Selasa , 19 Mei 2026
Ikan ikan yang mengapung karena keracunan limbah.sal

Sungai Ngasoku Sayang, Sungai Ngasoku Malang

UJUNGBATU (pekanbarupos.co) — Kelestarian hutan termasuk sungai sudah menjadi penekanan yang harus dilindungi setiap manusia untuk menjaga keseimbangan dan kestabilan alam.

Namun di era sekarang hal seperti itu sangat sulit didapatkan, perkembangan zaman dengan tingginya tingkat investasi yang masuk menanamkan saham di satu daerah seperti satu ‘bom waktu’ yang siap menghantam mengancam kestabilan alam tadi.

Menilik 15 sampai 20 tahun ke belakang Sungai Ngaso dan Sungai Danto yang terletak di Kecamatan Ujung Batu yang membelah antara Desa Sukadamai, Ujung Batu Timur, Ngaso dan Kelurahan Ujung Batu menjadi pilihan utama bagi masyarakat sekitar untuk mandi, cuci bahkan kakus.

Belum lagi, khusus Desa Ngaso, sungai yang bermuara ke Sungai Rokan itu dijadikan tempat mencari nafkah buat keluarga dengan mencari ikan secara tradisional, dan sebagian lagi menambang pasir secara tradisional.

Zaman berubah seperti berputar 100 derajat sejak adanya perusahaan industri kelapa sawit di hulu sungai, kedua Sungai (Sei Danto, dan Sungai Ngaso) ibarat ‘Neraka’ bagi habitat air maupun manusia yang ada di bantaran Sungai.

Bagaimana tidak, limbah bekas pengolahan buah sawit rasanya tak pernah absen melintas bahkan secara membabi-buta membunuh makhluk yang ada di dalam air. Bukan saja ikan-ikan besar, yang kecil pun tak diberi kesempatan untuk tumbuh menghiasi Sungai.

Meski hari ini Sungai sudah tidak menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat, setidaknya masih banyak masyarakat yang bisa memanfaatkan Sungai untuk menambah pendapatan untuk menyambung hidup.

Sebut saja Buyung Tio, warga Desa Ngaso ini sudah sejak lama tidak lagi melakukan aktivitas mencari ikan dan menambang pasir di Sungai Ngaso ini. “Olah lamo ndak cai ikan pak, lah ado 8 tahun sejak aie koruh hitam bebaun. Indak ponah kami cai ikan dan tambang pasie dokek situ,” keluh Tio dengan logat minangnya.

Dia bercerita pernah menderita gatal-gatal sewaktu masih mencari ikan di Sungai Ngaso. Sejak itu tak ada lagi warga yang mau masuk ke Sungai baik menambang pasir atau mencari ikan. “Kalau dulu toruih kami dapek ikan bauang patin di Sungai ko. Kalau kini ntah lah pak, kalau ado limbah lewat baru nginyam ikan wak,” sebutnya.

Prihatin, ya cukup prihatin dengan keadaan ini. Bukan kita tidak mendukung perkembangan dan pesatnya arus investasi yang masuk ke Negeri Seribu Suluk ini. Tapi, kearifan lokal yang dijunjung tinggi masyarakat Riau harus juga mendapat tempat di mata pemangku kebijakan dan pengusaha.(sal)

About Linda Agustini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *