
Pernahkah terbayangkan seorang anak yang gagal mencapai tinggi badan optimalnya bukan karena faktor genetik, melainkan akibat kekurangan gizi pada masa-masa awal kehidupannya? Inilah yang disebut stunting. Berdasarkan Survei.
Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 21,5% balita di Indonesia masih mengalami kondisi ini, angka yang masih terpaut jauh dari target nasional sebesar 14%.(1)
Stunting bukan semata persoalan tinggi badan. Dampaknya jauh lebih dalam, mulai dari terhambatnya perkembangan kognitif, rentan terhadap penyakit, hingga berkurangnya kemampuan anak untuk bersaing dan berkontribusi di masa depan. Kabar baiknya, stunting bisa dicegah. Kuncinya ada pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun. Para ahli sepakat bahwa inilah jendela emas yang paling menentukan tumbuh kembang anak.(2)
ASI, Makanan Terbaik yang Sudah Tersedia Sejak Lahir.
ASI adalah pilihan terbaik untuk bayi. Tidak ada produk manapun yang mampu menandingi kandungan gizi sekaligus zat pelindung alami yang ada di dalamnya. Itulah mengapa WHO dan Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa bayi idealnya hanya mendapatkan ASI selama enam bulan penuh, tanpa tambahan apapun, termasuk air putih sekalipun.
Penelitian membuktikan, bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih berisiko mengalami stunting dibanding bayi yang mendapatkannya.(3)
Sebuah kajian besar yang menganalisis banyak penelitian sekaligus juga memperkuat bahwa ASI eksklusif terbukti efektif mencegah stunting di Indonesia.(4)
Sayangnya, masih banyak ibu yang berhenti menyusui lebih cepat atau tidak berhasil menyusui secara eksklusif, bukan karena tidak mau, tetapi karena kurang informasi dan minimnya dukungan dari orang-orang terdekat. Bukti ilmiah menegaskan bahwa ASI eksklusif adalah salah satu langkah paling efektif dalam mencegah stunting pada balita.(5) Ini berarti peran suami, keluarga, dan lingkungan sekitar bukan sekadar pelengkap, melainkan kunci utama keberhasilan ibu dalam menyusui.
MP-ASI, Mulai di Waktu yang Tepat dengan Makanan yang Beragam.
Saat bayi menginjak usia enam bulan, ASI saja tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan gizinya yang terus bertambah. Di sinilah Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) masuk, bukan menggantikan ASI, melainkan melengkapinya. MP-ASI diberikan bersama ASI hingga anak berusia dua tahun.
Hal penting yang perlu diperhatikan, MP-ASI harus diberikan pada waktu yang tepat, bervariasi jenisnya, dan mencukupi kebutuhan gizi anak. Ibu yang kurang paham tentang MP-ASI cenderung memberikan makanan yang tidak tepat, yang berisiko menyebabkan stunting.(6,7) Asupan gizi yang tidak seimbang, termasuk kurangnya protein dari sumber hewani, terbukti berkontribusi pada risiko stunting pada anak.(2)
Ada satu hal yang harus benar-benar dihindari, yaitu memberikan makanan padat sebelum bayi berusia enam bulan. Perut bayi belum siap
mencerna makanan selain ASI sebelum usia itu. Alih-alih membantu, pemberian MP-ASI terlalu dini justru menjadi faktor risiko stunting pada anak.(8).
Dadih, Warisan Minangkabau yang Ternyata Berkhasiat Cegah Stunting.
Jawaban atas tantangan gizi modern ternyata bisa ditemukan pada warisan kuliner leluhur. Dadih, produk fermentasi susu kerbau dalam tabung bambu yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Minangkabau, menyimpan potensi manfaat kesehatan yang tidak kalah dengan pangan modern.
Proses fermentasi alami selama dua hari menghasilkan dadih yang mengandung bakteri baik (probiotik) seperti Lactobacillus, Lactococcus, dan Streptococcus.(9) Bakteri baik ini membantu menjaga kesehatan usus, dan usus yang sehat berarti tubuh lebih mampu menyerap gizi dari makanan.
Penelitian dari Universitas Andalas menunjukkan bahwa pemberian suplementasi puding dadih bermanfaat bagi kesehatan psikososial anak.(10) Inovasi lebih lanjut bahkan mengembangkan dadih dalam bentuk serbuk yang bisa dicampurkan ke MP-ASI sebagai cara praktis mencegah stunting.(11)
Ini kabar baik yang patut mendapat perhatian lebih luas. Produk lokal yang selama ini akrab di meja makan masyarakat Minangkabau ternyata menyimpan potensi besar sebagai pangan fungsional, makanan yang tidak sekadar mengenyangkan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kesehatan tubuh.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, karena setiap individu memiliki peran penting dalam upaya tersebut.
Bagi ibu hamil dan menyusui dapat dengan menjaga asupan makan, pastikan cukup protein, zat besi, dan gizi lainnya. Susui bayi secara eksklusif selama enam bulan, lalu lanjutkan sambil memberikan MP-ASI yang beragam dan bergizi. Status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan terbukti berpengaruh langsung pada pertumbuhan bayi.(2)
Bagi keluarga, berikan dukungan ibu untuk menyusui. Suami dan keluarga besar yang mendukung adalah faktor penting keberhasilan ASI eksklusif.
Di Sumatera Barat, tidak ada salahnya mulai memanfaatkan dadih sebagai bagian dari menu sehari-hari.
Bagi masyarakat dan kader Posyandu, lakukan pemantauan pertumbuhan anak secara rutin, aktif ikuti penyuluhan gizi, dan bantu sebarkan informasi yang benar tentang ASI dan MP-ASI kepada sesama.
Stunting bukan nasib yang harus diterima. Dengan langkah yang tepat, mulai dari rumah, mulai dari meja makan, kita bisa memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dengan sehat dan mencapai potensi terbaiknya.
Referensi
1. Kementerian Kesehatan RI. Hasil
Utama Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. 2024;
2. Jumarni, Suharni, Suhra S, Sudirman, Yani A. Literatur Review: Pengaruh Asupan Nutrisi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Terhadap Risiko Stunting. PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2026;10(1):1180–8.
3. Lushinta L, Puspitaningsih R, Suryani H, Nurachma E, Jasmawati J. Hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita usia 24 – 60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sungai Kapih. Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan. 2024 Nov 15;5(3B):1078.
4. Permatasari RP, Simbolon D, Yunita Y. Pencegahan Stunting melalui Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia: Pendekatan Meta-Analisis. Amerta Nutrition. 2024 Aug 30;8(1SP):105–12.
5. Mahmudah H, Zainul Maarif M, Dwi Noviati T, Renowening Y, Ridha Program Sarjana A, Teknologi Sains dan Kesehatan Sugeng Hartono I, et al. Jurnal Promotif Preventif Pemberian ASI Eksklusif Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Pada Usia Balita: Studi Literatur Exclusive Breast Feeding as an Effort to Prevent Stunting in Children’s Ages: Lirature
Study Article Info Abstract/ Abstrak [Internet]. Vol. 6. 2023. Available from: http://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP
6. Indriyani O, Rahardjo N. Edukasi Pentingnya MP-ASI Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Pada Masa Golden Anak. 2023.
7. Afiffah Aulia Rohmah, Syefira Ayudia Johar, Fiqi Nurbaya. The Relationship between Mother’s Level of Knowledge About MP-ASI and EventsStunting among toddlers in Jenggrik Village, Kedawung District, Sragen Regency. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Berkala. 2024 Aug 30;5(2).
8. Yoshua Prihutama N, Agung Rahmadi F, Hardaningsih G. Pemberian Makanan Pendamping Asi Dini Sebagai Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Anak Usia 2-3 Tahun. 2018;7(2):1419–30.
9. Usmiati S, Risfaheri D, Teknologi BP, Kepulauan P, Belitung B. Pengembangan Dadih Sebagai Pangan Fungsional Probiotik Asli Sumatera Barat Improvement of Dadih as an Indigenous Probiotic Functional Food of West Sumatra. Vol. 32, J. Litbang Pert. 2013.
10. Susmiati S, Helmizar H, Asrawati A, Yani FF, Khairina I,
Anggreiny N, et al. Supplementation Dadih Pudding as a Probiotic on the Psychosocial Problems of Children with CoviD-19 Undergoing isolation. Biomedical and Pharmacology Journal. 2024 Jun 25;17(2):1223–30.
11. Helmizar H, Surono I, Saufani I. Development of dadih powder as a complementary food to prevent children from stunting in West Sumatra, Indonesia. IOP Conf Ser Earth Environ Sci. 2020 Oct 1;583(1):012027.
Pekanbaru Pos Riau