PANGKALANKERINCI(pekanbarupos.co)-Pagi belum terlalu tinggi ketika Pakde Marsidi duduk bersimpuh di antara deretan polibag hitam yang terhampar rapi.
Tangannya yang mulai keriput sesekali meraba daun bibit sawit yang menghijau. Usianya 68 tahun, tapi sorot matanya masih menyimpan semangat yang tak lekang oleh waktu.
Marsidi, atau lebih akrab disapa Pakde bukan orang asing dengan kerja keras. Namun usia mengajarkannya untuk berdamai dengan batas tubuh.
“Kalau kerja berat, sebenarnya masih bisa… tapi sudah tak sekuat dulu,” ujarnya pelan, sambil tersenyum saat ditemui di lapak Harapannya, Selasa (27/1/2026).
Di lahan pembibitan sawit yang terletak di sekitar Komplek Sekolah Bernas, Kelurahan Pangkalan Kerinci Barat, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau Pakde menghabiskan hari-harinya.
Lahan itu bukan miliknya.
Ia pinjam dari seorang muhsinin. Di situlah, sekitar 4.000 batang bibit sawit berusia hampir lima bulan tumbuh, dirawat penuh kesabaran.
Pembibitan sawit menjadi pilihannya. Bukan karena mudah, tapi karena masih bisa ia jangkau dengan sisa tenaga yang ada. Hampir semua pekerjaan ia lakukan sendiri, mengisi tanah ke polibag, menyemai bibit, memupuk, hingga merawatnya agar siap dijual. Usaha ini sudah ia tekuni lebih dari empat tahun lalu.
Pakde bukan sosok yang baru mengenal pahit manis kehidupan. Pernah menjabat sebagai Ketua RT, ia juga telah menjajal beragam pekerjaan.
Dunia pertanian dan perkebunan menjadi medan yang paling lama ia tapaki. Baginya, kerja bukan sekadar mencari nafkah, tapi menjaga harga diri agar tak menyusahkan anak-anaknya.
Namun di balik rutinitas menyiram dan memupuk itu, ada cita-cita besar yang diam-diam ia rawat.
Hasil penjualan bibit sawit kali ini ingin ia persembahkan untuk satu tujuan mulia, mengumrohkan isterinya.
“Alhamdulillah, saya sudah pernah umroh satu kali,” kenangnya. Saat itu, dunia sedang diuji pandemi Covid-19. Ia berangkat bersama Jabal Tour Travel pimpinan Ustadz Muhammad Gohan Matondang.
Tapi sang isteri tertinggal di rumah, kondisi kesehatannya belum memungkinkan. Keinginan itu tak pernah padam.
“In syaa Allah, kalau bibit ini laku semua, saya ingin berangkat bareng isteri. Harus didampingi… apalagi kami sudah tak muda lagi,” ucapnya penuh harap.
Kini, Pakde Marsidi yang dikenal rutin memakmurkan mushalla dekat rumahnya itu kembali menanam harapan bukan hanya di tanah, tapi juga di langit doa. Setiap daun sawit yang tumbuh, seolah menjadi saksi azamnya menuju Baitullah bersama pendamping hidupnya.
Di antara ribuan bibit sawit yang menghijau, Pakde Marsidi tak sekadar menunggu panen. Ia sedang menunggu takdir terbaik dari Allah. Semoga Allah mudahkan langkahmu, Pakde.(amr)
Pekanbaru Pos Riau