Jumat , 2 Oktober 2026

PT ITA dan Warga Desa Tanjung: Merajut Harapan di Telaga Air Merah

Di sebuah sudut Desa Tanjung Kecamatan Tebingtinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti, terdapat sebuah telaga gambut yang airnya berwarna kemerahan ketika disinari matahari.

Tak ada yang menyangka, tempat ini dulu hanyalah waduk bekas PDAM yang terbengkalai hampir sembilan tahun, diselimuti semak belukar dan dianggap angker.

Tapi berkat gotong royong pemuda desa dan dukungan nyata PT Imbang Tata Alam (ITA), kawasan ini menjelma menjadi destinasi wisata unggulan.

Telaga itu kini menjadi tempat warga melepas penat, wisatawan berfoto, anak-anak bermain, dan pedagang menggantungkan hidup. Namanya Telaga Air Merah.

Oleh : Dhamean Hasibuan

Dari “Kue Kubou” hingga BUMDes

Kisah perubahan ini dimulai tahun 2018. Selamat Riyadi, Ketua BUMDes Tanjung Mandiri, bersama pemuda desa berinisiatif membuka kawasan yang kala itu penuh ilalang. Modalnya? Bukan uang, melainkan semangat gotong royong dan bekal sederhana berupa kue gabin atau kubou masyarakat setempat menyebutnya.

“Mulai dari kena parang, tersayat seng, sampai luka baret sudah jadi cerita kami semua waktu itu. Tapi semangatnya besar,” kenang Selamat sambil tersenyum.

Perlahan, area telaga mulai terbuka. Tahun 2019 dibentuklah BUMDes, dan melalui musyawarah desa mereka akhirnya mendapat sokongan dana dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Provinsi Riau.

Pada 12 Juni 2020, Telaga Air Merah resmi dibuka untuk umum, meski dengan fasilitas yang masih jauh dari kata memadai. Jumlah pengunjung saat itu hanya ratusan, dan lebih sering tutup daripada ramai.

Lalu pandemi Covid-19 melanda. Semua kegiatan wisata ikut terhenti. Namun, semangat masyarakat tak padam. Gotong royong tetap berlanjut, meski tanpa kepastian kapan kawasan itu benar-benar bisa hidup.

PT ITA Hadir, Harapan Masyarakat Berkembang

Titik balik datang pada 2021 ketika PT Imbang Tata Alam (ITA) mulai terlibat. Kehadirannya tidak sekadar sebagai donatur, melainkan mitra yang berjalan bersama masyarakat.

Dukungan PT ITA hadir dalam bentuk nyata: pembangunan mushalla, toilet, wahana bebek air, tenda perkemahan, hingga fasilitas pembakaran sampah. Tidak hanya itu, setiap tahun perusahaan ini menyokong penyelenggaraan pacu sampan, lomba tradisional yang menjadi ikon Telaga Air Merah.

“Perjuangan yang dilakukan oleh kawan-kawan kami coba support. Kami bukan Superman yang datang lalu semua langsung berhasil. Kami hanya fasilitator sekaligus katalisator. Katalis itu ibarat sabun, membuat air dan minyak bisa bercampur. Artinya, kami mempercepat proses perubahan,” ujar Arip Hidayatuloh, Field Sr. CSR Officer PT ITA.

Pandangan itu menunjukkan satu hal, pembangunan desa wisata tak bisa hanya mengandalkan uang, melainkan juga semangat dan kolaborasi.

Dari Semak Belukar ke Sumber Ekonomi Baru

Kini, wajah Telaga Air Merah jauh berbeda. Di sekitar telaga, deretan warung berdiri. Para pedagang yang dulunya bekerja sebagai pemotong karet kini beralih profesi, mengais rezeki dari wisatawan.

BUMDes Tanjung pun ikut menuai berkah. Unit jasa penyeberangan kempang, misalnya, memberi penghasilan Rp1,5–2 juta per minggu untuk warga secara bergiliran. Sistem jadwal mendayung melibatkan warga dari RT 1 hingga RT 12, sehingga manfaat ekonomi tersebar merata.

Lebih jauh, data menunjukkan lonjakan luar biasa pada Pendapatan Asli Desa (PAD). Pada 2022, PAD dari Telaga Air Merah tercatat Rp19,5 juta. Setahun kemudian naik menjadi Rp21 juta. Lalu pada 2024, melonjak hingga Rp52 juta. Sementara itu, sisa hasil usaha BUMDes mencapai Rp129,8 juta—dibagi rata untuk PADes 40% (Rp51,9 juta), dana sosial 20% (Rp25,9 juta), pemupukan modal 30% (Rp38,9 juta), dan bonus pengelola BUMDes 10% (Rp12,9 juta).

Angka-angka itu bukan sekadar nominal. Ia adalah bukti nyata bahwa sebuah telaga bisa menjadi sumber ekonomi baru.

