Jumat , 31 Juli 2026

Tangis Haru, Wisuda Perdana Ponpes Imam Dzahabi Jadi Inspirasi Orang Tua Menitipkan Generasi ke Pesantren

KAMPAR(pekanbarupos.co)– Tangis haru bercampur rasa syukur menyelimuti Masjid Imam Dzahabi yang berdiri megah di kompleks Pondok Pesantren Imam Dzahabi, Jalan Muhajirin, Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Sabtu (13/6/2026).

Hari itu bukan sekadar seremoni pelepasan santri. Sebuah catatan sejarah tengah ditorehkan. Untuk pertama kalinya sejak berdiri di bawah naungan Yayasan Manarul Ilmy, Pondok Pesantren Imam Dzahabi mewisuda angkatan perdananya yang terdiri dari 47 santri putra.

Suasana khidmat begitu terasa. Di hadapan para orang tua yang diantaranya tak kuasa membendung air mata, para santri yang telah menempuh pendidikan selama enam tahun ditambah satu tahun masa khidmah berdiri dengan penuh kebanggaan, membawa bekal ilmu agama dan ilmu umum melalui ijazah pondok serta ijazah nasional.

Mengusung tema, “Dengan Ilmu Kita Membangun Umat, dan Dengan Tekad yang Kuat Kita Mencapai Puncak Kejayaan”, wisuda angkatan pertama ini menjadi momentum bersejarah yang tak terlupakan.

Mudir Ponpes Imam Dzahabi, Ustadz Faizil Fazli, Lc, menyebut momen tersebut sebagai sejarah besar bagi pesantren yang dipimpinnya.
“Ini adalah catatan sejarah karena pertama kalinya Pondok Pesantren Imam Dzahabi melahirkan alumni. Alhamdulillah, sebuah langkah bersejarah telah terukir. Wisuda angkatan pertama menjadi bukti nyata perjalanan pendidikan yang penuh perjuangan, doa dan kesungguhan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca mengenang perjalanan panjang hingga lahirnya alumni perdana.

Menurut alumnus Universitas Islam Madinah tersebut, keberhasilan para santri bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk mengabdi kepada umat dan masyarakat.

Ia berpesan agar para alumni mengambil bagian dalam pelayanan terhadap agama Allah. Sebab, kemuliaan dan keistimewaan seorang pelayan sangat bergantung kepada apa yang ia layani.

Pesan itu, menurutnya, sangat relevan di tengah zaman ketika sosok-sosok yang memiliki mental melayani agama dan umat semakin dibutuhkan.
“Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya’,” pesannya mengutip hadis riwayat Ath-Thabrani.

Sebelum penyerahan ijazah dan penghargaan kepada para santri berprestasi, hadirin dibuat terpukau sekaligus terharu dengan penampilan uji hafalan Al-Qur’an dari santri khidmah yang bukan berasal dari program takhasus, namun berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an, Muhammad Syafi’i Murtadho.

Lantunan ayat-ayat suci yang mengalir dari lisannya seolah menjadi jawaban atas kegelisahan banyak orang tua di tengah derasnya arus zaman. Bahwa menitipkan anak ke pesantren bukan sekadar memberikan pendidikan, tetapi juga menjaga iman, akhlak dan masa depan generasi.

Ketua Yayasan Manarul Ilmy, Dr. Deni Saputra, Lc, MA, melalui sambutan yang dibacakan Penasihat Yayasan, Ustadz Zulkhairi, Lc, menegaskan komitmen yayasan untuk terus mendukung kebutuhan lembaga dalam mencetak generasi Qurani.
Generasi yang tidak hanya menjaga Al-Qur’an dengan lisannya, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam akhlak, sikap dan pengamalan sehari-hari.

Pada kesempatan yang sama, Penasihat Yayasan Manarul Ilmy, Ustadz Dr. Aspri Rahmat Azai, Lc, MA, mengingatkan para wisudawan agar mampu memberikan kontribusi nyata dalam dakwah di tengah masyarakat dengan mengedepankan akhlak yang mulia.

Ia menekankan pentingnya membiasakan berpikir sebelum berbicara serta tetap teguh memegang agama di tengah derasnya gelombang syahwat dan berbagai godaan zaman.
“Jadilah pribadi yang berakhlak mulia dan tetap istiqamah dalam agama. Dakwah yang paling indah adalah dakwah dengan keteladanan,” pesannya.

Di balik senyum bahagia para orang tua, tersimpan kisah panjang perjuangan dan pengorbanan. Tujuh tahun silam mereka mengantarkan putra-putra tercinta dengan iringan doa dan harapan. Kini, mereka menyaksikan anak-anak itu kembali dengan bekal ilmu, adab dan kecintaan kepada Al-Qur’an.
Wisuda angkatan pertama Pondok Pesantren Imam Dzahabi menjadi bukti bahwa pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tetapi juga tempat membentuk karakter, akhlak dan peradaban.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, momen bersejarah ini seakan mengirimkan pesan kepada para orang tua bahwa investasi terbaik bukanlah sekadar harta, melainkan menghadirkan anak-anak yang berilmu, berakhlak mulia, mencintai Al-Qur’an dan siap menjadi penerang bagi umat.
Karena sejatinya, kebahagiaan terbesar seorang ayah dan ibu bukan hanya melihat anaknya berhasil di dunia, tetapi menyaksikan mereka tumbuh menjadi generasi saleh yang menjaga agama dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat.

Hadir pula Ketua Pembina sekaligus pendiri Yayasan Manarul Ilmy, Syahrul Akmal, SE, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Kampar, Sekretaris Camat Tambang, para asatidzah, serta keluarga besar para wisudawan.

Berbagai penampilan para santri semakin menambah semarak acara. Diketahui sejumlah santri alumni angkatan pertama ini sudah diterima diberbagai perguruan tinggi agama maupun bahkan perguruan tinggi di luar negeri.(amr)

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *