Rabu , 15 April 2026

Di Tengah Ujian, Harapan Itu Masih Menyala, Gubri Nonaktif dan Doa Masyarakat Riau

PEKANBARU(pekanbarupos.co) –
Langit Riau mungkin sedang redup oleh kabar yang tak biasa. Sosok pemimpin yang sebelumnya berdiri di depan, kini harus menepi sementara. Status nonaktif yang disematkan kepada Abdul Wahid menjadi perbincangan hangat bukan hanya di ruang-ruang politik, tetapi juga di warung kopi, masjid, hingga sudut kampung.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tak ikut redup, yakni harapan masyarakat.

Di sebuah percakapan sederhana, seorang warga menyampaikan isi hatinya. Bukan dengan bahasa tinggi, tapi dengan ketulusan yang sulit ditandingi.

Ia berbicara tentang sidang kedua yang telah dijalani. Tentang doa agar semuanya berjalan lancar. Tentang keyakinan bahwa kebenaran, pada waktunya, akan menemukan jalannya.

“Semoga sidang kedua ini lanca. semakin terang. Kami masyarakat Riau ingin melihat Pak Gubernur dan Wakil Gubernur kembali bersama, menjalankan amanah,”ungkap Elsuhana, warga Mandah yang tergabung dalam Ikatan Kerukunan Warga Mandah (IKWM) Pekanbaru, Selasa (31/3/2026).

Harapan itu sederhana, namun dalam maknanya.
Kata dia, masyarakat tidak sedang meminta yang muluk-muluk. “Kami hanya ingin melihat pemimpin kami kembali bergandengan tangan, bersatu dalam kebaikan, dan menjalankan visi yang dulu dijanjikan,”harapnya.

Warga asal Mandah Indragiri Hilir ini mengingatkan sudah hampir dua tahun sejak pasangan ini dipercaya memimpin Riau. Waktu yang belum panjang, namun cukup untuk menanam harapan. Harapan akan perubahan, pembangunan, dan perlindungan bagi masyarakat.

Namun seperti kehidupan itu sendiri lanjutnya, perjalanan kepemimpinan pun tak pernah lepas dari ujian.
Dan masyarakat memahami itu.
“Ujian ini bisa menimpa siapa saja… masyarakat, pemimpin, bahkan staf. Tapi ujian bukan untuk membuat kita putus asa… justru agar kita semakin kuat,”ucapnya.

Kalimat itu bukan sekadar penghiburan. Ia adalah refleksi kedewasaan bahwa badai bukan akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses.

Di antara harapan besar itu, terselip pula harapan yang sangat membumi.

” Tentang jalan. Tentang akses yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat desa.
Warga masih mengingat janji yang pernah diucapkan pada momen halal bihalal tahun 2025. Sebuah komitmen bahwa jalan menuju Kampung Mande (Mandah, red) 285.000 akan diupayakan selesai pada 2027.
Janji itu belum hilang dari ingatan.
Kami sangat berharap jalan ke Mande bisa selesai… kami masih ingat janji itu,”ungkapnya penuh yang juga diaminkan warga lainnya yang juga berasal dari kecamatan yang dengan Gubri non aktif Abdul Wahid.

Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar proyek infrastruktur.” “Namun bagi warga, itu adalah jalan menuju harapan, menuju ekonomi yang bergerak, pendidikan yang lebih mudah dijangkau, dan kehidupan yang lebih layak, dan karena terkoneksi langsung ke kota Kabupaten Indragiri Hilir bahkan ibu kota Provinsi Riau dan daerah lainnya,”bebernya.

Warga Mandah khususnya, kini, semua mata tertuju pada proses yang sedang berjalan.
Sidang demi sidang bukan hanya tentang hukum, tetapi juga tentang harapan banyak orang yang menggantungkan masa depan pada kepemimpinan yang utuh.

Masyarakat tidak menghakimi. “Kami emilih menunggu.
Menunggu dengan doa.
Menunggu dengan harap.
Menunggu dengan keyakinan bahwa setiap ujian pasti membawa hikmah,”papar Elsuhana.

Di tengah segala ketidakpastian ini, satu doa terus mengalir dari hati masyarakat Riau, khususnya warga asal Kecamatan Mandah, kampung asal Abdul Wahid.
“Ya Allah, bukakan pintu-pintu kebenaran, kuatkan kami semua dan satukan kembali pemimpin kami dalam kebaikan,”ungkapnya.

“Yang diinginkan rakyat bukan sekadar siapa yang benar atau salah. Tetapi kehadiran pemimpin yang utuh, kuat, dan mampu menggandeng tangan rakyatnya menuju masa depan yang lebih baik,”pungkasnya penuh harap.(amr)

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *