Selasa , 16 Desember 2025
Oplus_131072

Fiza Yuliani, Bocah Kurang Gizi yang Kini Mulai Tersenyum Lagi

Fiza Yuliani bocah asal Kecamatan Kerumutan yang kekurangan gizi. 

PANGKALANKERINCI(pekanbarupos.co)-Namanya Fiza Yuliani. Bocah kurus kering dari pelosok Kecamatan Kerumutan itu beberapa waktu lalu membuat banyak hati terenyuh.

Tubuhnya yang ringkih, matanya sayu, dan langkahnya yang tak mampu ditegakkan membuat siapa pun yang melihat langsung memahami bahwa ia sedang berjuang bukan melawan musuh, tetapi melawan keadaan.

Ketika pertama kali tiba di Rumah Relawan Dhuafa (RRD) dua bulan lalu, Fiza 8 tahun bahkan tak bisa berdiri. Berat badannya hanya 14 kilogram, jauh dari angka normal anak seusianya. Kabar kondisi Fiza menyebar cepat. Namun, begitu juga dengan simpati yang datang.

Kala itu, dokter menyatakan Fiza kecil menderita typhoid fever (demam tifoid), disertai gangguan pencernaan dan kondisi gizi kurang.

“Tugas kami selesai untuk anak cantik yang kekurangan gizi ini. Saat pertama datang 14 Kg, alhamdulillah selama perawatan dalam pengawasan kami naik menjadi 21 Kg,” ujar Dedi Azwandi, salah satu pendamping yang juga pengelola RRD yang terlibat dalam penanganan Fiza, Jumat (21/11/2025).

Angka itu bukan sekadar berat badan. Itu adalah simbol harapan. Bukti bahwa ketika banyak tangan bergandengan, satu nyawa kecil bisa diselamatkan. Perubahan itu kini membawa kehangatan dan kebahagiaan banyak, paling utama tentu sang ayah Saharudin (48) dan siibu Bidasari (25).

Dedi, penggiat sosial ini juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu.

“Terima kasih buat semua yang telah mengambil bagian terkait anak dan warga kurang mampu ini,”ungkap Dedi menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya sambil menyebutkan Fiza dan keluarga plus adik bayi yang dilahirkan ibunya selama dalam pengawasan pihak RRD diantar ke rumahnya kos di Desa Air Kuning Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan pada Kamis (20/11/2025) lalu.

Namun, ia juga meninggalkan pesan penting, agar bantuan sosial seperti PKH atau bantuan lain benar-benar tepat sasaran.
“Kemarin Fiza dan keluarganya sudah kami antar lagi ke rumah kos mereka di Kerumutan. Kepada semua pihak juga hendaknya tidak putus perhatiannya untuk keluarga ini,”harapnya.

Tapi, jejak perjalanan Fiza belum selesai. Ia masih butuh pendampingan gizi, pendidikan, dan dukungan moral. Namun kini, langkahnya mulai tegap. Senyum kecilnya perlahan muncul kembali. Dan itu cukup menjadi alasan bagi semua pihak untuk terus melanjutkan kepedulian.

Dedi bertutur, kisah Fiza adalah pengingat bahwa kemiskinan tak boleh berjalan sendirian. Ada negara yang bertanggung jawab, ada masyarakat yang sigap, dan ada rasa kemanusiaan yang tak boleh padam.

“Karena di balik berat badan yang kembali naik, ada masa depan seorang anak yang kembali menemukan peluang untuk hidup layak,”paparnya.

Di sebuah halaman sederhana di Desa Aur Kuning, Kecamatan Kerumutan, tampak seorang ibu muda berdiri sambil menggendong bayinya yang baru lahir. Di sampingnya, seorang anak kecil memeluk erat selimut pemberian wajahnya polos, namun menyimpan cerita panjang tentang keterbatasan dan perjuangan.

Merekalah keluarga Fiza Yuliani, bocah yang sempat divonis kekurangan gizi dan membuat banyak pihak tergerak.

Rumah Kontrakan Rp100.000 per sambung Dedi merupakan potret kemiskinan yang tak ditampik.

“Keluarga ini tinggal di rumah kontrakan kecil dengan biaya hanya Rp100.000 per bulan. Sebuah angka yang menunjukkan betapa berat kehidupan ekonomi mereka. Dinding papan, halaman berpasir, dan fasilitas seadanya menjadi latar perjuangan yang tak tampak dari luar,”beber pengelola RRD dengan sedih. Apalagi, sang ayah Fiza sudah tak bekerja lagi sebagai tukang kebun sawit sejak mengurus anaknya serta isterinya yang juga melahirkan.

Foto keluarga ini menangkap semuanya, kesederhanaan hidup, kerapuhan kondisi, namun juga ketegaran seorang ibu yang tetap tersenyum sambil menggendong bayinya.

Anak perempuan itu berdiri di sampingnya, memegang baju dan selimut pemberian seakan itu adalah harta baru yang sangat berharga.

“Beras pun kami tinggalkan bang, alat-alat sekolah, sepatu dan tas sudah, mudah-mudahan masuk sekolah lagi,”beber Dedi.

” Alhamdulillah, nah ini lah, PKH, bantuan Konsumtif Baznas belum dapat dia bang, mudah-mudahan setelah punya KK Kerumutan ada yang mau bantu uruskan dan pihak Baznas mau pula mendistribusikan bantuannya bang,”harap Dedi.

Di balik pulihnya Fiza, ada peran masyarakat yang luar biasa. Terpisah, Camat Kerumutan, Rusdiyanto, S.Kep, menjelaskan bahwa sebelum dibawa ke rumah sakit, masyarakat sudah lebih dahulu bergerak.

“Sebelum ke RS, masyarakat sudah menyiapkan bantuan makanan bergilir dari jamaah wirit Yasin. Kalau kondisi sudah memungkinkan, nanti kita ajak masuk sekolah terdekat.”

Empati itu tidak berhenti di situ. Para ibu-ibu kampung ikut dilibatkan agar Fiza terus mendapatkan perhatian. “Kami koordinasikan dengan ibu-ibu,” ujar camat.

Rusdiyanto memastikan bahwa pemerintah kecamatan akan memikul tanggung jawab lebih jauh.

“Saya akan koordinasi dengan Kadus terkait agar bantuan bisa berlanjut. Begitu juga pendidikan anaknya, kami akan koordinasikan dengan Korwil agar ia bisa sekolah di dekat rumah. Apalagi kalau sudah punya KK Kerumutan, berarti sudah menjadi tanggung jawab kami,”ungkap Camat berjanji

Semoga lebih banyak “Fiza-Fiza” lain yang bisa diselamatkan. Semoga kita semua tidak menjadi zalim karena salah sasaran, dan semakin tajam dalam melihat siapa yang benar-benar membutuhkan uluran tangan.amr

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *