PANGKALANKERINCI(pekanbarupos.co)-Malam itu, 26 Sya’ban 1447 H, Masjid Nourah Al Badr bukan sekadar bangunan yang berdiri megah di Jalan Jambu Gang Swadaya Kelurahan Pangkalan Kerinci Timur Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan Riau. Ia menjelma menjadi lautan manusia.
Sebelum Maghrib, Jumat (13/2/2026) ribuan jemaah datang dari berbagai penjuru. Dari dalam kota hingga luar daerah. Dari kalangan orang tua, pemuda, hingga anak-anak. Semua berkumpul untuk satu tujuan: menuntut ilmu.
Masjid yang pembangunannya belum sepenuhnya rampung itu tak lagi mampu menampung gelombang manusia yang terus berdatangan. Lantai satu dan dua dipenuhi jamaah, khususnya akhwat di bagian atas. Teras, halaman, hingga tenda darurat menjadi saf tambahan.
Dalam catatan pribadi, ini adalah kajian paling ramai yang pernah digelar di daerah ini.
Dauroh Ilmiah tersebut menghadirkan Ustadz DR Firanda Andirja, MA hafizhahullah alumnus Universitas Islam Madinah. Tema yang diangkat begitu dekat dengan hati kaum beriman, menyambut Ramadhan yang tinggal menghitung hari.
Beliau menyampaikan dalil demi dalil. Ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits shahih, hingga atsar para Salaf. Semua mengarah pada satu pesan penting,
Ramadhan bukan rutinitas.
Ramadhan adalah kesempatan emas.
Kualitas dan kuantitas ibadah harus berbanding lurus. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi momentum perbaikan diri. Bahkan para Salaf, enam bulan sebelum Ramadhan, sudah berdoa agar dipertemukan dengannya.
“Berdoalah, bertaubatlah, dan pelitlah dengan waktu,” demikian pesan yang terasa menghujam. Waktu adalah modal terbesar seorang mukmin.
Tak lupa ustadz yang pernah menebarkan ilmunya di Masjid Nabawi ini berpesan untuk mendoakan kebaikan untuk keluarga yang berwaqaf, semoga Allah rahmat, dan Allah angkat derajat mereka dunia dan akhirat. Karena melalui wasilah mereka kini hadir masjid tersebut.
Masjid yang Muncul Cepat, Dakwah yang Tumbuh Pesat
Nama Masjid Nourah Al Badr mungkin masih terasa asing bagi sebagian masyarakat Kabupaten Pelalawan, khususnya Pangkalan Kerinci. Namun kehadirannya menjadi penanda baru geliat dakwah tauhid di daerah ini.
Berdiri di atas lahan sekitar 30 x 50 meter, dengan bangunan kurang lebih 21 x 25 meter, masjid ini disebut-sebut sebagai “Abu Darda mini” merujuk pada Masjid Abu Darda di Pekanbaru.
Nilai pembangunannya ditaksir lebih dari Rp 8 miliar. Waqaf dari muhsinin Madinatul Munawwarah untuk keluarga Nourah Al Badr rahimahallah, ditambah kolaborasi muhsinin Pekanbaru dan partisipasi umat.
Dalam hitungan bulan, bangunan megah itu berdiri. Bahkan Asisten Bidang Pembangunan Kabupaten Pelalawan, H Zulkifli, S.Ag, yang mewakili Bupati H Zukri Misran, mengaku terkejut dan kagum.
“Maa syaa Allah, mungkin inilah masjid termahal dan termegah di Kabupaten Pelalawan. Bayangkan saja satu keping dindingnya saja Rp 12 juta,” kata Zulkifli tanpa menyebutkan sumber harga tersebut.
Dia juga berharap dengan masjid yang megah dan nyaman ini masyarakat akan berlomba-lomba memanfaatkan masjid untuk beribadah, sebagai bekal akhirat juga menangkal berbagai pengaruh akhir zaman.
Zulkifli juga menyatakan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran Ustadz Firanda Andirja. “Kalau biasanya saya hanya menikmati ceramah beliau lewat dunia maya, alhamdulillah kesempatan ini bisa bertemu dan mendengar langsung ceramah agama beliau,” ujar Asisten Bupati ini.
Namun kemegahan sejati bukan pada dindingnya yang konon bernilai jutaan rupiah per keping. Kemegahan itu ada pada saf-saf yang terisi. Pada hati-hati yang hidup.
Sholat Jumat Perdana, Langkah Awal yang Menggetarkan
Sebelum dauroh ilmiah digelar, masjid ini terlebih dahulu mengadakan sholat Jumat perdana. Muazin dan khatib datang dari Madinah. Di antaranya Syaikh Abdurrahman Abdurrazaq.
Suasana terasa berbeda. Ada ruh yang terasa hangat. Ada harapan yang menguat.
Panitia pembangunan, Ardi Abu Rohid, menegaskan:
“Masjid bukan untuk satu golongan. Tapi untuk kaum muslimin semuanya.”
Kalimat itu menjadi penegas arah: masjid ini ingin menjadi rumah bagi setiap muslim yang ingin mendekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Dauroh Ilmiah ini bukan sekadar acara besar. Ia adalah cermin perubahan. Dulu, kajian sunnah di daerah sering dipandang asing. Kini, ribuan orang rela duduk berjam-jam, berdesakan, bahkan sholat dan mendengar kajian dari luar bangunan.
Ini bukan hanya tentang satu ustadz. Bukan hanya tentang satu masjid. Ini tentang kesadaran yang tumbuh.
Tentang masyarakat yang mulai haus ilmu. Tentang generasi muda yang memenuhi saf. Tentang dakwah tauhid yang semakin mengakar di Bumi Pelalawan.
Jika dulu kajian sunnah dianggap kecil dan terbatas, hari ini ia menjelma menjadi arus yang tak lagi bisa dipandang sebelah mata.
Harapan yang Terjaga
Masjid Nourah Al Badr masih dalam tahap pembangunan. Namun ruhnya sudah hidup.
Harapan pun disematkan agar masjid ini terus dimakmurkan dengan kajian-kajian ilmiah, tahsin Al-Qur’an, dauroh, dan pembinaan umat yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Salaf.
Ramadhan tinggal menghitung hari. Masjid telah berdiri.
Saf telah penuh.
Kini tinggal satu pertanyaan:
Siapkah hati kita menyambut bulan suci sebagaimana para Salaf dahulu mempersiapkannya?
Di Pangkalan Kerinci, cahaya itu mulai terlihat semakin terang.amr
Pekanbaru Pos Riau