Perayaan Puncak Imlek di Selat Panjang

SELATPANJANG (pekanbarupos.co) — Puncak ibadah Imlek 2574 bagi masyarakat tiong hoa yang ada di Kota Selatpanjang, Kepulauan Meranti akan berlangsung pada, Jum’at (27/1/2023). Sebanyak 23 klenteng yang ada di Kota Selatpanjang akan dikunjungi oleh Dewa Cho Se Kong yang berulang tahun. Masyarakat tiong hoa juga menyebutkan imlek ke-6 dengan sebutan Cue Lak.
Pelaksanaan ibadah ini sendiri juga sudah dua tahun tidak dilaksanakan akibat Pandemi Covid-19. Dimana terakhir kali dilaksanakan pada Tahun 2019.
Imlek keenam atau cue lak ini mendapatkan perhatian oleh ribuan masyarakat. Tidak hanya masyarakat tiong hoa saja, tetapi masyarakat lainnya di Meranti ataupun luar Meranti yang sengaja datang ke Selatpanjang.
Sekretaris Yayasan Sosial Umat Beragama Budha (YSUBB), Tjuan An, menceritakan bahwa pawai arak-arakan dewa tersebut merupakan tradisi masyarakat Taonisme, bukan agama budha atau pun konghucu
“Ini tradisi dari tiongkok (daratan china) yang dibawa nenek moyang ke Selatpanjang sekitar lebih dari 100 tahun yang lalu,” katanya.
Dilanjutkannya saat itu, china dikuasai oleh Komunis. Komnunis memandang perayaan Imlek yang dilakukan masyarakat hanya menyusahkan, karena harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli peralatan sembayang (kertas, lidi hiu, dupa, buah-buahan dan lainya).
Sementara, masyarakat cina waktu itu dalam kondisi susah. Oleh karena itu Pemerintah komunis lanjutnya waktu itu memutuskan untuk melarang perayaan Imlek dan membakar semua patung dewa.
Pada saat itu, ada dua dewa yang dibawa lari oleh nenek moyang mereka ke Selatpanjang. Yakni Dewa Cho Se Kong dan Dewa Tua Pek Kong yang sekarang ditempatkan di vihara sejahtra sakti (klenteng tertua) di Jalan Ahmad Yani, Selatpanjang.
“Jadi tradisi perayaan cue lak (imlek ke 6) hari lahir cho se kong hanya dilaksanakan di Meranti. Karena dewa aslinya ada di sini. Dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu, sejak nenek moyang kami lari membawa dewa dari cina ke Selatpanjang,” sebutnya.
Makna dari tradisi ini tambahnya memperingati hari lahir Dewa che se kong. Selain itu dengan pawai keliling diharapkan bisa mengusir roh jahat, iblis dan segala macam bentuk kejatan dan bencana. Kegiatan tersebut mulai dilaksanakan sejak pagi hari hingga malam.
Setidaknya ada sebanyak tiga dewa yang diarak menggunakan tandu oleh panitia. Ketiga dewa tersebut ditandu sesuai dengan urutannya.
Paling depan sekali tandu yang ditempati Tian Tho Wan Sue (Dewa Perang), tandu ke 2 dihuni Lie Loh Chia (Dewa Perang) dan tandu ketiga diduduki Dewa Cho Se Kong.
Selain ketiga dewa tersebut juga terdapat sejumlah dewa pengiring. Dewa Pengiring itu diantaranya Dewa Lie Loh Chia (Panglima Perang), Dewa Tian Tho Wan Sue (Panglima Perang), Dewa Kuang Kong (Panglima Perang), Dewi Kuan In (Dewa Penyelamat Bumi), Dewa Sam Ong Hu (Dewa Raja), Dewa Tua Li Giah Peh (Dewa Neraka), Dewa Huat Cu Kong (Dewa Bumi), Dewa Sam Tai Kong (Dewa Bumi), Goh Ong Giah Kong (Dewa Raja), Tua Lang Kong (Dewa Raja), Dewa Tua Pek Kong (Dewa Wilayah)
Namun dewa pengiring tersebut bukan dalam bentuk patung, namun dipercaya masyarakat tiong hoa dalam bentuk roh yang merasuki warga-warga pilihan tiong hoa atau mereka menyebutnya Tang Ki.
Dijelaskan Tjuan An, Tang Ki adalah orang yang dipilih oleh para dewa untuk dirasuki. Tidak semua orang bisa menjadi Tang Ki, hanya orang terpilih saja. Para Tang Ki akan sangat dihargai oleh masyarakat tionghoa, karena dianggap sebagai orang sakti dan orang pilihan para dewa. Yang menjadi tang ki adalah orang yang sama setiap tahunnya. Sampai ia mati atau Dewa nya memilih tubuh orang lain sebagai media.
Pada pagi hari imlek ke 6, para Tang Ki akan disiapkan dengan berbagai ritual di masing-masing vihara. Sedikit bacaan, kemudian minum segelas teh (kalau dulu arak, sekarang tidak lagi dibolehkan oleh YSUBB). Kemudian secara otomatis, tangki mulai kerasukan dewa yang menjadi pemilik tubunhnya.
Baru kemudian para imam di vihara menusuk berbagai besi ke tubuh Tang Ki. Setelah itu akan diantar ke Vihara Sejahtera Sakti untuk berkumpul dengan para Tang Ki dari vihara-vihara lain. Setelah itu para tanki akan diarak bersama tiga dewa yang ditandu untuk berkeliling ke 23 vihara yang sudah ditetapkan oleh panitia.
“Kita sudah berkoordinasi dengan seluruh pihak dalam pelaksanaan cue lak besok. Sehingga bisa berjalan lancar dan sukses. Cue Lak akan mulai dilaksanakan mulai pagi hari hingga sore hari,” kata Tjuan An. (dam)
Pekanbaru Pos Riau