Sabtu , 18 April 2026

Trauma ‘Diobok-Obok’ Penyidik, Tiga Kapuskesmas Letakkan Jabatan

Puskesmas Kilan.

INHU (pekanbarupos.co) — Sejak dua bulan terakhir setidaknya tiga orang tenaga kesehatan (nakes) di kabupaten Indragiri hulu (Inhu) memilih meletakkan jabatan kepala puskesmas (Kapus) Kilan.

Akibatnya top manager di sentra pelayanan kesehatan tingkat kecamatan Batang Cenaku itu, vacuum.

Dari berbagai sumber yang diterima Pekanbaru Pos menjelaskan alasan para garda terdepan pelayanan kesehatan enggan menjadi orang nomor satu di Puskesmas Kilan bermula dari pemeriksaan penyidik Adiyaksa Kejari Inhu tentang dana sebesar Rp 25.000 yang diserahkan setiap Nakes kepada pejabat utama (PJU) Puskesmas Kilan, namun akhirnya oleh penyidik Kejari Inhu menduga masuk ranah tindak pidana Korupsi lalu di lidik (penyelidikan).

Padahal menurut mereka yang enggan ditulis nama, uang sebesar 25.OOO rupiah per satu orang Nakes tersebut diberikan ikhlas dan mereka sebut sebagai ‘sagu hati’.

Sebab si penerima uang ‘sagu hati’ oleh sipemberi uang sagu hati’ membebankan tambahan kerja diluar job desk sipenerima.

Antara lain tugas tambahan evaluasi surat perintah tugas (SPT) setiap melakukan tugas kesehatan di lapangan hingga rangkap kerja sebagai bendahara dan penanggung jawab program agenda tahunan kesehatan.

‘Uang ‘sagu hati’ pun akan diserahkan setelah pencairan dana biaya operasional kesehatan (BOK) tahunan Puskesmas dan tunjangan perbaikan penghasilan (TPP),” sebut salah seorang Nakes, Andi, nama samaran, sekaligus menyebut uang sagu hati’ sejak tahun 2021 silam oleh 40 orang Nakes dari 66 orang personil Nakes di Puskesmas Kilan.

Sayangnya uang sagu hati dari Nakes tersebut malah ‘dibidik’ sebagai dugaan tindak pidana Korupsi dan dilakukan pemeriksaan oleh penyidik Adhiyaksa Kejari Inhu.

Akibatnya para Nakes ASN trauma dan takut dijerat korupsi sehingga tiga orang Nakes ASN yang ditunjuk berturut-turut sebagai Kapus menyatakan tidak bersedia menjadi Kapus.

Kekosongan kepemimpinan Kapus diawali dengan mundurnya Kapus Tengku Ernita, Januari kemarin lalu di ikuti tiga orang Nakes lainnya turut mundur setelah ditunjuk menggantikan kapus sebelumnya.

Seorang Nakes lainnya yang sempat ditunjuk sebagai pengganti Kapus Tengku Ernita, menyatakan menolak penunujukan dengan pertimbangan bahwa dalam waktu 3-6 bulan kedepan ianya sedang menjalani pengobatan rutin dan obeservasi ketat oleh dr SPOG dan dr Konsulen Onkologi karena penyakit polip endocervix dan hyperplasia endometrium complek yang dialaminya.

“Saya telah berkirim surat penolakan ke pimpinan dengan alasan sedang konsentrasi menghadapi penyakit yang saya derita,” sebutnya, Sabtu (18/3/23).

Sayangnya kepala dinas kesehatan (Kadiskes) Pemkab Inhu Ellis Julynarti hingga saat ini belum bisa dikonfirmasi.

Kuat dugaan ketiga orang Nakes Perempuan itu mundur dari jabatan Kapus lantaran tak tahan atas tekanan yang ada bahkan minimnya backup dari Pemkab Inhu khususnya sinergis aparat penegak hukum (APH).

Sebelumnya Sekdakab Inhu Hendrizal membenarkan perkara pemeriksaan Nakes tersebut diawali dengan adanya pengaduan kepada penegak hukum, Kejari Inhu.

“Sepengetahuan saya memang ada pengaduan kepada Aparat Penegak Hukum (APH) dalam hal ini jaksa, dan setau saya memang kejaksaan sedang melakukan pengumpulan data dan keterangan kepada bebrapa pegawai dan non pegawai Puskesma yang berkaitan dengan itu,” ungkap Hendrizal disela Konprensi Pers.

Untungnya, kata Hendrizal, uang tersebut oleh oknum Kapus Kilan telah dikembalikan kepada anak buahnya “Mereka mengucapkan terimaksih karena menurut mereka uang mereka telah kembali,” terang Sekda mengutif laporan yang ia terima dari 10 orang Nakes Kilan.

Ditempat yang sama kepala kejaksaan negeri (Kejari) Inhu, Romiyasi disampingi Kasi Intelijen Arico dan Kasi Pidsus Eliksander membenarkan fullbaket dugaan korupsi tengah didalami penyidik Adiyaksa Inhu.

“Saya sampaikan bahwa fulbaket itu dilaksanakan sesuai SOP, kalau diluar katanya ada yang ditekan-tekan, dibentak dan sebagainya itu tidak ada. Pokoknya kita laksanakan sesuai SOP yang ada di Kejaksaan Republik Indonesia,” tegas Kajari.

Informasi terakhir dirangkum Pekanbaru Pos, para Nakes memilih mengundurkan diri bahkan ada diantaranya undur diri dari aparatur sipil negara (ASN) lantaran mereka merasa tak nyaman dalam bekerja. (san)

Berita lengkapnya baca harian Pekanbaru Pos edisi Senin (20/3).

About Linda Agustini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *