
Oleh: Syahrizul
(Cendekiawan Muda Riau)
Ka’bah adalah magnet spiritual, akan menarik jiwa-jiwa perindu Baitullah. Jejak sejarah di lembah Bakkah itu sarat dengan episode cinta dan rindu kepada-Nya. Tentu kita semua maklum kisah Nabi Ibrahim AS Sang Khalilullah.
Rindu datang ke baitullah tentu saja dirasakan sebagian besar umat Islam yang pernah datang atau yang belum pernah datang.
Karena rindu baitullah adalah kenikmatan spiritual mestinya jadi keintiman engkau dan Allah SWT saja. Tak harus juga diumumkan. Rindu adalah dialog hati di ceruknya yang paling dalam. Rindu terdalam kerapkali tak terucapkan.
Bisa saja orang yang tidak pernah menginjakkan kakinya di Rumah Allah tapi memperoleh pahala haji dan umrah yang paling mabrur. Seperti kisah tukang sol sepatu yang mendapatkan haji mabrur tanpa berhaji ke Mekkah sama sekali.
Ia mendonasikan semua tabungannya untuk ongkos haji kepada tetangganya yang sedang sakit dan tak punya biaya. Ia gagal berangkat haji tapi ia memperoleh pahala haji. Kisah ini masyhur walaupun sumbernya diperdebatkan.
Adalah Amir Khadafi, pria Libya yang ditolak imigrasi untuk berangkat haji, dua kali pesawat yang akan membawanya gagal berangkat.
Tenang ia menunggu di Bandara Internasional Sabha di Libya tengah. Akhirnya pilot memutuskan membawa Amir Khadafi atau tidak terbang sama sekali. Tak ada yang bisa menghalangi rindu itu. Bahkan semestapun tidak.
Rindu atau dzauq* yang hakiki hanya ada di dalam hati. Bukan sekedar pengumuman yang menyiratkan engkau pernah ke sana.
“Ya Allah, rindunya kembali ke baitullah, aku menatap ka’bah dari puncak tower zam-zam”. Ingat, keintiman spritual hanya antara engkau dengan Allah, kelezatannya melebihi apapun, bukan sensasi riya’ yang membuat ibadahmu batal.
Wallahu a’lam bishshawab
* rasa, selera, atau perasaan mendalam yang terkait dengan pengalaman spiritual atau batin.(rls/yus)
Pekanbaru Pos Riau