Rabu , 13 Mei 2026
Oplus_131072

Dari Filsafat ke Psikologi: Evolusi Pandangan Manusia tentang Emosi dan Rasionalitas

Oleh : Zahra Cahayanisa Mufidahadi
Mahasiswa: Psikologi Universitas Brawijaya

Sejak manusia pertama kali mulai bertanya “mengapa” dan “bagaimana”, emosi dan rasionalitas telah menjadi dua kutub pemikiran yang sering dipertentangkan. Dalam tradisi filsafat Barat, emosi kerap dianggap sebagai kekuatan liar yang harus ditundukkan oleh akal. Namun perkembangan ilmu psikologi modern justru menunjukkan bahwa emosi bukanlah musuh rasio,

melainkan data dan sinyal penting bagi proses pengambilan keputusan. Artikel ini akan menelusuri perjalanan panjang dari Plato dan Stoisisme hingga teori regulasi emosi James Gross dan kecerdasan emosional Daniel Goleman, serta merenungkan apa artinya bagi kita hari ini.

Plato dan Alegori Kereta Kuda
Plato, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah filsafat, menggambarkan jiwa manusia lewat alegori kereta kuda dalam karyanya The Republic.

Dalam alegori kereta kuda yang dikemukakan oleh Plato, jiwa manusia dibagi menjadi tiga bagian utama. Bagian pertama adalah kuda hitam, yang melambangkan nafsu serta dorongan emosi liar yang sering kali menarik manusia menuju keinginan-keinginan yang tidak terkontrol.

Bagian kedua adalah kuda putih, yang mewakili semangat luhur dan kehendak mulia, yaitu dorongan yang mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi dan bermoral. Sementara itu, bagian ketiga adalah pengemudi kereta, yang merupakan simbol dari rasio.

Rasio inilah yang bertugas mengendalikan dan menuntun kedua kuda tersebut, menjaga keseimbangan di antara dorongan emosi liar dan aspirasi luhur, agar jiwa dapat bergerak menuju tujuan yang benar dan bijaksana.
Menurut Plato, emosi yang tidak dikendalikan akan menyeret jiwa jauh dari kebenaran dan kebajikan. Pengendali rasio harus menjaga kendali tali kekang agar tidak terjadi kehancuran.

Pandangan ini meletakkan dasar bagi pemisahan tajam antara emosi dan rasio, di mana rasio selalu laiknya raja yang memerintah.

Stoisisme: Ketenangan Batin sebagai Puncak Kebijaksanaan

Beberapa abad kemudian, aliran Stoisisme yang dipelopori oleh Zeno, kemudian dikembangkan Seneca dan Marcus Aurelius, mengambil sikap yang bahkan lebih tegas. Bagi Stoik, emosi dianggap sebagai penilaian yang keliru atas kenyataan. Ketika kita marah atau takut, itu bukan reaksi netral.

Ia menunjukkan bahwa kita menilai sesuatu di luar kendali kita sebagai penting atau mengancam. Menurut pandangan Stoisisme, solusi terhadap timbulnya emosi negatif adalah dengan mengubah penilaian kita terhadap peristiwa atau situasi yang dihadapi. Proses ini, yang dikenal sebagai reframing, bertujuan untuk mencegah munculnya emosi dengan merekonstruksi cara kita memaknai suatu kejadian.

Selain itu, Stoisisme menekankan pentingnya fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali individu, yaitu penggunaan logika dan pengembangan kebajikan. Sementara itu, segala sesuatu yang berada di luar kendali, seperti tindakan orang lain atau kejadian eksternal, harus diterima dengan ketenangan dan tanpa keterikatan emosional yang berlebihan.

Dengan demikian, individu diharapkan dapat mencapai ketenangan batin melalui pengelolaan penilaian dan kontrol diri secara rasional.
Kebahagiaan sejati bagi Stoik adalah ketenangan batin atau stabilitas emosional di tengah gempuran peristiwa eksternal.

Emosi, dalam kerangka ini, bukan hanya gangguan tetapi gejala bahwa penilaian kita tidak sesuai realitas. Maka, penekanan utama adalah menghilangkan atau menekan emosi agar akal dapat bekerja tanpa badai.
Perkembangan penelitian psikologi di abad ke-20 dan 21 membawa revolusi pemikiran, yaitu bahwa emosi

bukanlah beban bagi akal, melainkan komponen penting dalam proses berpikir. Teori regulasi emosi James Gross dan konsep kecerdasan emosional Daniel Goleman merupakan dua teori kunci yang mengubah cara kita memahami peranan emosi.

Psikologi Modern: Emosi sebagai Data dan Kekuatan

1. Teori Regulasi Emosi James Gross
James Gross (1998) memperlihatkan bahwa emosi adalah hasil proses dinamis yang dapat diintervensi.

Dalam model regulasi emosi yang dikembangkan oleh James Gross, strategi regulasi dibedakan menjadi dua kategori utama. Kategori pertama adalah antecedent-focused strategies, yakni upaya untuk mengelola emosi dengan menata ulang cara pandang terhadap situasi sebelum emosi tersebut sepenuhnya muncul.

Salah satu contoh dari strategi ini adalah cognitive reappraisal, yaitu proses kognitif di mana individu mengubah interpretasi mereka terhadap suatu peristiwa guna mengubah dampak emosional yang ditimbulkan.

