Sabtu , 29 Agustus 2026

Jurnalis yang Mengabdikan Diri Menjadi Guru Mengaji

Pentingnya Tanamkan Nilai Agama Pada Anak

Tokoh masyarakat Desa Tanjung Simandolak M Syaifullah saat mengajar tahfidz di Masjid Sholihin Tanjung Simandolak.

 

PEKERJAAN mulia para guru ngaji terkadang luput dari perhatian semua kalangan. Mereka rela menyita waktu demi mendidik ilmu dasar agama, kepada murid-muridnya.

Laporan Muhammad Syaifullah, Kuansing

Dengan harapan kelak, ilmu tersebut dapat menjadi pondasi kuat yang menuntunnya kepada jalan kebaikan bagi diri pribadi, keluarga, agama dan bangsa.

Meskipun diketahui, para guru ngaji itu bekerja tanpa pamrih dengan honor yang relatif kecil. Namun di balik semua itu, sebenarnya apa yang dibaktikan guru-guru ngaji turut membantu pula pekerjaan pemerintah.

Di mana terbangun suatu upaya, bahwa segenap masyarakat harus pula mendapatkan pendidikan dasar agama, mendampingi pendidikan umum.

Sebuah ungkapan Jawa “Digugu lan ditiru” menggambarkan tugas guru. Guru tidak harus berada di sekolah, tapi juga guru di surau-surau, masjid-masjid hingga Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA).

Salah satunya adalah Muhammad Syaifullah. Pria yang akrab disapa -Mas Ucil- itu mengabdikan diri mengajar mengaji di salah satu surau di Desa Tanjung Simandolak Kecamatan Benai tempatnya menetap.

Alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2005 ini setiap hari datang ke Surau Al Isra untuk mengajar mengaji. Kecuali hari Sabtu, karena pengajian diliburkan.

“Setiap harinya ada sekira 30 anak yang belajar mengaji. Waktunya habis Maghrib hingga Isya,” kata Syaiful kepada Pekanbaru Pos kemarin.

Tokoh masyarakat Desa Tanjung Simandolak itu mengaku mengajar mengaji sudah dilakukannya sejak sekolah, tepatnya saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs). Saat itu, ia sudah dilatih menjadi guru hingga ceramah di depan umum.

“Mengajar ngaji sejak MTs. Dulu mengajar Iqra. Saat itu kita juga diajari ceramah,” katanya.

Meskipun waktunya banyak tersita karena profesinya sebagai jurnalis di sebuah media cetak terkemuka di Riau, namun semangat untuk melayani dan mengabdi untuk masyarakat tidak hilang.

Pria kelahiran Gunung Kidul Yogyakarta 40 tahun silam ini mengaku senang menjadi guru mengaji. Ia menilai agama di zaman sekarang sangat diperlukan.

“Pendidikan agama saat ini memang sebuah keharusan. Karena sebagai benteng di tengah pesatnya perkembangan teknologi,” katanya.

Seperti biasa, sebelum Maghrib para santri akan berdatangan ke Surau Al Isra yang berada di pangkal Desa Tanjung Simandolak. Letak surau kurang lebih delapan meter dari bibir Sungai Batang Kuantan.

“Memang para santri atau murid, saya haruskan salat Maghrib dan Isya di surau. Kalau tak dibiasakan salat sejak dini, kalau sudah besar susah,” ungkapnya.

Setelah salat Maghrib, pengajian pun dimulai. Tak lama setelah dibuka, terdengar suara Alquran dibacakan. Karena di surau itu, tak hanya Syaiful, tapi ada tiga orang guru surau lainnya.

“Ngajinya setelah Maghrib sampai Isya’. Mulai dari membaca Iqra hingga Alquran,” katanya.

Selain itu, ia juga menjadi Ketua Rumah Tahfidz Masjid Sholihin Desa Tanjung Simandolak. Bersama dengan kedua ustadz lainnya, ia membuka pelajaran tahfidz Alquran seminggu dua kali.

“Untuk tahfidz setiap Sabtu siang dan Ahad pagi setelah salat Subuh. Biasanya santri juga ada sarapan usai belajar tahfidz,” ungkapnya.

Bagi Mas Ucil-mengajar ngaji menjadi kesenangan tersendiri. Dia yakin, kebaikan untuknya tidak akan berhenti mengalir selama santri-santrinya terus mengamalkan ilmu yang diajarkan dengan terus membaca Alquran.

“Saya hanya berharap apa yang saya ajarkan, terus diamalkan para santri. Sehingga pahalanya terus mengalir kepada saya, amin ya Rabb,” harapnya. (cil) bersambung…

Berita lengkapnya baca harian Pekanbaru Pos edisi Selasa (28/2).

About Linda Agustini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *