Kamis , 16 April 2026
Oplus_131072

Hidup Bukan Sekadar Kebetulan, Saatnya Kita Memilih dengan Sadar

Oleh : Najwa Atma Jauhara Pasmah
Mahasiswa: Psikologi Universitas Brawijaya

“Kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan, tapi kita bisa memilih bagaimana menanggapi kehidupan.”
— Viktor E. Frankl

Apakah hidup ini hanya sekumpulan peristiwa acak yang berjalan tanpa arah atau justru kita memiliki kuasa untuk membentuknya melalui keputusan yang sadar?

Pertanyaan ini yang mungkin terdengar sederhana, padahal adalah salah satu pertanyaan paling penting yang bisa kita ajukan dalam hidup. Bagi saya, ini bukan lagi teori, melainkan pengalaman yang mengubah cara saya memandang kehidupan.

Saya tumbuh dalam keluarga yang mapan secara ekonomi dan sangat menjunjung tinggi nilai kedisiplinan. Ayah dan ibu saya bukan tipe orang tua yang memanjakan anak-anaknya.

Meski tidak pernah memaksa untuk menjadi terbaik, kami tumbuh
dengan pemahaman bahwa menjadi biasa-biasa saja bukanlah sebuah pilihan. Tidak ada kalimat eksplisit seperti “kamu harus sukses”, tetapi semua sikap dan percakapan
mereka mengarah ke sana.

Dari kecil, saya sudah tahu jalan yang dianggap benar, seperti sekolah unggulan, nilai tinggi, dan jurusan favorit. Saya pun mengikuti alur tersebut. Semuanya tampak logis, sistematis, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, seiring berjalannya waktu, terutama ketika mendekati kelulusan SMA, saya mulai mempertanyakan apakah jalan ini benar-benar saya pilih? Atau hanya hasil akumulasi ekspektasi keluarga dan masyarakat yang saya telan begitu saja?

Puncaknya datang saat pengumuman SNBP yaitu salah satu jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Saya mendaftar pada jurusan yang sangat saya inginkan. Nilai rapor baik, prestasi cukup, dan saya merasa memiliki peluang.

Namun, kenyataan berkata lain. Saya tidak lolos. Kekecewaan yang saya rasakan waktu itu bukan hanya karena gagal masuk, tetapi karena saya merasa kehilangan arah. Dari kegagalan itu, saya justru mulai menemukan kesadaran.

Saya mulai bertanya “Apa yang sebenarnya aku inginkan? Jurusan apa yang benar-benar membuatku
bersemangat?” Saya akhirnya memilih Psikologi, sebuah pilihan yang sebelumnya saya pendam karena takut dianggap “tidak menjanjikan.”

Banyak yang mempertanyakan pilihan saya pada saat itu, tapi untuk pertama kalinya, saya merasa bebas.

Mempelajari Psikologi bukan hanya soal ilmu, tapi juga tentang memahami diri sendiri dan orang lain. Saya mulai mengerti mengapa individu melakukan tindakan tersebut, bagaimana emosi bekerja, dan bagaimana menjadi pendamping bagi mereka yang
sedang tidak baik-baik saja.

Saya sadar jalan ini tidak mudah. Tidak ada jaminan sukses secara instan. Tapi justru karena itulah saya merasa inilah jalan yang bermakna. Pemikiran filsuf eksistensialis seperti Sartre dan Viktor Frankl menjadi semakin relevan.

Sartre pernah berkata bahwa manusia “dikutuk untuk bebas.” Artinya, kita
selalu berada dalam posisi untuk memilih, bahkan ketika kita merasa tidak punya pilihan. Dan Frankl mengingatkan bahwa makna hidup bukanlah sesuatu yang ditemukan begitu saja, melainkan diciptakan melalui cara kita merespons kehidupan, termasuk penderitaan.

Dalam masyarakat hari ini, di mana media sosial menampilkan kehidupan yang tampak “sempurna,” sangat mudah untuk merasa gagal hanya karena tidak sesuai standar umum.

Kita mengejar validasi eksternal, seperti universitas ternama, pekerjaan
bergengsi, pasangan ideal. Padahal, validasi terdalam seharusnya datang dari dalam dari kejujuran terhadap diri sendiri.

Saya tidak menulis ini untuk menyarankan semua orang berhenti mengikuti norma. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa hidup yang bermakna tidak harus linier.

Kadang, kegagalan justru membawa kita ke jalan yang lebih otentik. Kegagalan
membuat kita berhenti dan bertanya “Apakah ini benar-benar hidupku, atau hanya hidup yang orang lain harapkan dariku?”

Hari ini, saya tidak lagi terlalu peduli apakah pilihan saya dianggap aman, populer, atau menguntungkan. Saya lebih peduli apakah pilihan itu selaras dengan nilai dan panggilan saya. Karena ternyata, kebebasan sejati bukan tentang bisa memilih apa saja, tapi tentang keberanian untuk bertahan pada pilihan yang membuat kita jujur dan utuh
sebagai manusia.

Jadi, jika ada yang bertanya, “Apakah hidupmu berjalan sesuai rencana?” Jawaban saya adalah “Tidak selalu. Tapi sejak saya mulai memilih dengan sadar, semuanya terasa jauh lebih bermakna.” (rls/yus)

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *