Minggu , 14 Juli 2024
Salah seorang tukang jalur memperagakan proses pembuatan sebuah jalur.alz

Menapaki Jejak Tradisi: Perjalanan Panjang Membuat Jalur Pacu, dari Hutan ke Arena Lomba

Tukang jalur memperagakan pembuatan sebuah jalur disaksikan wartawan.alz

Oleh: Alzamret Malik

Ratusan ribu pasang mata terkesima melihat sejumlah jalur yang melaju kencang, saling berpacu di Tapian Narosa, Talukkuantan. Pacu Jalur Talukkuantan ini memang sudah terkenal ke seantero negeri, bahkan telah masuk dalam 10 besar iven wisata terfavorit di Indonesia.

Tapi tahukah Anda, ternyata pembuatan sebuah jalur atau sampan panjang khas Kuantan Singingi itu membutuhkan sebuah perjalanan yang panjang dan perjuangan banyak orang. Mulai dari mencari kayu di hutan, hingga sampai di arena lomba.

Salah satu jalur yang sedang berpacu di arena pacu jalur.alz

Untuk mengenal lebih jelas bagaimana proses pembuatan sebuah jalur, kami dari PWI Riau diundang khusus oleh Pemkab Kuansing melalui Diskominfo untuk berkunjung ke Taluk Kuantan, Kabupaten Kuansing. Berikut kisahnya:

Pagi yang masih berselimut kabut, sebuah bus melaju membawa kami, rombongan wartawan dari PWI Riau. Matahari belum menampakkan wujudnya saat kami berkumpul di titik keberangkatan, bersiap menyingkap tabir misteri di balik pembuatan jalur yang melaju kencang di arena pacu terkenal itu, yang selama ini hanya kami saksikan dalam balutan kemegahan lomba.

Dari setiap percakapan dan cerita, Taluk Kuantan, ibukota Kabupaten Kuantan Singingi, menyimpan kisah yang belum banyak diketahui khalayak. Melalui undangan khusus dari Pemkab Kuansing, difasilitasi oleh Diskominfo, kami diberi kesempatan langka untuk mengunjungi kota kecil ini dan menyelami setiap detail proses pembuatan jalur yang melegenda.

Perjalanan kami dijadwalkan berlangsung dua hari, Jumat dan Sabtu, pada tanggal 7-8 Juni. Dua unit bus telah disiapkan oleh panitia dari PWI Riau untuk mengantar kami menuju destinasi. Udara pagi yang segar menemani langkah kami saat menaiki bus, merasakan getaran antusiasme yang sama, berjumlah sekitar lima puluh orang, siap menjelajah waktu dan tempat yang dijanjikan.

Pukul tujuh pagi, roda bus mulai berputar, meninggalkan jejak di aspal yang basah oleh embun. Percakapan hangat dan tawa ringan mulai terdengar, mencairkan suasana dan menambah semangat perjalanan. Sepanjang jalan, bayangan tentang apa yang akan kami temui nanti terus berputar di kepala. Bisikan angin yang mengiringi perjalanan seolah membawa cerita dari masa lalu, tentang bagaimana sebuah jalur dibuat dengan penuh ketelatenan dan keahlian.

Taluk Kuantan, dengan segala pesonanya, menyimpan keindahan dalam kesederhanaan. Setiap detik perjalanan ini adalah lembaran baru yang akan menambah wawasan kami tentang tradisi dan budaya yang kaya di tanah Kuansing. Kami tidak sabar untuk tiba, untuk melihat, mendengar, dan merasakan langsung proses yang selama ini hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut.

Dengan menempuh jarak lebih kurang 160 km dari Pekanbaru menuju Taluk Kuantan, rombongan wartawan PWI Riau meluncur dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, pemandangan hijau yang memanjakan mata dan desa-desa yang seolah melambai ramah, menemani kami menuju tujuan.

Sesampainya di daerah Logas, kami berhenti sejenak di Masjid Al Ikhlas. Waktu menunjukkan masuknya waktu salat Jumat, dan kewajiban ini segera kami tunaikan. Suasana damai dan khusyuk menyelimuti masjid itu, memberikan sejenak ketenangan di tengah perjalanan kami yang penuh antisipasi.

Usai melaksanakan ibadah salat Jumat, rombongan segera melanjutkan perjalanan menuju Taluk Kuantan. Namun sebelum benar-benar memasuki batas kota, kami telah ditunggu oleh Ketua PWI Kuansing, Ade Andi Chandra, di Simpang Bundaran. Beliau memandu kami menuju rumah Kadiskominfo Kuansing, tempat jamuan makan siang telah disiapkan.

 

Masuk Dalam 10 Besar Daerah Kunjungan Wisata Terfavorit

Sesampai di rumah Kadiskominfo Kuansing, Hendra Toza SSi, bersama Kabid Komunikasi, Hevi H Antoni, menyambut kami dengan senyum dan hidangan mewah. Berbagai masakan ikan sungai yang menggoda selera telah tersaji di meja, seolah tahu betul bagaimana menyambut tamu yang telah menempuh perjalanan panjang.

Jamuan makan siang itu disambut dengan antusias oleh seluruh rombongan. Rasa lapar setelah perjalanan panjang membuat kami bersemangat mengantre untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Aroma sedap dari hidangan prambanan menambah nafsu makan kami, dan suasana hangat penuh keakraban pun terjalin di antara kami.

Di tengah kenikmatan makan siang, tiba-tiba suasana menjadi lebih meriah dengan kedatangan Pj Bupati Kuansing, Suhardiman Ambi. Tanpa ragu, beliau bergabung bersama kami, menyantap makan siang dan berbincang santai.

Usai makan siang, Bupati Kuansing menyapa satu per satu wartawan, memperkenalkan diri dengan ramah sebelum menyampaikan kata sambutan. Dalam suasana yang santai namun penuh makna, beliau menceritakan rencana kunjungan kami selama di Taluk Kuantan, menambahkan sentuhan personal pada setiap kata yang diucapkan.

Kepada rombongan wartawan, Suhardiman Ambi memaparkan bagaimana tradisi pacu jalur telah membantu meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Dengan penuh kebanggaan, beliau menjelaskan bahwa even pacu jalur ini telah masuk dalam 10 besar daerah kunjungan wisata terfavorit di Indonesia. Tradisi yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, sejak zaman penjajahan Belanda, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Kuansing.

Tradisi pacu jalur memang sudah melegenda bagi masyarakat Kuansing, menjadi satu-satunya tradisi yang dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. “Coba dibayangkan ketika ada acara pacu jalur, semua masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Kuansing akan tumpah ruah menuju tapian pacu jalur,” ungkap Bupati dengan penuh semangat. Rumah-rumah akan ditinggalkan kosong karena semua penghuninya berbondong-bondong menuju tempat lomba. Bahkan, masyarakat merasa ada yang kurang jika sampai melewati atau tidak menonton pacu jalur yang sedang berlangsung.

Usai memberikan sambutan, Bupati Kuansing mempersilakan rombongan wartawan PWI Riau untuk menyaksikan langsung proses pembuatan sebuah jalur di Desa Sentajo. Di sana, kami akan memahami bagaimana proses pembuatan sebuah jalur, mulai dari pencarian pohon di hutan hingga selesainya sebuah jalur yang siap bertanding dalam sebuah even.

 

Perjalanan Panjang Pembuatan Jalur

Rombongan wartawan kemudian bertolak menuju Desa Sentajo, dipandu oleh rekan-rekan wartawan PWI Kuansing. Lokasi yang dituju adalah Kampung Baru, Batang Tongah, Kenagarian Sentajo, tempat di mana sebuah jalur sedang dalam proses pembuatan. Dipilihnya Desa Kampung Baru sebagai lokasi ekspedisi kami karena di situlah saat ini tengah dilakukan pembuatan sebuah jalur.

Perjalanan ini tidak hanya akan membuka mata kami tentang detail proses yang rumit dan memerlukan keahlian khusus, tetapi juga memperkaya wawasan kami tentang dedikasi dan cinta masyarakat Kuansing terhadap tradisi yang mereka jaga dan lestarikan. Kami siap menyaksikan dengan mata kepala sendiri, setiap detil dan tahapan yang menjadikan sebuah jalur sebagai simbol kebanggaan dan warisan budaya yang tak ternilai.

Sesampainya di Desa Kampung Baru, Sentajo, rombongan wartawan disambut hangat oleh PJ Kepala Desa, Mashuri Spd bersama perangkat desa lainnya. Di antara mereka, terlihat Datuk Penghulu Kenagarian Sentajo, Malin, Ketua Jalur Hermanto, dan tukang pembuat jalur, Khairul atau yang lebih akrab disapa Irun. Beberapa tokoh masyarakat dan pemuda-pemudi Kampung Baru juga turut hadir menyambut kedatangan kami.

Yang menarik, kaum ibu dan wanita Desa Kampung Baru langsung menyuguhkan makanan khas daerah, yaitu bubur putih yang cukup enak, untuk rombongan wartawan. Sebelum acara ekspedisi dimulai, rombongan wartawan PWI Riau yang dipimpin oleh wartawan senior Helmi Burman dipersilakan untuk mencicipi hidangan tersebut.

Pj Kepala Desa Kampung Baru, Mashuri Spd, dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada PWI Riau yang telah memilih desa mereka sebagai lokasi ekspedisi penulisan jalur. Kerja sama antara PWI Kuansing dan Diskominfo Pemkab Kuansing memungkinkan ekspedisi ini terlaksana dengan sukses tanpa hambatan.

Kades menjelaskan bahwa tradisi pacu jalur ini sangat membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat desa. Tradisi yang telah mendarah daging ini menjadi hiburan yang melibatkan semua lapisan masyarakat, mulai dari anak muda, orang tua, hingga anak-anak, baik dari kaum wanita maupun laki-laki.

Lebih rinci, PJ Kepala Desa menceritakan perjalanan panjang pembuatan jalur, dimulai dari pencarian kayu yang layak dijadikan jalur di dalam hutan lindung Kenagarian Sentajo yang luasnya sekitar 3.500 hektare. Di hutan lindung inilah, utusan masyarakat desa menelusuri kayu yang dianggap layak dan kuat untuk dijadikan sebuah jalur.

“Biasanya kayu yang bagus untuk dijadikan jalur adalah jenis Meranti dan Marsawa, termasuk juga Borneo. Kayu-kayu ini memiliki kualitas bagus dan kuat untuk dijadikan jalur,” jelas Kades. Untuk mencari kayu di hutan tersebut, Datuk Penghulu mengutus beberapa orang warga yang berpengalaman untuk menelusuri kayu yang dianggap layak dijadikan jalur.

Setelah kayu berkualitas bagus ditemukan, utusan desa tersebut melaporkannya kepada Kepala Desa dan Datuk Penghulu. Mereka kemudian membuat surat permohonan izin penebangan ke Dinas Kehutanan. Jika surat izin sudah didapatkan, Datuk Penghulu bersama warga desa masuk kembali ke hutan untuk menebang kayu yang sudah dipilih, didampingi oleh petugas Dinas Kehutanan.

Dalam proses penebangan kayu jalur, diadakan beberapa adat kebiasaan warga desa, seperti melepas ayam dan ritual lainnya (acara syukuran) yang sudah menjadi tradisi saat penebangan kayu jalur. “Setelah kayu ditebang, warga desa bersama-sama mengeluarkan kayu menuju lokasi pembuatan jalur,” ungkap Kades.

Ditambahkan oleh Pj Kades, pada zaman dulu pengerjaan sebuah jalur dilakukan di hutan. Pada tahap ini, banyak tradisi yang terjadi ketika mengerjakan jalur hingga tahap “maelo” (menarik) jalur keluar hutan untuk dibawa ke desa. Tradisi “maelo” jalur ini dulunya menjadi arena mencari jodoh bagi warga desa.

Setelah kayu sampai di lokasi pengerjaan, Ketua Jalur Samsuri akan mencari tukang jalur yang dipercaya bisa mengolah kayu terpilih menjadi jalur yang bagus dan berkualitas, siap berpacu menghadapi jalur-jalur desa lain. “Kayu bagus dan kuat itu biasanya berumur sekitar seratus tahun,” ungkap Ketua Jalur Samsuri.

Lebih rinci disebutkan bahwa untuk melakukan penebangan, pihaknya mengutus lima orang warga terpilih ke dalam hutan. Setelah menerima laporan bahwa penebangan telah selesai, Ketua Jalur berembuk dengan Kepala Desa dan Ketua Pemuda untuk menentukan kapan dilakukan penarikan kayu keluar hutan.

Saat menarik kayu inilah dikerahkan semua warga desa. “Untuk menarik kayu ini dari dalam hutan, kemarin melibatkan sekitar 2.000 warga desa,” tambahnya dari 3.000 warga yang berdomisili di Kampung Baru. Sehingga acara penarikan kayu dari dalam hutan berlangsung sangat ramai dan dilakukan secara bergotong royong. Penarikan kayu jalur sepanjang 30 meter tersebut untuk sampai keluar hutan atau ke jalan memakan waktu satu hari.

Sesampainya di jalan, warga menyiapkan “toradi”, yaitu alat untuk membawa kayu besar tersebut menuju lokasi pembuatan jalur, termasuk alat berat untuk membantu membawa kayu. Setelah kayu sampai di lokasi pembuatan, perangkat desa berembuk untuk menentukan siapa tukang yang akan dipercaya membuat jalur, tukang yang sudah berpengalaman dan telah banyak melahirkan jalur-jalur juara di berbagai lomba.

Menurut Ketua Jalur, sejak dia berdomisili di Sentajo, ia sudah membuat lima jalur dalam 15 tahun terakhir. Umur jalur yang dibuat bisa bertahan beroperasi selama 4 sampai 5 tahun. “Untuk daya tahan atau umur sebuah jalur tergantung dari bahan kayu yang digunakan dan perawatan,” ungkap Samsuri.

Ukuran jalur yang dibuat sekarang berukuran panjang 34 meter dengan diameter tengah 85 cm, dengan muatan pendayung sekitar 55 orang. Dengan menggunakan alat seperti sinso, kapak, parang, dan peralatan lainnya, pembuatan jalur biasanya memakan waktu sekitar dua minggu. “Jika perlu cepat, biasanya tukang menambah tenaga pekerja agar bisa selesai lebih cepat,” jelasnya.

Ketika salah seorang wartawan bertanya tentang jalur Desa Kampung Baru, Kepala Tukang menyebutkan bahwa nama jalur desa mereka yang terkenal adalah Pangeran Tangan Biso, yang telah banyak menorehkan prestasi dan memenangkan pacu jalur di berbagai tapian yang menggelar lomba.

Ditambahkan juga bahwa saat ini, kayu yang sudah cukup umur dan tua tersebut sudah berkurang, sehingga masyarakat mulai kesulitan mendapatkan kayu sesuai standar untuk dijadikan jalur. Oleh karena itu, masyarakat desa harus menjaga keberlangsungan hutan agar tidak kekurangan kayu, bahan pembuatan jalur.

Menurut Samsuri, pembuatan sebuah jalur menghabiskan dana sekitar Rp60 juta. Dana pembuatan sebuah jalur berasal dari bantuan Pemkab Kuansing dan sumbangan warga desa Kampung Baru dan sekitar. “Untuk menjaga kelangsungan tradisi pacu jalur ini, Pemkab Kuansing sudah menganggarkan dana hibah untuk setiap desa yang mau membuat jalur,” jelas Ketua Jalur.

Sementara itu, Tukang Jalur yang dipilih untuk membuat jalur Desa Kampung Baru, Khairun alias Irun, menceritakan kisah dirinya menjadi tukang jalur yang dipelajarinya dari Mamaknya, Rusli. Awalnya, sebelum menjadi tukang jalur, ia adalah pembuat sampan kecil yang biasanya digunakan oleh warga untuk menyeberangi sungai sehari-hari.

