
Oleh: Iswadi Muhammad Yazid (Ketua MUI Kabupaten Pelalawan)
Tiap bulan Agustus, kita mengenang hari besar yang selalu membangkitkan semangat, merefleksikan, dan mengingat perjuangan para pahlawan Merah Putih di berbagai daerah di Indonesia.
Kita mengenang hari demi hari, malam demi malam, siang hari demi siang hari dengan perjuangan, diselenggarakan berbagai bentuk syukuran atau kemeriahan yang diselenggarakan dengan meriah dan sukacita.
Namun, di balik semua kemeriahan itu, ada pertanyaan yang patut kita renungkan bersama. Apakah ini (energi dan semangat) masih relevan sampai hari ini? Atau hanya hari penjajahan fisik, tetapi juga masalah-masalah dalam rumah tangga dan keluarga yang bisa menggerogoti ketahanan bangsa secara perlahan namun pasti.
Keluarga Pondasi dari Segalanya
Bangsa yang kuat adalah dari keluarga yang sehat. Rumah tangga adalah tempat pertama manusia belajar mencintai, memaafkan, mendengarkan, dan menghargai perbedaan.
Dari keluarga, individu belajar untuk berkontribusi pada bangsa. Lalu, jika rumah tangga rapuh, bagaimana mungkin kita berharap masyarakat dan bangsa akan kokoh? Sayangnya, generasi milenial tampak rentan, terutama dalam faktor-faktor sosial dan teknologi.
Generasi ini mengakhiri pernikahannya setiap minggu. Angka perceraian yang meningkat tiap tahun bukan sekadar fenomena individual, melainkan cerminan dari tidak sehatnya fondasi utama dalam struktur masyarakat kita.
Di balik perceraian ini, ada jejak-jejak yang kehilangan bukan hangat pada orang tua, dan ada tata patihan dan jiwa yang terikat. Dan kita tak bisa menyalahkan hanya dengan waktu, perlu lingkungan yang peduli dan sistem sosial yang menguatkan.
Krisis Keluarga, Krisis Bangsa
Jika karena mengabaikan kenakalan remaja, kekerasan sosial, intoleransi, bahkan lunturnya semangat gotong royong.
Maka, barang kita merengek ke dalam. Apakah anak-anak bangsa telah benar-benar tumbuh dalam rumah yang sehat? Sejauh mana kita dapat menyampaikan untuk kembali? Rumah tangga yang goyah bisa menjadi bibit awal krisis sosial yang lebih luas.
Ketika keluarga gagal menjalankan fungsinya sebagai tempat pembentukan nilai dan karakter, maka masyarakat akan “mewarisi” generasi yang rentan terhadap kegagalan komunikasi, ketahanan emosi, hingga kehilangan orientasi hidup.
Tak heran jika banyak generasi muda hari ini merasa kesepian, cemas, dan bingung menentukan arah. Mungkin karena mereka tidak pernah benar-benar mengalami apa itu kehangatan rumah dan stabilitas kasih sayang yang konsisten.
Membaca Akar Masalah, Mencari Jalan Kembali
Ada banyak faktor yang menyebabkan keretakan rumah tangga, mulai dari ketidakdewasaan pasangan, minimnya persiapan pranikah, tekanan ekonomi, hingga pergeseran nilai akibat pengaruh media sosial dan gaya hidup modern yang serba instan.
Namun, di balik semua itu, ada satu hal mendasar yang perlu kita bangun kembali: kesadaran bahwa pernikahan bukan hanya soal cinta, tapi juga perjuangan bersama untuk membentuk ketahanan keluarga yang kuat dan tangguh.
Menjaga rumah tangga berarti menjaga pondasi bangsa agar tak runtuh oleh badai zaman. Pendidikan pranikah yang berkualitas, bimbingan keluarga yang berkelanjutan, serta komunitas yang peduli terhadap ketahanan keluarga adalah ikhtiar-ikhtiar konkret yang bisa kita perkuat.
Jangan biarkan pasangan-pasangan muda menghadapi peliknya kehidupan rumah tangga sendirian tanpa bekal dan tanpa teman bicara.
Bangsa Merdeka, Rumah Tangga Harus Merdeka
Kemerdekaan, sejak bukan hanya soal terbebas dari penjajahan fisik. Ia juga menyangkut pembebasan dari ketakutan, trauma, dan nilai-nilai yang membawa kita. Merdeka berarti mampu menciptakan ruang aman dalam rumah di mana anggota keluarga saling menghargai, saling melindungi, dan saling menjaga kehormatan tanpa ada aroma lain.
Merdeka, keluarga adalah bentuk patriotisme yang paling sunyi, tapi sangat berarti. Mengasuh anak dengan cinta, menjaga komunikasi dengan pasangan, serta mengutamakan nilai kearifan di meja makan setiap hari, semua itu adalah bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan dalam makna yang lebih dalam.
Kemerdekaan yang lestari bukan hanya terwujud dari tiang-tiang, tapi dari tiang-tiang kokoh. Tiang-tiang yang kokoh, tiang-tiang bangsa yang mampu menumbuhkan generasi yang utuh secara jiwa dan raga, dan itu semua dimulai dari rumah.
Tugas Kita Bersama
Bagi para orang tua, marilah kita terus belajar menjadi pasangan yang lebih sabar dan bijaksana. Bagi para pendidik, mari jadikan tumpu-bumi tanpa batas perubahan yang muda. Bagi para tokoh dan cendekia, mari jadikan pendidikan keluarga sebagai isu sentral dalam pembangunan nasional.
Untuk seluruh anak bangsa, jangan pernah anggap remeh kekuatan cinta dan ketenangan di dalam rumah. Itulah energi yang membentuk kemerdekaan kita. Di tengah aneka tantangan yang kita hadapi, hari ini—dari krisis iklim, ekonomi, hingga disrupsi digital rumah tangga yang kuat akan menjadi benteng terakhir yang menyelamatkan masa depan negeri ini.
Kemerdekaan Harus Dirasakan di Rumah
Maka, saat kita memperingati Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia tahun ini, mari jangan hanya bertanya “apa arti merdeka bagi bangsa?”, tetapi juga “apa arti rumah kita sudah merdeka dari pertengkaran, pengabaian, dan kekerasan emosional?” Karena bangsa yang merdeka bukan hanya dilihat dari langit yang penuh bendera, tetapi dari rumah-rumah yang hidup tanpa kokoh—dengan cinta yang terus dihidupkan, dan dengan generasi yang tumbuh tanpa luka Wallahu a’lam.(amr)
Pekanbaru Pos Riau