KAMPAR (pekanbarupos.co)-Suasana haru menyelimuti Wisuda dan Perpisahan Angkatan Pertama “Al Mushthafaynal Akhyar” Santri Ma’had Tahfizh Al Madaniyah Riau Tahun Ajaran 2025-2026, Sabtu (9/5/2026).
Setelah enam tahun ditempa dalam perjuangan, generasi perdana pondok tahfizh yang beralamat di Jalan Lintas Pekanbaru-Bangkinang Desa Tibun Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar Riau akhirnya resmi dikembalikan kepada orang tua sebagai penghafal Al-Qur’an dan calon penjaga adab di tengah masyarakat.
Tangis bahagia, pelukan orang tua, serta lantunan doa menjadi saksi perjalanan panjang para santri yang memulai pendidikan sejak tahun 2020, di masa pandemi Covid-19.
Saat itu, fasilitas pondok masih sangat terbatas. Tempat tidur, ruang belajar, mushala hingga tempat makan berada di satu lokasi sederhana. Namun dari keterbatasan itulah lahir generasi yang hari ini berdiri dengan hafalan 30 juz dan semangat melanjutkan perjuangan dakwah.
Pembina Yayasan Al Madani Riau, dr. Junaidi Ramli dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas perkembangan pondok yang kini telah memiliki berbagai fasilitas penunjang pendidikan santri.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh wali santri atas segala kekurangan selama enam tahun mendidik anak-anak mereka.
“Kalau ada ketidakpuasan atau kesalahan dari kami sebagai pengurus yayasan, kami mohon dimaafkan. Namun Alhamdulillah, atas doa dan dukungan bapak ibu semua, pondok ini terus berkembang. Dari beberapa gedung sederhana, kini seluruh fasilitas sudah bisa diselesaikan, termasuk gedung laundry khusus santri dan santriwati,” ujarnya.
Ia mengingatkan para alumni bahwa kehidupan setelah pondok merupakan ujian sesungguhnya. Menurutnya, masyarakat akan menilai alumni pesantren bukan hanya dari hafalan Al-Qur’an, tetapi dari adab dan akhlaknya.
“Yang pertama dilihat masyarakat itu bukan hafalan 30 juz, bukan banyaknya ilmu, tetapi adab. Jaga sikap, jaga bahasa tubuh, jaga ucapan, termasuk di media sosial. Jangan hancurkan enam tahun perjuangan kalian dengan rusaknya adab,” pesannya.
dr. Junaidi juga berharap hubungan para alumni dengan pondok tidak terputus meski telah lulus. Ia mengajak agar para alumni tetap menyambung ukhuwah dengan pesantren, termasuk mempercayakan pendidikan adik-adiknya ke pondok tersebut.
Sementara itu, Mudir Ma’had Tahfizh Al Madania Riau, Ustadz Ismail Ramli, Lc menyebut angkatan pertama ini sebagai generasi pilihan yang lahir dari perjuangan luar biasa.
“Dengan nama yang mereka pilih, Al Mushthafaynal Akhyar, semoga Allah menjadikan mereka orang-orang pilihan, bukan hanya di dunia tetapi juga di surga-Nya,” ucapnya.
Ia mengenang bagaimana beratnya perjuangan para santri selama masa awal berdirinya pondok. Dari lebih 60 pendaftar saat itu, hanya 30 orang diterima karena keterbatasan asrama dan ruang belajar. Kini, dari perjuangan tersebut lahirlah 15 santri angkatan pertama yang seluruhnya telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.
“Dua orang telah menyelesaikan setoran 30 juz, dan seluruh santri angkatan pertama ini sudah menuntaskan hafalannya. Empat orang melanjutkan sanad, dua di antaranya sudah selesai,” jelasnya.
Menurutnya, para santri angkatan pertama adalah saksi sejarah berdirinya pondok. Mereka melewati masa-masa sulit pandemi, bahkan berbulan-bulan tidak bisa dikunjungi orang tua demi menjaga kesehatan bersama.
“Kesuksesan itu bukan akhir. Kesuksesan sejati adalah terus berjalan di atas kebaikan dan tidak berhenti menuntut ilmu agama,” katanya.
Dalam suasana penuh haru, Ustadz Ismail juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan guru dan orang tua. Ia meminta para alumni tetap rendah hati dan memuliakan guru-guru mereka di mana pun bertemu.
“Seorang murid yang baik adalah yang memuliakan gurunya. Jangan malu menyapa dan menyalami guru kalian nanti,” tuturnya.
Di hadapan wali santri dan para tamu undangan, pihak pondok juga menyampaikan kabar gembira terkait kelanjutan pendidikan para alumni.
Beberapa santri telah diterima dan mengikuti seleksi di berbagai perguruan tinggi Islam, seperti Institut Imam Syafi’i, perguruan tinggi di Medan dan Jakarta, hingga program tafsir Al-Qur’an di Bogor.
Acara wisuda itu menjadi lebih dari sekadar seremoni perpisahan. Ia menjadi penanda lahirnya generasi pertama penjaga Al-Qur’an dari Ma’had Tahfizh Al Madaniyah Riau generasi yang ditempa dengan kesabaran, keterbatasan, dan doa panjang orang tua.
Di akhir acara, para santri berdiri menyalami guru-guru mereka satu per satu. Sebagian tak kuasa menahan air mata. Enam tahun yang terasa panjang itu kini berubah menjadi kenangan perjuangan yang akan terus hidup dalam hati mereka.
“Jadilah cahaya di mana pun kalian berada,” pesan terakhir yang terus menggema di pelataran pondok pagi itu.
Selain itu diserahkan juga Sanad bacaan Quran kepada 2 santri yang menyetorkan bacaan terakhir hingga 4 santri sudah memiliki sanad qiraat dari Syaikh Ahmad Muhammad Hasan Abdul Hamid Nafi’ Almishri.(amr)
Pekanbaru Pos Riau