Pada tahun 1999, ia mulai membuat jalur bersama Mamaknya, Rusli, dengan jalur pertama yang mereka buat adalah Rantau Puasan. Setelah itu, Irun mulai membuat jalur sendiri di Peranap, dengan jalur Putri Mandi. Sejak itulah nama Irun mulai dikenal masyarakat sebagai tukang jalur dan dicari orang untuk membuat jalur.

Suatu ketika, orang jalur Siposan mencari Irun untuk membantu membuat jalur Putri Mandi untuk jalur desa mereka yang baru, karena tukang jalur yang biasa mereka gunakan sedang banyak orderan. Saat itulah mereka mencari Khairul alias Irun untuk membantu membuat jalur yang merupakan warga Desa Inuman.

Sejak mulai membuat jalur pada tahun 1999, Irun sudah membuat sekitar seratusan jalur. Jalur-jalur buatannya sudah banyak menjuarai pacu jalur yang digelar di Taluk Kuantan. Di antaranya, Jalur Siposan Rimbo sudah empat kali menjuarai pacu jalur di Tepian Narosa, sehingga membuat nama Irun semakin terkenal sebagai pembuat jalur nomor satu di seantero Taluk Kuantan.

Menyinggung upah dalam membuat sebuah jalur, Irun menyebutkan berkisar Rp30 juta. “Harga untuk awak samo awak, Rp30 juta lah,” ujar Irun berseloroh.

Namun demikian, pembuatan jalur tergantung juga dari jenis kayu dan tingkat kesulitan jalur yang dibuat. Karena upahnya cukup murah, tenaganya sebagai tukang jalur cukup laris dan selalu mendapat orderan dari masyarakat desa yang akan membuat jalur.

Ditambahkan juga bahwa selain membuat jalur baru, Irun juga melayani perawatan jalur. “Jalur-jalur yang berpacu di lomba jalur tersebut juga memerlukan perawatan agar bisa melaju kencang saat berpacu,” ungkap Irun.

Pernah suatu kali, saat diminta membuatkan jalur baru, ia menyarankan untuk memperbaiki saja atau menservis jalur lama, karena jalur lama tersebut masih bisa diperbaiki dan masih kencang untuk ikut pacu jalur, daripada membuat jalur baru.

Terakhir, Irun menerangkan bahwa setelah jalur selesai dikerjakan, dilanjutkan dengan pelayuran. Pelayuran berfungsi untuk mengembangkan dan mengoptimalkan badan jalur supaya terlihat lebih bagus dan ramping. Pelayuran dilakukan dengan membakar jalur yang baru selesai dikerjakan dengan cara disangai atau dipanaskan sampai jalur mengembang sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Setelah selesai pelayuran, jalur dibawa ke sungai untuk dites bagaimana kondisinya saat didayung di aliran sungai. Pada saat dilakukan tes ini, pembuat jalur harus ikut dan melihat kondisi jalur tersebut karena dialah yang tahu di mana ada kekurangan dan kelebihan jalur yang dibuatnya. “Pada saat jalur dibawa ke sungai itulah akan tahu bagaimana kondisi jalur tersebut, apakah sudah layak dipacu atau belum,” jelas Irun.

Usai pertemuan, rombongan wartawan PWI Riau dan PWI Kuansing segera menaiki kendaraan untuk menuju hotel tempat menginap dan beristirahat selama melakukan ekspedisi jurnalis di Kota Taluk Kuantan.

Demikianlah perjalanan dan pengalaman yang kami alami dalam ekspedisi penulisan jalur di Taluk Kuantan. Setiap detil dan cerita yang kami dengar langsung dari para pelaku tradisi ini menambah wawasan dan penghayatan kami tentang betapa berharga dan pentingnya menjaga warisan budaya ini untuk terus dilestarikan bagi generasi mendatang. ***

About Alzamred Malik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *