Kesan Orang Tua dan Santri Wisuda ke-1 Ma’had Tahfizh Al Madania
KAMPAR (pekanbarupos.co)–Air mata akhirnya tumpah juga. Bukan karena perpisahan semata, tetapi karena enam tahun perjuangan yang dahulu terasa berat, kini menjelma menjadi kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Sabtu, (9/5/2026) atau 21 Dzulqa’dah 1447 H menjadi hari yang akan selalu dikenang oleh keluarga besar Ma’had Tahfizh Al Madania Riau di Jalan Lintas Pekanbaru-Bangkinang Desa Tibun Kecamatan Kampar.
Sebanyak 15 santri putra angkatan pertama resmi diwisuda dan dilepas setelah menempuh perjalanan panjang menghafal Kalamullah, menuntut ilmu, dan ditempa dalam pendidikan akhlak serta kesabaran.
Di hadapan para asatidz, wali santri, dan tamu yang hadir, suasana haru begitu terasa ketika perwakilan wali santri, James Derode, berdiri menyampaikan kesan dan pesan mewakili seluruh orang tua.
Dengan suara yang tertahan, ia mengungkapkan rasa syukur mendalam atas perjuangan panjang para guru dan pengasuh pesantren dalam membimbing anak-anak mereka.
“Terima kasih yang sedalam-dalamnya kami haturkan kepada Yayasan Al Madania Riau dan seluruh jajaran ustadz. Kami menyadari sepenuhnya bahwa mendidik anak-anak di lingkungan pesantren bukanlah tugas yang mudah,” ucapnya penuh haru.
Ia menyebut, para ustadz bukan sekadar pengajar, tetapi orang-orang yang dengan sabar menanamkan akhlak mulia dan mewariskan ilmu agama yang tak ternilai harganya.
“Jasa dan keikhlasan para ustaz adalah amal jariyah yang insya Allah akan terus mengalir,” lanjutnya.
Tak lupa, ia juga menyampaikan permohonan maaf atas segala tingkah dan kekhilafan para santri selama menimba ilmu di pondok.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya jika anak-anak kami pernah sulit diatur atau merepotkan para ustadz. Kami juga memohon ridho dan keikhlasan atas setiap ilmu yang telah diajarkan agar menjadi cahaya dan keberkahan bagi masa depan mereka,”harapnya.
Namun puncak haru terasa ketika pesan itu diarahkan kepada para santri yang hari itu resmi meninggalkan pondok sebagai alumni angkatan pertama.
“Kelulusan ini bukan akhir, tetapi gerbang awal perjuangan yang sebenarnya. Ke mana pun kaki kalian melangkah, jangan pernah hilangkan identitas santri dari jiwa kalian. Jaga salat, jaga hafalan, dan tetaplah rendah hati,” pesannya.
Di sisi lain, suasana aula semakin hening ketika perwakilan santri wisuda, Muhammad Faizin Hariri Amri, menyampaikan sepatah kata dalam bahasa Arab yang kemudian dilanjutkan oleh sahabatnya, Habiburrahman, dalam bahasa Indonesia.
Bukan pidato biasa. Kata demi kata yang keluar seolah membawa seluruh hadirin menyusuri kembali perjalanan enam tahun mereka di pondok.
“Kami datang dengan rasa takut, dengan keraguan, bahkan mungkin dengan air mata yang diam-diam kami sembunyikan,” tutur Habiburrahman.
Mereka mengenang hari pertama memasuki pesantren. Meninggalkan rumah, meninggalkan orang tua, dan meninggalkan kenyamanan demi satu tujuan, belajar dan menghafal Al-Qur’an.
“Hari itu kami duduk di halaman pertama dengan suara terbata-bata. Hafalan masih sedikit, bahkan mungkin ada di antara kami yang belum benar bacaannya. Namun hari ini, tanpa terasa, ternyata itu adalah malam terakhir kami di pondok,”ungkapnya.
Asrama, menurut mereka, bukan hanya tempat tidur. Di sanalah mereka belajar tentang persaudaraan, air mata, perjuangan, bahkan kerinduan kepada keluarga.
“Ada malam-malam ketika kami menangis diam-diam karena rindu rumah. Ada hari-hari ketika satu ayat terasa begitu berat untuk dihafal. Namun kami sadar, kami tidak sendiri. Ada doa ayah dan ibu yang mungkin tak pernah berhenti dipanjatkan di sepertiga malam,”ucapnya.
Ucapan itu membuat banyak orang tua menundukkan kepala. Meski tak tampak nyata, tapi ada orang tua yang berurai air mata yang tak mampu lagi ditahan.
Kepada kedua orang tua mereka, para santri menyampaikan rasa terima kasih yang begitu dalam.
“Terima kasih atas setiap air mata yang kalian sembunyikan. Terima kasih atas setiap doa yang kalian panjatkan. Terima kasih karena telah mempercayakan kami kepada Ma’had Tahfizh Al Madania,”beber mereka.
Tak lupa, mereka juga menyampaikan penghormatan kepada para ustadz yang selama enam tahun menjadi pembimbing sekaligus orang tua di pondok.
“Mungkin kami sering membuat ustaz lelah, sering mengecewakan, bahkan lalai. Namun ustaz tetap sabar membimbing kami. Hari ini kami memahami, semua itu adalah bentuk kasih sayang,”kata mengenang.
Enam tahun hidup bersama telah menjadikan mereka bukan sekadar teman, melainkan keluarga.
“Kita pernah tertawa bersama, dihukum bersama, saling menguatkan saat ada yang hampir menyerah,”ungkapnya lagi.
Kini jalan mereka akan berbeda. Tidak ada lagi suara teman yang membangunkan untuk tahajud. Tidak ada lagi makan bersama di asrama. Tidak ada lagi halaqah yang setiap hari menjadi saksi perjuangan mereka menjaga hafalan.
Namun di penghujung pesan itu, para santri menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan.
“Hari ini bukan akhir dari perjalanan kami, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: menjadi penjaga Al-Qur’an di mana pun kami berada,”katanya seakan berucap janji.
Di tengah dunia yang terus berubah, wisuda angkatan pertama Ma’had Tahfizh Al Madania Riau bukan sekadar seremoni kelulusan. Ia adalah bukti bahwa kesabaran orang tua, keikhlasan guru, dan perjuangan anak-anak yang rela meninggalkan kenyamanan demi Al-Qur’an akan selalu melahirkan cahaya.
Dan pada hari itu, cahaya itu terlihat jelas di wajah-wajah para hafizh muda yang melangkah keluar dari gerbang pondok membawa Al-Qur’an bukan hanya di hafalan, tetapi juga di dalam hati mereka.(amr)
Pekanbaru Pos Riau