Kamis , 30 Juli 2026
Oplus_131072

Di Balik Optimisme Industri Kelapa, Ada Suara Petani yang Berharap Didengar

MANDAH-(pekanbarupos.co)-Di ruang pertemuan, optimisme itu terdengar begitu jelas. Sambu Group memaparkan komitmennya mempertahankan industri kelapa nasional di tengah tekanan ekonomi global, perang tarif, kenaikan biaya logistik, hingga melemahnya permintaan ekspor.

Hilirisasi disebut sebagai jalan agar kelapa Indonesia memiliki nilai tambah dan tetap mampu bersaing di pasar dunia.

Namun, beberapa ratus kilometer dari ruang rapat itu, di kebun-kebun kelapa milik masyarakat, terutama petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir, seperti di Kecamatan Mandah, terdengar cerita yang berbeda.

Bagi sebagian petani di Indragiri Hilir, persoalan hari ini bukan hanya pasar global. Yang lebih terasa adalah harga kelapa yang terus melemah.

“Harga kelapa bulat sekarang sekitar Rp1.600 per butir. Orang pun sudah mulai kurang membeli,” ungkap Ramli (43) seorang petani Desa Igal Kecamatan Mandah, Kamis (30/7/2026).

Keluhan lainnya menyangkut potongan saat penjualan. Sejumlah petani mengaku masih dikenakan potongan tertentu dan mempertanyakan sistem penimbangan yang menurut mereka belum sepenuhnya memuaskan.

“Pemotongan pada timbangan 3-8 persen. Kite tanye itu sudah aturan jawab pihak perusahaan. Masyarakat berat,”bebernya.

“Setelah dipotong biaya, upah angkut pompong, belum lagi pupuk dan racun, yang tersisa sangat sedikit,” keluh Ramli lagi bersama sejumlah petani lainnya kemarin

Warga pun tidak begitu memahami perkembangan global, termasuk bahwa perusahaan juga sedang menghadapi tekanan berat akibat kondisi ekonomi dunia.

Namun di sisi lain, petani berharap beban itu tidak sepenuhnya berujung pada mereka sebagai pemasok bahan baku.

Apalagi, berdasarkan paparan manajemen Sambu Group pada pertemuan dengan organisasi wartawan di Pekanbaru, Rabu (29/7/2026) sekitar 90 persen kebutuhan kelapa perusahaan berasal dari petani rakyat.

Angka itu menunjukkan bahwa petani bukan sekadar pemasok, tetapi mitra utama yang menopang keberlangsungan industri pengolahan kelapa.

Karena itu, ketika industri berbicara tentang keberlanjutan, para petani berharap kesejahteraan mereka juga menjadi bagian dari pembahasan.

“Kami mana tahu kalau perusahaan ada masalah seperti kejadian di Kuala Enok dan banyak potongan dari pemerintah. Kami tidak tahu. Yang kami rasakan harga kelapa semakin parah seolah tidak lagi berharga ditingkat petani,”kata Ramli.

“Dari harga Rp 1.600, petani harus bayar upah tambang ompong, tinggal lagi pemilik kebun Rp 400/biji. Belum beli racun, pupuk habis nol koma nol sekarang,”paparnya sedih sembari menambahkan harga kelapa sebelumnya mencapai angka Rp 10.000/butir.

“Kalau memang pihak Sambu Grup tidak mampu memberikan harga yang layak untuk petani, kami berharap pemerintah membuka keran dari investor luar, sehingga harga kelapa menjadi bersaing kembali,”pungkasnya.

Di tengah tantangan global, hubungan yang saling menguatkan antara perusahaan dan petani menjadi kunci. Perusahaan membutuhkan pasokan kelapa yang berkualitas dan berkelanjutan.

Sementara petani membutuhkan harga yang layak, sistem pembelian yang transparan, serta kepastian bahwa hasil jerih payah mereka mampu menghidupi keluarga.

Keberhasilan industri kelapa bukan hanya diukur dari besarnya nilai ekspor atau luasnya pasar internasional. Keberhasilan itu juga tercermin dari senyum petani yang setiap hari merawat pohon kelapa, memanen buahnya, lalu pulang dengan keyakinan bahwa kerja keras mereka dihargai secara adil.

Suara-suara dari kebun ini bukan untuk memperhadapkan petani dengan perusahaan. Sebaliknya, ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap produk kelapa yang menembus pasar dunia, ada tangan-tangan petani yang layak mendapat perhatian, penghargaan, dan kesejahteraan yang lebih baik. Bukan sebaliknya, terus ditekan.(amr)

 

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *