Rabu , 11 Februari 2026
Oplus_131072

Fiza Yuliani, Bocah 8 Tahun dari Desa Air Kuning Berjuang Melawan Sakit

PANGKALANKERINCI(pekanbarupos.co)Di sebuah rumah sederhana di Desa Air Kuning Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, seorang gadis kecil duduk lemah di atas kasur tipis. Namanya Fiza Yuliani, anak berusia 8 tahun yang seharusnya masih riang berlari dan tertawa bersama teman sebayanya. Namun, tubuh mungil itu kini digerogoti penyakit.

Fiza baru saja mendapat diagnosa medis dari Rumah Sakit Umum Daerah Selasih (RSUD), Pangkalan Kerinci. Dokter menyatakan ia menderita typhoid fever (demam tifoid), disertai gangguan pencernaan dan kondisi gizi kurang. Dalam surat kontrol yang ditandatangani dokter spesialis anak, Fiza diminta untuk terus menjalani perawatan intensif.

Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat, dan senyumnya nyaris hilang. Seakan-akan sakit telah merenggut sebagian besar masa kecilnya.

Di balik penderitaan itu, ada keluarga yang berjuang keras. Ayahnya, Saharudin, seorang yang sederhana pekerja kebun kelapa sawit milik orang lain. Ibunya, Bidasari, sehari-hari mengurus rumah tangga. Awalnya tinggal di Dusun II, Desa Gambut Mutiara, Kecamatan Teluk Meranti, daerah yang jauh dari pusat layanan kesehatan.

Namun sejak sebulan terakhir, keluarga kecil ini, karena alasan ekonomi berusaha merubah nasib ke Kecamatan Kerumutan, persisnya Desa Air Kuning.

Untuk membawa Fiza berobat, keluarga harus menempuh perjalanan panjang menuju Pangkalan Kerinci. Biaya transportasi, makan, hingga obat-obatan, menjadi beban berat bagi ekonomi keluarga yang hanya bertumpu pada hasil kerja kebun orang. Namun, demi anak semata wayang mereka, semua ditempuh dengan tabah.

Menurut keterangan pengurus Rumah Relawan Dhuafa (RRD), Dedi Azwandi, kepindahan itu dilakukan dalam keadaan sulit. Sang ibu sedang hamil tua, sementara Fiza mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi.

“Orang tuanya hanya buruh kebun sawit milik orang lain. Saat kami temukan, kondisi Fiza sudah memprihatinkan. Maka kami ungsikan sementara ke Rumah Relawan Dhuafa agar mendapat perhatian dan penanganan lebih baik,” tutur Dedi, Selasa (30/9/2025).

Kini, Fiza berada di bawah pantauan relawan. Ayahnya tetap berjuang mencari nafkah dari hasil kebun, sementara ibunya menanti hari melahirkan dengan perut yang kian membesar. Hidup mereka bergantung pada belas kasih dan uluran tangan orang-orang sekitar.

“Jadi, kalau ibunyas sudah siap melahirkan dan sudah sehat maka kita serahkan kepada mereka untuk pulang atau bagaimana. Namun, yang jelas sekarang ini kami berikan tempat dulu di RRD, biar mudah memantau perkembangan kesehatannya termasuk ibunya yang sedang hamil berat menunggu kelahiran anak mereka yang kedua,”ungkap Dedi

Meski sakit, mata Fiza masih menyimpan harapan. Harapan sederhana, ingin sehat, bisa kembali bersekolah, bermain bersama teman, dan menikmati masa kecil seperti anak-anak lainnya.

Kisah Fiza bukan hanya tentang satu anak, melainkan cermin dari banyak keluarga kecil di pelosok negeri yang terhimpit keterbatasan. Fiza adalah suara kecil yang meminta perhatian bahwa setiap anak berhak sehat, berhak tumbuh, dan berhak merasakan masa kecil yang bahagia.

Fiza adalah anak adalah masa depan bangsa, dan masa depan itu tidak boleh padam hanya karena keterbatasan.(amr)

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *