terkandung pesan penting: kritik harus disampaikan dengan etika, tanpa menjatuhkan. Sebuah pengingat bahwa ruang kritik memang dibuka, tetapi tetap dalam batas yang dianggap “aman” bagi pemegang kuasa.
Jhony juga menekankan pentingnya kemampuan berbicara di depan publik—sebuah keterampilan yang, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi alat kontrol sosial generasi muda terhadap kebijakan pemerintah.
Balai Adat yang Menjadi Rumah bagi Gagasan Muda
Sekretaris Umum DPH LAMR Rohil, Datuk H. Bakhtiar SH, mengapresiasi pemilihan Balai Adat sebagai lokasi kegiatan. Baginya, ini kesempatan generasi muda berinteraksi dengan ruang yang sarat nilai budaya. Tetapi lebih dari itu, kehadiran para pelajar di ruang adat memberi pesan: masa depan daerah bukan hanya urusan para tetua adat atau pejabat, melainkan juga tugas generasi muda yang berani bersuara.
Bakhtiar turut memaparkan program LAMR untuk 2025 dan rencana 2026—sebuah upaya menunjukkan bahwa lembaga adat ingin menjadi bagian dari percakapan publik yang lebih luas.
Ketika Lomba Menjadi Ruang Aspirasi Serius
Ketua panitia, Zulfadhli SSos, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung. Namun di balik sambutan formal itu, lomba ini sebenarnya membuka tabir sesuatu yang lebih penting: kegelisahan para pelajar tentang arah pembangunan daerah.
Dewan juri yang diwakili Jaka Abdillah SAg MIP menilai, para peserta tidak hanya menulis surat kepada pemimpin—mereka menulis hati masyarakat. “Mereka menyuarakan harapan dan cinta terhadap tanah kelahiran,” ujarnya.
Dengan kata lain, mereka menagih perhatian. Menagih perubahan.
Para Juara dan Pesan yang Mereka Bawa
Dari puluhan naskah, para pemenang ditetapkan sebagai berikut:
Juara I:
• Feza Maulida Ramadhani (MAN 1 Rohil)
Juara II:
• Steven Farrel (SMA Negeri 1 Bangko)
Juara III:
• Kristina Zwieilla (SMAS Methodist)
Kategori Harapan:
• Harapan I: Samelia Hannah (SMAS Wahidin)
• Harapan II: Devina Faiha Zaib (SMA Negeri 1 Bangko)
• Harapan III: Zulaika (SMA Negeri 2 Bangko)
Selain plakat dan sertifikat, para pemenang mendapatkan uang pembinaan, ditambah bonus dari Wakil Bupati. Semua peserta pun memperoleh sertifikat dan honorarium—sebuah bentuk penghargaan yang jarang diberikan dalam lomba serupa.
Namun hadiah terbesar bukan itu. Hadiah terbesar adalah keberanian untuk menulis dan menyampaikan kritik di hadapan para pejabat, di ruang yang penuh simbol budaya dan kekuasaan.
Lebih dari Lomba: Ini Sinyal dari Generasi Muda
Saat penutupan acara, suasana berubah haru. Para pelajar pulang membawa lebih dari sekadar plakat atau sertifikat. Mereka pulang dengan perasaan bahwa suara mereka tidak selamanya akan dibungkam oleh usia.
Di Balai Adat hari itu, generasi muda menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar objek pembangunan. Mereka adalah pengingat, pengawas, sekaligus penggerak. Lomba menulis hanya medium—yang lebih penting adalah pesan kritis yang mereka titipkan.
Dan jika para pemimpin benar-benar mendengar, mungkin hari itu bukan akhir sebuah acara, melainkan awal dari dialog baru antara generasi muda dan para pengambil kebijakan di Rokan Hilir.(iin)
Pekanbaru Pos Riau