LANGGAM (pekanbarupos.co) -Aksi pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kembali menghantui warga. Kali ini, masyarakat Kampung Dalam, Desa Segati, Kecamatan Langgam, mengeluhkan maraknya “ninja sawit” yang kian meresahkan.
Seorang warga, Udin (42) mengaku menjadi korban terbaru. Ia kehilangan lebih dari 200 kilogram TBS dari kebunnya yang hanya seluas 2 hektar.
Peristiwa itu terjadi pada Rabu (22/4/2026), diduga dilakukan pada sore hingga malam hari.
“Kalau musim panas mereka pakai sepeda motor. Tapi kalau banjir, pelaku masuk pakai robin, sampan kecil bermesin,” ungkap Udin.
Menurutnya, kerugian yang dialami bukanlah angka kecil. Dengan harga sawit yang saat ini menembus lebih dari Rp3.000 per kilogram, ia harus merelakan ratusan ribu rupiah hilang begitu saja.
“Bagi kami yang hanya punya 1-2 hektar, ini sangat terasa. Uang segitu sangat berarti untuk keluarga. Kalau yang punya puluhan hektare mungkin tidak terlalu terasa, tapi kami ini kecil, bang,” tuturnya lirih.
Udin juga menyoroti maraknya agen atau pengepul sawit yang dinilai turut membuka celah bagi pelaku pencurian. Menurutnya, tidak semua agen bersikap tegas terhadap asal-usul buah sawit yang dibeli.
“Ada agen yang baik, tidak mau beli kalau tidak jelas asalnya. Tapi banyak juga yang asal terima saja. Tidak peduli itu milik siapa, yang penting mereka dapat buah,” jelasnya.
Kondisi ini membuat warga semakin resah. Aksi pencurian yang berulang tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga mengikis rasa aman di lingkungan mereka.
Warga pun berharap pemerintah daerah bersama aparat kepolisian segera turun tangan. Penertiban terhadap agen sawit ilegal dinilai menjadi langkah penting untuk memutus rantai pencurian.
“Kami minta ada penertiban. Agen harus punya izin jelas, dan kalau terbukti membeli buah curian harus ditindak tegas,” tegas Udin.
Kini, di tengah kebun yang seharusnya menjadi sumber rezeki, warga justru diliputi kekhawatiran. Mereka hanya berharap satu hal sederhana, hasil jerih payah mereka tidak lagi dirampas oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.
“Apalagi sekarang bang, harga kebutuhan hidup terus naik, begitu pula harga pupuk juga melambung,” pungkasnya.(amr)
Pekanbaru Pos Riau