Kamis , 25 Juni 2026

Duh, Ambulance Membawa Pasien Kondisi Kritis Terjebak Macet Proyek Nasional di KM 74

PANGKALANKURAS(pekanbarupos.co)-Malam itu, suara sirine ambulans meraung panjang di tengah gelapnya Jalur Lintas Timur Pelalawan. Bunyi yang seharusnya menjadi isyarat bagi semua kendaraan untuk menepi justru tenggelam dalam lautan kemacetan yang tak bergerak.

Di dalam ambulans, ada pasien yang sedang berpacu dengan waktu. Namun waktu seolah berhenti di ruas jalan yang sedang dikerjakan antara Km 74 hingga Km 84 menuju Pangkalan Kerinci.

Rabu (24/6/2026) malam, dua unit ambulans yang membawa pasien dalam kondisi kritis dari Puskesmas Palas menuju rumah sakit di Pangkalan Kerinci dilaporkan terjebak total di tengah antrean kendaraan.

Sirine terus berbunyi, tetapi jalur tetap terkunci oleh truk-truk besar, mobil pribadi, dan sepeda motor yang saling berhimpitan.

Bagi keluarga pasien, setiap menit yang terbuang adalah kecemasan. Bagi pasien yang membutuhkan penanganan segera, setiap menit bisa menentukan keselamatan.

Kondisi tersebut memantik keprihatinan mendalam dari masyarakat.
Kamis (25/6/2026), Dedi Azwandi dari Rumah Relawan Dhuafa (RRD) Kabupaten Pelalawan yang juga kerap mendampingi pelayanan ambulans menyebut situasi ini sudah sangat mengkhawatirkan.
“Kalau mobil pribadi bisa 4-6 jam, Bang, kalau ambulans dari Palas ke sini biasanya tembus beberapa menit saja harus menelan pil pahit sekitar satu jam tiga puluh menit. Padahal jaraknya kurang lebih dari 10 kilometer,” ujarnya dengan nada prihatin.

Pernyataan itu menggambarkan betapa parahnya kondisi lalu lintas di jalur tersebut. “Jarak yang seharusnya dapat ditempuh dalam hitungan menit kini berubah menjadi perjalanan berjam-jam. Bukan karena medan yang berat, melainkan karena kemacetan yang tak terkendali,”ungkap Dedi.

Menurut Dedi, malam itu bahkan ada warga yang harus mengantre sejak pukul 22.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB hanya untuk bisa melewati titik kemacetan.

Katanya, enam jam di jalan mungkin hanya terasa sebagai ketidaknyamanan bagi sebagian orang. Namun bagi pasien kritis di dalam ambulans, enam jam adalah waktu yang terlalu mahal untuk dipertaruhkan.

Warga menilai persoalan ini bukan semata akibat proyek peninggian Jalan Lintas Timur yang sedang berlangsung. Proyek tersebut memang dibutuhkan untuk mengatasi titik rawan banjir yang selama ini mengganggu jalur strategis penghubung Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

“Yang menjadi sorotan masyarakat adalah minimnya pengaturan lalu lintas selama pengerjaan berlangsung. Kurangnya petugas di lapangan membuat arus kendaraan sering kali tidak terkendali hingga menyebabkan kemacetan panjang,”paparnya kesal.

Akibatnya, kendaraan darurat seperti ambulans tidak mendapatkan prioritas sebagaimana mestinya.
“Kami bukan menolak pembangunan. Kami mendukung jalan diperbaiki. Tapi jangan sampai ada masyarakat yang menjadi korban karena buruknya pengaturan lalu lintas,”imbuh Dedi lagi.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Masyarakat menilai jika kondisi ini terus berulang tanpa solusi yang jelas, bukan tidak mungkin suatu saat akan ada nyawa yang tak tertolong hanya karena terlambat mencapai fasilitas kesehatan.

Karena itu, beberapa warga mulai mendorong solusi darurat yang lebih konkret. Salah satunya adalah penyediaan armada transportasi air untuk evakuasi pasien selama proyek berlangsung.

Jalur sungai melalui Kemang atau Nilo menuju Kuala Terusan dinilai dapat menjadi alternatif tercepat ketika akses darat lumpuh total. Dengan skema tersebut, pasien kritis dapat dipindahkan melalui jalur air menuju Pangkalan Kerinci tanpa harus menunggu berjam-jam di tengah kemacetan.

Kini masyarakat berharap pemerintah, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), pihak kontraktor, dan aparat terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen lalu lintas di lokasi proyek.

“Kondisi sudah berlangsung cukup lama Bang, sebab kemacetan memang bisa membuat orang terlambat bekerja, terlambat pulang, atau terlambat bertemu keluarga. Namun ketika ambulans yang membawa pasien kritis ikut terjebak tanpa bisa bergerak, persoalannya sudah bukan lagi soal macet. Melainkan soal kemanusiaan. Soal nyawa yang sedang menunggu pertolongan di ujung jalan,”paparnya sambil berharap pihak terkait segera mengurai kemacetan.

“Beberapa waktu lalu polisi bertindak tegas. Pengguna jalan yang terabas antre ditilang sampai ratusan ribu. Tapi, tidak berlangsung lama. Yang jelas, kondisi ini menjadikan perjalanan masyarakat terhambat,”pungkasnya.(am

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *