Sabtu , 20 Juni 2026

Waduh, Kasus HIV/AIDS di Pelalawan, Dua Pengidap Berstatus ASN

PANGKALANKERINCI (pekanbarupos.co)–Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan merilis data surveilans semester pertama tahun 2025 terkait kasus HIV/AIDS. Hingga pertengahan tahun ini, sebanyak 20 kasus baru tercatat.

Yang mengejutkan, dua dari penderita baru tersebut berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Meski tidak menyebutkan identitas pegawai negeri sipil terkait, yang secara sosial kerap dianggap sebagai kelompok dengan tingkat edukasi dan stabilitas hidup yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran HIV tidak mengenal status sosial maupun profesi.

“Kasus ini jadi pengingat bahwa siapa pun bisa tertular jika berada dalam perilaku berisiko. Ini bukan lagi soal latar belakang pekerjaan, tapi soal kesadaran dan gaya hidup,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, Asril, M.Kes melalui Kabid P2PL drg. Aulia Rahman, Jumat (18/7/2025).

Berdasarkan data yang dihimpun, mayoritas penderita adalah laki-laki berusia 22 hingga 66 tahun, dan sebagian besar memiliki pekerjaan tetap, termasuk wiraswasta, karyawan swasta, dan PNS.

Faktor risiko penularan yang tercatat meliputi pasangan risiko tinggi, pelanggan pekerja seks, dan LSL (laki-laki seks dengan laki-laki) dan homoseksual.

Dijelaskan, bahwa pihaknya masih belum dapat membandingkan tren tahun ini secara menyeluruh karena data masih bersifat parsial (semester I). Namun, langkah penanganan tetap berjalan maksimal.

“Tindakan Dinas tentu melakukan edukasi dan pengobatan secara intensif. Sebab penderita HIV wajib minum obat setiap hari dan seumur hidup,” kata drg Aulia.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dan tokoh masyarakat dalam mencegah perilaku menyimpang yang menjadi jalan masuk utama penyebaran virus ini.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih memperhatikan keluarga masing-masing, dan kepada para tokoh agama agar tidak henti memberi nasihat terkait perilaku menyimpang. Masalah ini akan lebih maksimal tertangani jika seluruh elemen masyarakat bekerja sama,” tegasnya.

Ironisnya, kata drg Aulia, perhatian publik dan sistem masih cenderung terfokus pada penderita, sementara mereka yang berpotensi tertular justru luput dari pantauan.

“Sekarang ini kita hanya terfokus pada yang sudah tertular, tapi kita lupa terhadap orang-orang yang punya potensi untuk tertular,” ujarnya mengingatkan.

Pemerintah daerah melalui Dinkes Pelalawan berkomitmen terus memperluas cakupan edukasi, skrining, dan pengobatan agar angka kasus dapat ditekan dan kesadaran masyarakat terus meningkat.(amr)

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *