PANGKALANKERINCI(pekanbarupos.co)-Di usia 60 tahun, langkahnya memang tak lagi sempurna. Usahanya tak seramai dahulu. Namun, ada satu hal yang tak pernah benar-benar menyerah dalam dirinya, apa itu semangat seorang ayah yang memilih tetap berdiri demi kehidupan.
Ditemui diantara suara mesin pengetam kayu seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup Ibnu Umar.
Di lapak usaha Pengetaman Mandiri, Jalan Sultan Syarif Haroen, arah Simpang Kualo, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Selasa (13/10/2026) pria berusia 60 tahun itu masih menjalani hari-harinya dengan bekerja.
Tangannya mungkin tak lagi selincah dulu. Kakinya pun tak lagi mampu melangkah dengan sempurna. Namun, selama masih ada tenaga, ia memilih tetap berusaha.
Bagi sebagian orang, usia 60 tahun mungkin menjadi masa untuk mengurangi aktivitas dan menikmati hasil kerja selama puluhan tahun. Tetapi bagi Ibnu Umar, yang akrab disapa Ocu Umar hari-hari masih harus dijalani. Mesin harus tetap bekerja, kayu masih perlu dikerjakan, dan kebutuhan hidup tak bisa berhenti hanya karena usia bertambah.
Menurutnya, sudah tiga dekade, sejak 1996 hingga 2026, ia menggeluti usaha kusen. Sudah beberapa kali pindah lapak. Selama itu pula, ia mengenal berbagai wajah kehidupan: masa ketika pesanan datang silih berganti, masa ketika pekerjaan mulai sepi, hingga pengalaman pahit ketika ada pemesan yang tak kunjung membayar meski kusen telah terpasang di rumahnya.
Namun, semua itu tak serta-merta membuatnya meninggalkan usaha yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya itu.
Di balik lapak sederhana tersebut, tersimpan kisah yang jauh lebih besar daripada urusan kayu, mesin, dan pesanan pelanggan.
Ada kisah tentang seorang ayah yang membesarkan tiga anak tanpa kehadiran seorang istri.
Ada kenangan tentang perempuan yang pernah menjadi teman hidupnya. Ada pula perjuangan panjang untuk memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan pendidikan, meski ia harus memikul tanggung jawab keluarga seorang diri.
Ketika pasangan hidup berpulang, perjuangan tak boleh berhenti. Ibnu Umar menikahi seorang gadis asal Medan pada 1998. Dua tahun kemudian, kehidupan rumah tangganya tentu diwarnai berbagai cerita dan perjuangan. Namun, perjalanan itu tak berlangsung sebagaimana yang mungkin pernah mereka harapkan.
Pada 2009, sang istri tersayang mengembuskan napas terakhir.
Sejak saat itu, kehidupan Umar berubah. Ia bukan hanya kehilangan pasangan hidup, tetapi juga harus menjalani hari-hari sebagai orang tua tunggal bagi tiga anaknya.
Si bungsu saat itu masih duduk di kelas II sekolah dasar.
Bayangkan, seorang ayah yang harus tetap mencari nafkah, mengurus kebutuhan rumah tangga, sekaligus memastikan anak-anaknya tumbuh dan memperoleh pendidikan yang layak. Semua itu harus dijalani tanpa lagi ditemani perempuan yang sebelumnya berbagi suka dan duka dengannya.
Tetapi Ibnu Umar memilih bertahan. Ia tidak menjadikan kepergian sang istri sebagai alasan untuk berhenti memperjuangkan masa depan anak-anaknya. Hari demi hari dilaluinya dengan bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga, dan mengupayakan agar pendidikan mereka tidak terabaikan.
Ada tanggung jawab yang harus dituntaskan. Ada tiga anak yang masih membutuhkan perhatian. Dan ada kenangan tentang seorang istri yang tetap hidup dalam ingatannya.
Bagi Ibnu Umar, kehilangan bukan berarti seluruh kehidupan harus ikut berhenti.
Pendidikan anak menjadi amanah yang dijaga.
Di tengah keterbatasan dan kesibukan mencari nafkah, Ibnu Umar tetap menempatkan pendidikan anak-anaknya sebagai prioritas.
Ia menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu bekal penting bagi masa depan mereka. Karena itu, selama masih mampu bekerja, ia berusaha agar anak-anaknya dapat melanjutkan sekolah.
