KAMPAR(pekanbarupos.co)-Tangis haru bercampur rasa syukur menyelimuti Masjid Imam Dzahabi yang berdiri megah di kompleks Pondok Pesantren Imam Dzahabi, Jalan Muhajirin, Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Sabtu (13/6/2026).
Hari itu bukan sekadar seremoni pelepasan santri. Sebuah catatan sejarah sedang ditorehkan. Untuk pertama kalinya sejak berdiri di bawah naungan Yayasan Manarul Ilmy, Pondok Pesantren Imam Dzahabi mewisuda angkatan perdananya yang terdiri dari 46 santri putra angkatan pertama.
Suasana khidmat begitu terasa. Di hadapan para orang tua yang diantaranya meneteskan air mata, para santri yang telah menempuh pendidikan selama enam tahun ditambah satu tahun masa khidmah, berdiri dengan penuh kebanggaan membawa bekal ilmu agama dan ilmu umum melalui ijazah pondok serta ijazah nasional.
Mengusung tema, “Dengan ilmu kita membangun umat, dan dengan tekad yang kuat kita mencapai puncak kejayaan,” wisuda angkatan pertama ini menjadi momentum bersejarah yang tak terlupakan.
Mudir Ponpes Imam Dzahabi, Ustadz Faizil Fazli, Lc, menyebut momen tersebut sebagai sejarah besar bagi pesantren.
“Ini adalah catatan sejarah karena pertama sekali. Alhamdulillah, sebuah langkah bersejarah telah terukir. Wisuda angkatan pertama menjadi bukti nyata perjalanan pendidikan yang penuh perjuangan, doa dan kesungguhan dalam menuntut ilmu,” ujarnya sambil terdengar berurai mata mengenang berbagai perjuangan bersama hingga melahirkan alumni perdana di pondok yang dipimpinnya itu.
Menurutnya, keberhasilan para santri bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk mengabdi kepada umat dan masyarakat.
Wisuda angkatan pertama Pondok Pesantren Imam Dzahabi menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu, melainkan tempat membentuk karakter, akhlak dan peradaban.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim).
Menurutnya, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, momen bersejarah ini seakan mengirimkan pesan kepada para orang tua bahwa investasi terbaik bukanlah sekadar harta, melainkan menghadirkan anak-anak yang berilmu, berakhlak mulia, mencintai Al-Qur’an dan siap menjadi penerang bagi umat.
Karena sejatinya, kebahagiaan terbesar seorang ayah dan ibu bukan hanya melihat anaknya sukses di dunia, tetapi menyaksikan mereka tumbuh menjadi generasi yang menjaga agama dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat.
Sebelum penyerahan ijazah dan penghargaan kepada para santri berprestasi, hadirin dibuat terpukau sekaligus terharu dengan penampilan uji hafalan Al-Qur’an dari santri khidmah yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz, Muhammad Syafi’i Murtadho.
Lantunan ayat-ayat suci yang mengalir dari hafalannya seolah menjadi jawaban bagi para orang tua bahwa menitipkan anak ke pesantren bukan hanya tentang pendidikan, tetapi juga tentang menjaga iman, akhlak, dan masa depan generasi.
Pembina Yayasan Manarul Ilmy, Ustadz DR Aspri Rahmat Azai, Lc, MA dalam tausiyahnya mengingatkan para wisudawan agar menjadi insan yang mampu memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, ilmu harus dihiasi dengan akhlak yang mulia, membiasakan berpikir sebelum berbicara, serta tetap teguh memegang agama di tengah derasnya gelombang syahwat dan berbagai godaan zaman.
“Jadilah pribadi yang berakhlak mulia dan tetap istiqamah dalam agama. Dakwah yang paling indah adalah dakwah dengan keteladanan,” pesannya.
Berbagai penampilan para santri semakin menambah semarak acara. Hadir pula Pembina Yayasan Manarul Ilmy, Syahrul Akmal, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Kampar, Sekretaris Camat Tambang, para asatidzah serta keluarga besar para wisudawan.
Di balik senyum bahagia para orang tua, tersimpan kisah panjang perjuangan dan pengorbanan. Tujuh tahun lalu mereka mengantar putra-putra mereka dengan doa dan harapan. Kini, mereka menyaksikan anak-anak itu kembali dengan bekal ilmu, adab dan kecintaan kepada Al-Qur’an.(amr)
Pekanbaru Pos Riau