Jalan Mulus, Akses Terbuka

Namun, wisata tak akan berkembang tanpa akses yang memadai. PT ITA paham betul soal ini. Meski regulasi CSR migas membatasi bantuan untuk infrastruktur, perusahaan menemukan jalan keluar, yakni menyediakan material, sementara pengerjaan dilakukan oleh masyarakat dengan pola swakelola.

Hasilnya, jalan menuju Desa Tanjung kini lebih mulus, mempermudah wisatawan berkunjung sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga.

“Kalau jalan jelek, orang enggan datang. Maka pembangunan jalan ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi bagian dari strategi membangun desa wisata,” jelas Arip.

Prosesnya dilakukan bertahap, bahkan dimulai saat pandemi ketika dana perusahaan terbatas. Namun, komitmen PT ITA untuk menjadikan Telaga Air Merah sebagai destinasi wisata unggulan tidak pernah surut.

Puncak Keramaian dan Masa Depan Festival

Setelah melewati masa sulit, Telaga Air Merah kembali viral di media sosial pada akhir 2024. Sejak itu, jumlah pengunjung meningkat drastis.

Puncaknya terjadi pada momen Tahun Baru 2025, ketika 2.500 orang memadati kawasan wisata hingga sebagian tak bisa masuk.

Berdasarkan catatan pengelola, lebih dari 7.000 orang berkunjung sepanjang periode 2024-2025. Angka itu didapat dari akumulasi penjualan tiket masuk yang dipatok seharga Rp5.000 per orang.

Untuk operasional, Telaga Air Merah hanya dibuka pada akhir pekan, tepatnya hari Sabtu dan Minggu. Selain tiket masuk, pengunjung juga bisa menikmati beragam wahana seperti sepeda air seharga Rp15.000 dan sampan Rp10.000 untuk durasi 10 menit.

Menariknya, meski ada wahana berbayar, pengelola tetap menyediakan fasilitas gratis seperti gazebo dan spot foto. Kehadiran fasilitas ini semakin menambah daya tarik, terutama bagi keluarga maupun rombongan yang ingin berwisata dengan nyaman dan hemat.

Momentum itu menjadi bukti bahwa Telaga Air Merah memiliki daya tarik besar. Maka, masyarakat bersama pengelola berencana mengembangkan festival tahunan. Pada 2026, Festival Telaga Air Merah keenam akan digelar dengan konsep lebih luas.

Tak hanya pacu sampan, tetapi juga menampilkan tradisi budaya Melayu khas Meranti, seperti nyucuk (membuat) atap daun rumbia dan kesenian rakyat lainnya.

Tujuannya jelas, agar wisata ini bukan hanya jadi destinasi, tetapi juga ruang pelestarian budaya.

Suara Masyarakat: “Terima Kasih PT ITA”

Bagi masyarakat Desa Tanjung, kehadiran PT ITA ibarat oase di tengah perjuangan panjang. Dukungan perusahaan bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga tentang kepercayaan bahwa mereka mampu membangun.

“Kami berterima kasih kepada PT ITA. Kalau tidak ada bantuan mushalla, toilet, dan fasilitas lain, mungkin Telaga Air Merah tidak akan seperti sekarang. Apalagi mereka juga mendukung pacu sampan, yang menjadi kebanggaan kami setiap tahun,” ungkap Selamat Riyadi.

Seorang pedagang di kawasan telaga, Ibu Marsiyem, juga menambahkan. “Dulu saya hanya bisa menoreh karet, penghasilannya pas-pasan. Sekarang saya bisa berjualan di sini, alhamdulillah rezeki lebih baik. Terima kasih PT ITA sudah peduli,” ungkapnya.

Ucapan-ucapan itu sederhana, tapi sarat makna. Perusahaan hadir bukan hanya membangun fasilitas, tetapi juga membangun harapan.

Telaga Air Merah, Telaga Harapan

Telaga Air Merah bukan sekadar hamparan air berwarna kemerahan. Ia adalah cermin perjuangan, tempat setiap tetes keringat pemuda, doa orang tua, dan kepedulian perusahaan berpadu menjadi satu. Di tepian telaga ini, ekonomi baru tumbuh, tradisi lama kembali hidup, dan harapan diwariskan ke anak cucu.

Warga Desa Tanjung menyebutnya telaga, tapi sejatinya inilah telaga harapan—yang lahir dari semangat gotong royong, disuburkan oleh kasih sayang alam, dan dipercepat oleh tangan-tangan peduli dari PT Imbang Tata Alam (ITA).

Maka, setiap pengunjung yang datang tak hanya menikmati pemandangan, tapi juga merasakan sebuah pesan, bahwa kolaborasi tulus mampu mengubah yang terbengkalai menjadi kebanggaan bersama.(***)

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *