Rabu , 2 September 2026

Dari Enggan Memimpin hingga Jadi Area Sales Manager, Perjalanan Adzan Bersama TELADAN

TIDAK semua orang sejak awal merasa nyaman menjadi pemimpin. Bagi Adzan, justru sebaliknya. Setiap kali mendapat kesempatan untuk mengambil peran sebagai pemimpin, ia cenderung menolak.

Saat itu, Adzan merasa belum cukup percaya diri dan belum melihat dirinya sebagai seorang pemimpin. Ia belum menyadari bahwa kemampuan tersebut ternyata ada dalam dirinya dan hanya membutuhkan ruang untuk berkembang.

Pandangan tersebut perlahan berubah ketika Adzan menjadi penerima program beasiswa kepemimpinan TELADAN Tanoto Foundation. Melalui berbagai pengalaman dan proses pengembangan diri, ia mulai memahami bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari kemampuan memimpin orang lain. Kepemimpinan juga dimulai dari keberanian untuk mengenal, memahami, dan memimpin diri sendiri.

“Dulu saya selalu menolak ketika diberikan kesempatan untuk menjadi pemimpin karena merasa belum cukup percaya diri. Dari TELADAN, saya mulai memahami bahwa sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri sendiri,” ujar Adzan.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Belajar Memimpin dari Masyarakat Desa
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Adzan selama mengikuti TELADAN adalah ketika menjalankan proyek sosial di Desa Binaan Bukit Payung.
Dalam proyek tersebut, Adzan bersama tim melakukan pembinaan kepada masyarakat untuk mengolah bengkoang menjadi produk keripik.

Tujuannya sederhana: meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Namun, bagi Adzan, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan sebuah kegiatan.

Ia belajar bahwa sebuah kegiatan sosial tidak cukup hanya menghasilkan program. Hal yang lebih penting adalah memastikan manfaatnya dapat dirasakan dan dilanjutkan oleh masyarakat.

“Dari pengalaman itu saya belajar bahwa proyek sosial bukan hanya tentang menyelesaikan program, tetapi bagaimana menciptakan dampak yang bisa dirasakan dan dilanjutkan oleh masyarakat,” katanya.

Berinteraksi langsung dengan masyarakat juga mengajarkannya tentang pentingnya kolaborasi, empati, tanggung jawab, dan keberanian untuk turun langsung menghadapi persoalan. Pengalaman tersebut ikut membentuk cara Adzan melihat kepemimpinan.

Bagi dirinya, pemimpin bukan hanya seseorang yang berada di depan dan memberikan arahan, tetapi juga seseorang yang bersedia memahami persoalan, bekerja bersama orang lain, dan ikut mencari solusi.

Menemukan Nilai untuk Terus Berkembang

Bagi Adzan, TELADAN menjadi salah satu bagian penting dalam proses mengenali dan mengembangkan dirinya.
Selain memperoleh pengalaman organisasi dan kepemimpinan, ia mendapatkan ruang untuk melakukan refleksi dan mengenali potensi dirinya.

Dari proses tersebut, ia menemukan satu nilai yang paling menggambarkan dirinya: Strive for Excellence. Nilai tersebut ia maknai sebagai dorongan untuk selalu memberikan yang terbaik dan terus berkembang melampaui batas diri sendiri.

Nilai itu kemudian mendorongnya untuk berani mengambil kesempatan yang sebelumnya mungkin terasa sulit.
Salah satunya adalah kesempatan mengikuti Program Fast Track 3+2 Ming Chi University of Technology di Taiwan.

Perjalanan ini dimulai sejak semester pertama ketika Adzan mengikuti English Class Accounting untuk memperkuat kemampuan akademik dan bahasa Inggris. Memasuki semester enam, ia mendapat rekomendasi dari dua dosen Akuntansi untuk mengikuti program Fast Track tersebut.

Setelah lolos seleksi, Adzan menjalani tahun pertama sebagai exchange student di Taiwan, sambil menyelesaikan skripsi S1 UNRI secara remote dan mengikuti program MBA. Pada tahap berikutnya, ia mengikuti evaluasi melalui business competition dan penelitian, hingga akhirnya memperoleh full scholarship untuk melanjutkan pendidikan S2 di Ming Chi University of Technology.

Ia pun berhasil meraih gelar magister di usia 22 tahun. Bagi Adzan, pencapaian tersebut bukan semata tentang gelar akademik, tetapi juga menjadi bukti bahwa keberanian mengambil kesempatan dan kemauan untuk terus berkembang dapat membuka peluang yang lebih besar.

Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa seseorang dapat mencapai sesuatu yang sebelumnya terasa sulit ketika berani menetapkan standar tinggi untuk dirinya sendiri dan konsisten menjalani proses.

“Bagi saya, pencapaian itu bukan hanya tentang mendapatkan gelar. Itu menjadi bukti bahwa ketika kita berani menantang diri dan terus berproses, kita bisa mencapai sesuatu yang sebelumnya terasa sulit,” ujarnya.

Membawa Semangat ke Dunia Kerja

Perjalanan Adzan bersama TELADAN tidak berhenti ketika ia menyelesaikan pendidikan. Nilai Strive for Excellence terus ia bawa ke dunia profesional.

Dalam bekerja, ia berusaha memberikan performa terbaik, terbuka terhadap evaluasi, berani mengambil tanggung jawab, dan terus mencari cara untuk berkembang.
Upaya tersebut kemudian mengantarkannya memasuki dunia profesional dan hingga dipercaya sebagai Area Sales Manager di Cimory Group pada usia 23 tahun.

Bagi Adzan, posisi tersebut bukanlah garis akhir. Sebaliknya, tanggung jawab tersebut menjadi awal dari tantangan yang lebih besar.

“Bagi saya, posisi ini bukan akhir dari perjalanan. Ini justru awal dari tanggung jawab dan tantangan yang lebih besar,” katanya.

Dari seseorang yang dahulu cenderung menghindari kesempatan menjadi pemimpin, Adzan kini justru menjalani peran yang menuntut kemampuan untuk mengambil keputusan, bekerja bersama tim, dan bertanggung jawab terhadap hasil.
Perubahan tersebut tidak terjadi dalam semalam.

Ada proses panjang yang dimulai dari keberanian untuk mengenal diri sendiri, mencoba mengambil peran, belajar dari pengalaman, hingga terus menantang batas kemampuan.

TELADAN sebagai Titik Awal

Jika melihat kembali perjalanannya, Adzan tidak memandang TELADAN hanya sebagai program beasiswa atau pengembangan kepemimpinan.

Baginya, TELADAN merupakan salah satu titik awal yang membantunya menemukan siapa dirinya, mengenali potensi, serta menentukan nilai yang ingin ia bawa dalam kehidupan.

Dari seseorang yang dahulu selalu menghindari posisi pemimpin, ia belajar berani mengambil peran dan, melalui proses refleksi, menemukan Strive for Excellence sebagai nilai yang ingin terus dipegang.

Sementara dari pengalaman di Desa Binaan Bukit Payung, ia belajar bahwa kepemimpinan juga berarti memberikan dampak bagi orang lain.

Kini, ketika menjalani karier sebagai Area Sales Manager, Adzan masih membawa pembelajaran tersebut. Baginya, perjalanan untuk menjadi pemimpin tidak pernah benar-benar selesai.

“Kepemimpinan yang sesungguhnya adalah tentang terus bertumbuh, memberikan dampak, dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri,” ujarnya.

Perjalanan Adzan menunjukkan bahwa keberanian untuk mengambil kesempatan dapat membuka ruang bagi seseorang untuk mengenali dan mengembangkan potensinya.

Dari seorang mahasiswa yang dulu memilih menghindari kepemimpinan, Adzan kini berada di dunia profesional dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Dan perjalanan itu, menurutnya, masih jauh dari selesai.

Karena Strive for Excellence bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang terus berusaha menjadi lebih baik dari diri sendiri, satu langkah demi satu langkah.

Perjalanan Adzan menjadi gambaran bahwa potensi kepemimpinan tidak selalu terlihat sejak awal. Terkadang, potensi tersebut baru muncul ketika seseorang mendapatkan kesempatan untuk mencoba, belajar, dan menantang dirinya sendiri.

Semangat untuk terus berkembang dan berani mengambil kesempatan inilah yang juga ingin dihadirkan melalui Beasiswa Kepemimpinan TELADAN dari Tanoto Foundation. Program ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menempuh pendidikan, tetapi juga mengembangkan potensi diri, kemampuan kepemimpinan, membangun jejaring, serta berkontribusi bagi masyarakat.

Kesempatan tersebut terbuka bagi mahasiswa S1 semester pertama di 10 perguruan tinggi mitra dalam TELADAN Cohort 2027, yaitu Universitas Riau (Unri), Universitas Sumatera Utara (USU), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Mulawarman (Unmul).
Pendaftaran TELADAN Cohort 2027 dibuka hingga 7 September 2027. Informasi mengenai persyaratan, tahapan seleksi, dan pendaftaran dapat diakses melalui https://bit.ly/JadiTELADAN2027.(yan)

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *