BAGANSIAPIAPI (pekanbarupos.co) – Seorang siswa SD di Kecamatan Bangko terkapar usai dianiaya seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Diketahui, pelaku juga kritis dihajar massa.
Kejadian itu menimpa S, Selasa (3/9). Kronologis kejadian bermula saat itu dirinya bersama temannya bermain sedang bermain di salah satu masjid, kebetulan di sana juga ada B (ODGJ). Terpantau di rekaman CCTV masjid, awalnya S bersama rekannya tampak berbicara dengan B, lalu S terlihat berdiri dan lari menjauh disusul oleh B yang tampak marah sehingga menganiaya korban S hingga terkapar di lantai masjid tersebut.
Tak berapa lama, terlihat seseorang masuk dan kaget melihat kondisi siswa kelas 3 SD otu tergeletak dengan berlumuran darah. Lalu ia membersihkan darah dilantai kemudian mengangkat tubuh korban keluar dari dalam mesjid untuk mendapatkan pertolongan.
Saat ditemui di RSUD dr Pratomo Bagansiapiapi, Desi ibu korban menceritakan bahwa ia mengetahui anaknya mengalami kejadian tersebut dari teman S yang kebetulan sedang bersama saat kejadian.
“Kami taunya anak kami pergi sekolah. Tapi tiba-tiba mendengar kejadian seperti ini. Kami tak tau kejadian pastinya karena kami di rumah saat kejadian itu. Ada yang bilang anak kami diseret dan untungnya ada orang naik motor yang menolong, itu yang sampai ke telinga kami. Siapa yang tak sakit hati mendengarnya,” ucap Desi.
Ia menceritakan bahwa anaknya sempat muntah dan mengeluarkan darah, kepalanya bengkak dan saat ini terasa susah bernafas karena rasa nyeri di dada.
“Kami datangi keluarga pelaku, tapi keluarga nya lepas tangan. Bahkan kami tak dipersilahkan masuk kedalam rumah. Ada bahasa mereka yang bilang kami sudah tak mau ikut campur. Setelah itu saya bawa anak saya ke rumah sakit, hingga sekarang saya tak ada kemana mana. Saya tidak tau ada pemukulan itu,” tegasnya.
Dari informasi yang beredar, ODGJ tersebut dilarikan ke RSUD dengan kondisi kritis setelah dipukul oleh beberapa orang. Dan video ODGJ dihajar massa beredar di media sosial yang membuat heboh.
Menanggapi kejadian itu, Dinas Sosial Rokan Hilir bersama UPT Perlindungan Perempuan dan Anak langsung mengunjungi korban maupun pelaku. Dalam kunjungannya, Plt Kepala Dinas Sosial Rokan Hilir Alam JP mengaku sangat prihatin melihat kejadian ini, ia berharap apa yang dialami S tidak lagi terulang kepada orang lainnya.
“Ini pelajaran buat kita semua dan tentunya sangat kami sayangkan. Karena kami di Dinas Sosial sudah menjalankan tugas kami sebagaimana mestinya. Dinas sosial itu bertugas sebagai rehabilitatif. Setelah ia di rujuk ke RSJ dan dinyatakan sudah bisa pulang, maka kami serahkan ke keluarganya. Disana juga ada peran keluarga, Dinas kesehatan bagian pengawas minum obatnya. ODGJ seperti B ini minum obatnya harus rutin dan seumur hidup. Jadi harus dipantau, bukan semuanya ada di Dinas sosial, namun kita tetap melakukan pemantauan,” ujarnya saat di temui awak media, Rabu (4/9).
Untuk menghindari hal serupa Alam menyebutkan akan melakukan beberapa perbaikan di Pokja yang terdiri dari beberapa instansi terkait untuk menangani masalah odgj di Rokan Hilir ini. Seperti Satpol PP, Dinas kesehatan serta instansi lainnya.
“Masalah ini menjadi perhatian kita semua, dan untuk menangani masalah ini memang harus ada kerjasama semua pihak. Dan ODGJ inipun setelah kami rehabilitasi harusnya menjadi tanggung jawab keluarga untuk memantau minum obatnya. Jika abai, hal hal seperti inilah yang kami takutkan. ODGJ seperti B ini bisa sembuh, tapi peran keluarga, lingkungan dan stakeholder terkait juga sangat penting. Tugas kami yang utama setelah di rehabilitasi maka kami berdayakan juga,” tutupnya. (ian)
Pekanbaru Pos Riau