Kategori kedua adalah response-focused strategies, yaitu strategi yang diterapkan setelah emosi telah muncul. Salah satu bentuknya adalah suppression, yakni tindakan menahan atau menghambat ekspresi emosional yang terlihat secara lahiriah.

Kedua pendekatan ini menggambarkan bahwa regulasi emosi dapat dilakukan baik sebelum maupun setelah emosi berkembang, tergantung pada kapan individu mulai melakukan intervensi terhadap pengalaman emosionalnya.
Gross menekankan bahwa menahan emosi (suppression) sering kali malah menimbulkan stres dan konflik internal. Sebaliknya, memahami dan mengubah narasi internal (reappraisal) membantu kita menyeimbangkan antara kebutuhan emosional dan tuntutan rasional.

2. Emotional Intelligence Daniel Goleman
Daniel Goleman (1995) kemudian memperluas pandangan ini lewat konsep kecerdasan emosional (Emotional Intelligence, EI). Daniel Goleman mengidentifikasi lima komponen utama yang membentuk kecerdasan emosional. Pertama, self-awareness merujuk pada kemampuan individu untuk mengenali dan memahami emosi yang sedang mereka rasakan, termasuk kesadaran terhadap pengaruh emosi tersebut terhadap pikiran dan perilaku.

Kesadaran diri ini menjadi fondasi untuk mengelola respons emosional secara lebih adaptif. Kedua, self-regulation adalah kapasitas untuk mengelola emosi secara konstruktif, menghindari ledakan emosional yang impulsif, serta menyesuaikan reaksi emosional dengan tuntutan situasi secara fleksibel.
Komponen ketiga, motivation, menggambarkan penggunaan dorongan emosional internal untuk menggerakkan individu menuju pencapaian tujuan, dengan penekanan pada ketekunan, inisiatif, dan komitmen terhadap standar-standar personal.

Keempat, empathy menunjukkan kemampuan untuk memahami dan merasakan emosi yang dialami orang lain, tidak hanya pada level ekspresi lahiriah, tetapi juga dalam konteks yang lebih dalam terkait kebutuhan dan perspektif mereka.

Terakhir, social skills mengacu pada kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan sosial yang efektif, termasuk keterampilan dalam berkomunikasi, bekerja sama, serta mengelola dinamika sosial berdasarkan kesadaran emosional yang dimiliki. Kelima komponen ini saling berinteraksi dan secara keseluruhan membentuk dasar yang penting dalam menjalani kehidupan sosial, profesional, dan pribadi dengan lebih adaptif dan bermakna.

Dalam kerangka Goleman, emosi menjadi data atau sinyal bahwa sesuatu penting bagi kita, atau ada nilai tertentu yang mungkin terancam.

Mengabaikan emosi berarti membuang peta internal kita. Dengan EI, rasio memproses data tersebut dan emosi memberi bobot nilai. Keduanya bekerja bersama untuk keputusan yang lebih kaya dan manusiawi.

Refleksi Diri
Melihat perjalanan sejarah pemikiran manusia, dapat diamati adanya dua kutub pendekatan terhadap hubungan antara emosi dan rasionalitas. Dalam filsafat klasik, emosi dipandang sebagai gangguan bagi rasio.

Emosi dianggap sebagai kekuatan yang mengacaukan kemampuan manusia untuk berpikir jernih, sehingga strategi yang dikembangkan berfokus pada pengendalian atau penekanan emosidemi menjaga kejernihan logika.

Tujuan utama dari pendekatan ini adalah mencapai ketenangan batin dan mewujudkan kebajikan melalui dominasi rasio atas dorongan emosional.
Sebaliknya, dalam perkembangan psikologi modern, emosi tidak lagi dilihat sebagai penghalang rasionalitas, melainkan sebagai data penting yang memberikan informasi krusial dalam proses pengambilan keputusan.

Strategi yang digunakan pun berubah, dari sekadar menekan emosi menjadi mengatur dan menafsirkan ulang emosi secara adaptif. Dalam pendekatan ini, tujuan akhir bukan lagi semata-mata ketenangan batin, melainkan pencapaian keputusan yang adaptif dan seimbang, yang mempertimbangkan baik aspek rasional maupun emosional.

Perubahan paradigma ini bukan sekadar evolusi dalam ranah akademik, tetapi juga mencerminkan transformasi dalam cara manusia memahami dirinya sendiri. Alih-alih terus-menerus memerangi emosi sebagai kelemahan, individu masa kini diajak untuk membaca, memahami, dan mengelola emosi sebagai pendorong logika.

Emosi tidak lagi diposisikan sebagai hambatan, melainkan sebagai mitra kritis yang, apabila dikelola dengan tepat, mampu memperkaya proses berpikir dan menghasilkan keputusan yang lebih manusiawi dan bermakna.

Referensi

Goleman, D. (2009). Kecerdasan emosional. Gramedia Pustaka Utama.
Griswold, C. L., Jr. (2010). Self-knowledge in Plato’s Phaedrus. Pennsylvania State University Press.
Lerner, J. S., Li, Y., Valdesolo, P., & Kassam, K. S. (2015). Emotion and decision making. Annual Review of Psychology, 66, 799–823. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-010213-115043
Organ, T. W. (1987). Philosophy and the self. Susquehanna University Press.

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *