PEKANBARU (pekanbarupos.co) – Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau memusnahkan berbagai barang bukti narkotika hasil pengungkapan 22 kasus dengan total 24 tersangka.
Barang bukti yang dimusnahkan terdiri dari sabu, ekstasi, ganja, hingga liquid yang mengandung etomidate.
Pemusnahan dilakukan setelah seluruh barang bukti memperoleh penetapan dari pengadilan sebagai bagian dari proses penegakan hukum terhadap tindak pidana narkotika.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut yang mewakili Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Deddy Iwan Budiono, mewakili Kepala BNNP Riau AKP Musa H. Sibarani, S.Psi., M.Si., yang mewakili Kabidhumas Polda Riau AKBP Rudi A.Samosir, S.E., M.Si., yang mewakili Kabid Propam Polda Riau Iptu Feby serta ketua Granat Provinsi Riau Dr. Freddy Simanjuntak.
Dirresnarkoba Polda Riau Kombes Pol Putu Yudha Prawira melalui Kepala Bagian Pengawasan Penyidikan (Kabag Wassidik) Ditresnarkoba Polda Riau, AKBP Edi Munawar, mengatakan barang bukti tersebut merupakan hasil kerja Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau dalam mengungkap puluhan kasus peredaran narkoba di wilayah Riau.
“Pengungkapan yang rekan-rekan media saksikan ini merupakan hasil kerja Direktorat Narkoba Polda Riau dari 22 kasus dengan jumlah tersangka sebanyak 24 orang,” kata Edi.
Adapun barang bukti yang dimusnahkan meliputi 5.226,74 gram sabu, 3.191 butir ekstasi, 743 cartridge liquid etomidate, serta 812,2 gram ganja.
Menurut Edi, keberhasilan aparat mengamankan barang bukti tersebut tidak hanya menghentikan peredaran narkotika, tetapi juga mencegah dampak yang lebih luas di tengah masyarakat.
“Dari barang bukti yang berhasil diamankan ini, kita dapat menyelamatkan sekitar 32.704 jiwa dari bahaya penyalahgunaan narkotika,” ujarnya.
Selain menyelamatkan puluhan ribu jiwa, nilai ekonomis seluruh barang bukti yang disita diperkirakan mencapai Rp8,48 miliar. Apabila berhasil beredar di masyarakat, narkotika tersebut berpotensi menimbulkan dampak sosial yang besar dan merusak generasi muda.
Dalam perkara ini, para tersangka dijerat dengan sejumlah pasal dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, di antaranya Pasal 114 ayat (2), Pasal 112 ayat (2), Pasal 111 ayat (1), serta Pasal 132 ayat (1). Sementara untuk kasus peredaran liquid mengandung etomidate, penyidik juga menerapkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
“Ancaman hukumannya sangat berat, mulai dari pidana penjara maksimal 20 tahun, penjara seumur hidup hingga pidana mati,” tegas Edi.
Di sisi lain, Polda Riau juga mencermati adanya perubahan pola peredaran narkotika yang kini mulai bergeser dari sabu menuju liquid mengandung etomidate. Zat tersebut diketahui dikonsumsi melalui rokok elektrik atau vape dan belakangan semakin sering ditemukan dalam pengungkapan kasus narkotika.
“Memang ada sedikit perubahan tren. Kalau dulu pengungkapan banyak sabu, sekarang mulai bergeser ke etomidate atau liquid cair. Ini menjadi perhatian serius bagi kami,” pungkasnya.
Polda Riau juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan aktif dalam memerangi peredaran gelap narkotika. Partisipasi masyarakat dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba hingga ke tingkat lingkungan terkecil.
Masyarakat yang mengetahui atau mencurigai adanya aktivitas penyalahgunaan maupun peredaran narkotika di lingkungannya diimbau segera melaporkannya melalui Layanan Kepolisian 110 atau Satgas Anti Narkoba Polda Riau melalui WA ke no 08136306547 agar dapat segera ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian.
Dengan sinergi antara kepolisian dan masyarakat, diharapkan upaya penyelamatan generasi bangsa dari ancaman narkoba dapat berjalan lebih efektif serta menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.(fiq)
Pekanbaru Pos Riau