Sabtu , 13 Desember 2025

Malaria Meningkat Tajam di Sinaboi, Ketersediaan Primaquin Hingga Menipis

SINABOI (pekanbarupos.co) – Kasus malaria di Kecamatan Sinaboi meningkat tajam pada dua bulan terakhir ini, khususnya bulan Agustus ini terjadi peningkatan signifikan hingga ketersediaan obat khusus malaria (Primaquin) menipis.

Dengan begitu, Plt Kadis kesehatan Ners Afridah S.kep, M.kes dengan sigap segera turun bersama Bupati H Bistamam, beserta Sekda langsung meninjau ke lapangan dan mengambil langkah penanganan.

Meraka turun langsung kelapangan dan mengunjungi warga Sinaboi yang terjangkit malaria. Hal tersebut di sampaikan Kepala Puskesmas Sinaboi dr Sherman Wirly, Rabu (27/8) di Sinaboi.

Terkait adanya informasi tentang ketidak sediaan obat primakuin dan alat pemeriksaan malaria RDT, Sherman Wirly menjelaskan hal tersebut di akibatkan peningkatan kasus malaria yang mendadak, sempat menipis primaquin tapi belum pernah sampai kosong sampai seharian di Puskesmas Sinaboi selalu di carikan ketersediaan untuk pasien yg berobat baik oleh puskesmas dan dinas kesehatan

“Terkait adanya informasi beredar RDT kosong berhari hari atau pelayanan lambat, ini terjadi karena ramainya pasien dan mis informasi yang di terima. Kondisi ini terkesan, karena Puskesmas mulai mengalihkan pengunaan RDT Malaria ke pemeriksaan mikroskopik darah tebal- tipis,” tambahnya.

Sherman juga menambahkan bahwa pemeriksaan untuk memastikan seorang pasien menderita malaria, perlu didukung pemeriksaan dari darah

diagnosa malaria secara umum.
“Ada 2 jenis pemeriksaan yaitu pemeriksaan mikroskopik darah tebal tipis dan pemeriksaan RDT (rapid diagnostic test) Malaria,” jelasnya.

Diterangkan Sherman, pemeriksaan mikroskopik saat ini sudah tersedia di Puskesmas Sinaboi berkat kerjasama pihak puskesmas dari petugas ATLM – melalui koordinasi ibu kadis ners Afirah ke dinkes propinsi (pak Musfardi Rustam) untuk perbaikan alat pendukung mikroskop.

“Pemeriksaan mikroskopik darah tebal – tipis ini mulai di terapkan di Puskesmas Sinaboi, karena pemeriksaan ini yang di wajibkan untuk memenuhi standar nasional dan standar diagnosa yang di anjurkan badan kesehatan dunia,” tambahnya.

Dengan pemeriksaan sediaan hapusan darah tebal dan tipis yang merupakan jenis pemeriksaan standar atau gold standar dalam mendiagnosa penyakit malaria, yaitu menemukan atau terlihatnya adanya parasit malaria dalam sel darah merah pasien yang terjangkit malaria.

“Proses pemeriksaan ini membutuhkan waktu lebih lama minimal di atas 8 jam baru selesai. Jenis pemeriksaan mikroskopik yang di yakini paling akurat saat ini,” paparnya.

Terang Sherman Jenis rapid diagnostic test malaria kelebihannya cepat hasilnya terbaca, mudah di gunakan, tidak perlu tenaga profesional cocok untuk daerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan laboratoriun (puskesmas sinaboi saat ini tersedia 2 petugas ATLM tapi kekurangan dari RDT malaria bisa Positif palsu.

“Pasien yang baru sembuh biasanya masih positif hasil RDT nya dan bisa juga negatif palsu dan sensitivitas bervariasi sehingga tetap membutuhkan konfirmasi kepastian penyakit dari pemeriksaan mikroskopik darah tebal tipis,” tambahnya.

Sementara adanya informasi primakuin di puskesmas kosong di sangkal oleh pimpinan Puskesmas, pada tanggal 23 Agustus 2025 Sabtu paginya sempat menipis tapi langsung di carikan tambahan oleh petugas kesehatan dari kecamatan terdekat.

Semua penderita tersangka malaria dari Sabtu sampai Senin di berikan obat primakuin oleh dokter dokter yang bertugas. Dan pada tanggal 25 bu kadis kesehatan langsung menggeser obat primakuin dari puskesmas terdekat untuk di alokasikan ke Puskesmas Sinaboi dan menginformasikan sudah diusahakan pengiriman dari Pekanbaru ke Rohil untuk memenuhi kebutuhan.

“Kalau obat DHP selama ini persediaan di puskesmas tidak ada masalah dan sore 26 Agustus 2025 sudah di drop dinkes rohil 100 paket tambahan lagi,” jelasnya.

RDT hari Selasa 26 Agustus 2025, juga di tambah pengiriman dari Dinkes Rohil 5 kotak lagi ke Puskesmas dan persediaan
primakuin sudah ada tambahan stock 10 kotak.

“Peningkatan kasus malari dalam beberapa bulan terakhir yang belum pernah terjadi sejak berdirinya Puskesmas Sinaboi yang sudah lebih 17 tahun. Kondisi ini membuat kewalahan nakes, named puskesmas menanganinya,” terangnya.

Sherman berharap dengan dukungan bapak Bupati Rohil, Wakil Bupati Rokan Hilir, Kepala Dinas Kesehatan, termasuk kementerian kesehatan dan dinas kesehatan propinsi yang sudah beberapa kali turun meninjau ke sinaboi, bantuan penempatan tugas khusus nakes kementerian kesehatan dan dokter intrinsip dari kementerian kesehatan dan lintas sektor di Sinaboi dan kepenghuluan se Sinaboi Semoga secepatnya bisa menekan penularan malaria yang beberapa bulan terakhir semakin meningkat.(ald)

About Jun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *