INHU (pekanbarupos.co) — Ribuan batang pohon pinang dibabat habis. Padahal pohon pinang tersebut sudah beranjak usia empat tahun.
Petani di Desa Kota Lama Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) di Provinsi Riau ini memilih babat habis pohon pinang sebagai wujud rasa kecewanya terhadap harga pasar. “Iya, saya tumbang aja semua,” ketus Zulkifli Panjaitan kepada Pekanbaru Pos, Selasa (26/9/23).
Empat tahun silam, kata Zulkifli, ia memilih tanam pohon pinang dilahan seluas 12 hektar karena harganya lebih menjanjikan dengan harapan buah pinang menjadi peluang usaha kecil.
Namun sayang fluktuatif harga buah pinang enam bulan terakhir semakin tergerus hingga dikisaran Rp2.000 per kilogram lalu mendorong niatnya mengganti komoditi pinang menjadi kelapa sawit.
“Tadinya saya berharap produksi buah pinang kering bisa menjadi potensi lokal yang bisa dikembangkan untuk peluang usaha kecil dengan memberdayakan masyarakat tempatan, namun kenyataannya tidak seperti itu,” sesal Zulkifli.
Rencana membabat habis kebun pinang sempat terhenti karena tawaran harga pinang bulat dan belah kering dari owner pabrik pengolahan pinang muda di Kuala Tungkal Jambi menjanjikan kreteria buah pinang muda kwalitas eksport lebih menggiurkan.
Namun setelah empat kali panen buah pinang muda dengan harga Rp 4.200 per Kg, pemilik pabrik pinang muda di Kuala Tungkal Jambi akhirnya tidak lagi menerima/membeli pinang muda dengan alasan tingginya bea pabean di pelabuhan pemberangkatan.
Walhasil harapan sejumlah petani pinang di Inhu untuk menggantungkan hidup pada perkebunan pinang menjadi pudar dan memilih babat habis pohon pinang lalu dialihkan ke komoditi kelapa sawit. “Entah sampai kapan harga pinang ini bisa menjadi stabil kembali” lebih baik dibabat habis sajalah,” Zulkifli kesal. (san)
Pekanbaru Pos Riau