“Dulu, waktu anak-anak masih sekolah sampai kuliah, alhamdulillah rezeki Allah cukupkan sehingga dua anak sampai tuntas kuliah S1 dan satunya sampai SMA karena tidak mau melanjutkan pendidikan lagi,” kenangnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada tahun-tahun panjang yang mungkin tak pernah sepenuhnya diketahui orang lain.
Ada biaya pendidikan yang harus dipenuhi. Ada kebutuhan rumah tangga yang harus dicukupkan. Ada hari-hari ketika pesanan ramai, tetapi mungkin ada pula masa ketika penghasilan tak menentu.
Semua itu dijalaninya sambil membesarkan anak-anak seorang diri.
“Biasanya kalau pasangan hidup sudah tidak ada, jarang ada pendidikan anak-anak diperhatikan sampai kuliah. Tapi ambo tidak, ambo tetap utamakan pendidikan mereka,” ungkapnya.
Bukan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain, tetapi dari perkataannya terlihat satu hal yang begitu ia pegang: kepergian istri tidak boleh membuat masa depan anak-anaknya ikut kehilangan arah.
Kini, dua anaknya telah menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana. Sementara seorang anak lainnya menamatkan pendidikan sampai SMA.
Bagi Ibnu Umar, perjalanan itu merupakan bagian penting dari tanggung jawab yang telah ia tunaikan. Bukan karena hidupnya selalu mudah, melainkan karena ia memilih untuk terus berusaha di tengah segala keterbatasan.
Pernah menekuni banyak pekerjaan. Jauh sebelum dikenal melalui Pengetaman Mandiri, perjalanan hidup Ibnu Umar sudah diwarnai beragam pengalaman.
Pria asal Pangkalanbaru, Kampar, ini pernah merantau ke Pulau Burung Indragiri Hilir pada 1988 untuk bekerja sebagai mekanik.
Ia juga memiliki pengalaman sebagai welder atau juru las di Batam serta pernah berkecimpung dalam pekerjaan topografi di lapangan.
Latar belakang pendidikannya pun cukup beragam. Ia pernah menempuh pendidikan di STM Pekanbaru pada 1983/1984 dan sempat berkuliah di Fakultas Teknik di Padang, meski perjalanan pendidikannya tidak berakhir sebagaimana yang direncanakan.
Berbagai pengalaman itu menjadi bekal yang membentuk keterampilannya. Ia bukan orang yang hanya mengandalkan satu kemampuan. Ia belajar, bekerja, dan beradaptasi dengan keadaan.
Kemampuan bergaul dengan banyak orang juga menjadi salah satu kekuatannya. Ketika usaha kusen berada pada masa jayanya, pesanan banyak datang kepadanya.
Kepercayaan pelanggan dan keterampilan yang dimiliki membuat usaha tersebut menjadi sumber penghidupan keluarga selama bertahun-tahun.
Namun, kehidupan usaha tak selalu bergerak naik.
Belakangan, pesanan mulai berkurang. Persaingan dan perubahan keadaan membuat usaha yang dahulu ramai kini tak lagi seramai masa-masa sebelumnya.
Meski demikian, Ibnu Umar belum memilih menyerah.
Ia tetap membuka lapak, mengerjakan pesanan yang datang, dan menjalani hari sebagaimana biasanya. Selama masih ada peluang untuk bekerja, ia akan berusaha.
Ketika tubuh tak lagi sekuat dahulu. Ujian hidup Ibnu Umar tidak berhenti pada kehilangan pasangan dan pasang surut usaha.
Beberapa tahun lalu, musibah kembali menyapanya. Ia terjatuh dari sepeda motor hingga harus menjalani operasi.
Setelah kejadian itu, salah satu kakinya tak lagi dapat ditekuk sebagaimana mestinya. Langkahnya menjadi pincang.
Bagi seseorang yang menggantungkan hidup pada pekerjaan fisik, kondisi tersebut tentu bukan perkara ringan.
Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, tenaga, dan pergerakan tubuh kini harus dijalani dengan keterbatasan.
Namun, sekali lagi, Ibnu Umar memilih untuk tetap bekerja.
Di usianya yang telah memasuki enam dekade, ia masih berusaha menjalankan aktivitas di lapaknya. Ia tidak menunggu semua keadaan menjadi mudah untuk kembali melangkah.
Sebab, barangkali ia sudah terlalu lama belajar bahwa kehidupan memang tidak selalu memberikan jalan yang lapang.
Ada masa ketika tubuh kuat, pesanan melimpah, dan pekerjaan terasa ringan. Ada pula masa ketika kaki tak lagi sempurna, pelanggan berkurang, dan penghasilan tidak menentu.
Tetapi selama masih ada kemampuan untuk berusaha, selalu ada alasan untuk melanjutkan kehidupan.
Bertahan dalam kenangan
Ada satu sisi lain dari perjalanan Ibnu Umar yang membuat kisahnya terasa berbeda.
Sejak sang istri meninggal dunia pada 2009, ia memilih menjalani kehidupan tanpa menikah lagi.
Keputusan itu bukan sesuatu yang perlu dinilai oleh orang lain. Namun, dari kisah yang ia tuturkan, kenangan tentang sang istri tampaknya memiliki tempat tersendiri dalam kehidupannya.
Perempuan asal Medan yang dinikahinya pada 1998 itu telah pergi, tetapi kebaikan-kebaikannya semasa hidup masih membekas dalam ingatan.
Waktu terus berjalan. Anak-anak beranjak dewasa. Tahun-tahun berganti. Sementara Ibnu Umar tetap melanjutkan hidup dengan kenangan yang disimpannya sendiri.
Tak semua kesetiaan harus diumumkan. Tak semua kehilangan harus diceritakan dengan air mata. Ada orang-orang yang memilih mengenang dalam diam, lalu meneruskan hari-harinya dengan bekerja dan memenuhi tanggung jawab yang tersisa.
Barangkali, itulah salah satu cara Ocu Umar menjalani kehidupannya.
Ia tidak dapat mengulang masa ketika keluarganya masih utuh. Ia juga tak bisa mengembalikan kesehatan kakinya seperti dahulu.
Namun, ia masih memiliki kesempatan untuk bekerja, menyambut orang-orang yang datang, dan menjalani hari dengan kemampuan yang tersisa.
Pelajaran dari sebuah lapak sederhana
Di tengah kehidupan yang terus berubah, kisah Ibnu Umar mengingatkan kita bahwa perjuangan seseorang tidak selalu terlihat dari besarnya usaha atau tingginya penghasilan.
Terkadang, perjuangan justru hadir dalam bentuk yang sederhana: seorang ayah yang tetap membuka lapaknya meski pesanan menurun; seorang lelaki yang terus bekerja meski berjalan pincang; atau seseorang yang pernah kehilangan pasangan hidup, tetapi tetap menuntaskan tanggung jawab membesarkan anak-anaknya.
Tiga puluh tahun menggeluti usaha kusen bukan perjalanan yang sebentar. Di dalamnya ada keterampilan yang ditempa, kepercayaan yang dibangun, kerugian yang ditanggung, dan kesabaran yang berkali-kali diuji.
Bagi Ibnu Umar, kayu-kayu yang dikerjakannya mungkin hanya menjadi kusen dan bagian dari bangunan milik orang lain. Namun, dari pekerjaan itulah ia berusaha membangun sesuatu yang jauh lebih berharga: masa depan ketiga anaknya.
Ia mungkin tak memiliki kisah sukses yang gemerlap untuk dipamerkan. Tak pula harus menjadi orang kaya untuk membuktikan bahwa dirinya telah berjuang.
Cukup melihat bagaimana ia tetap bekerja hingga hari ini, setelah melewati kehilangan, membesarkan anak-anak, menghadapi musibah, dan bertahan di tengah usaha yang tak lagi seramai dahulu.
Di sana, ada pelajaran tentang tanggung jawab, ketabahan, dan harga diri.
Sebab, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah terluka. Menjadi tangguh bukan berarti tidak pernah kehilangan. Terkadang, kekuatan justru terlihat ketika seseorang tetap menjalani kewajibannya, meski kehidupan telah mengambil banyak hal darinya.
Dan di lapak Pengetaman Mandiri, Jalan Sultan Syarif Haroen, Pangkalan Kerinci, Ibnu Umar masih menjalani hari-harinya.
Usianya 60 tahun. Kakinya tak lagi sempurna. Pesanan tak seramai dahulu.
Namun, semangatnya untuk bekerja belum padam.
Tiga puluh tahun ia mengolah kayu. Tetapi sesungguhnya, selama itu pula ia sedang mengukir kisah tentang seorang ayah yang tak berhenti berjuang, bahkan ketika hidup tak lagi berjalan seperti yang diharapkan.(amr)
Pekanbaru Pos Riau