Selasa , 19 Mei 2026
Oplus_131072

Mamak Malin, Pedagang Keliling yang Setia Menyapa Penikmat Nira

PANGKALANKERINCI(pekanbarupos.co) – Di antara riuh Pasar Baru Pangkalan Kerinci, ada satu suara khas yang berbeda dari deru kendaraan. Suara speaker kecil dari sebuah sepeda motor sederhana mengumandangkan promosi sederhana namun menggelitik rasa penasaran.

“Kembali hadir, hadir kembali, nira aren,enakkan, enaklah, berapa satu, limaribu,”

Suara itu milik Mamak Malin, atau nama aslinya Anton Hendra. Pria sederhana ini sudah bertahun-tahun mengais rezeki dari pasar. Namun, kala dagangan di pasar sepi, ia tak menyerah. Ia putar haluan, memanfaatkan paruh waktu dengan menjajakan nira aren segar yang dibelinya dari pemilik pohon aren di Pangkalan Kerinci.

Suara Khas, Harapan yang Dihidupkan. Dengan motor matic yang setia menemaninya, Mamak Malin berkeliling dari lorong ke lorong. Ia tak pernah tahu di mana rezekinya akan mampir. Kadang di tepi jalan, ada seorang ibu rumah tangga melambai. Kadang pula seorang bapak penat pulang kerja singgah membeli segelas nira pelepas dahaga. Malah ada pula anak kecil yang sudah menjadi langganannya. Dan hafal persis suara speaker promosi yang sering diputar melalui loud speaker.

“Kalau ada yang beli, alhamdulillah. Kalau tidak, saya terus saja jalan. Rezeki kan sudah ada yang atur,” ucapnya lirih namun penuh keyakinan, Kamis (2/10/2025).

Kesegaran dalam gelas Kehangatan dalam Perjuangan. Air nira yang ia jual bukan sekadar pelepas dahaga. Minuman tradisional itu dikenal punya banyak manfaat, menyegarkan tubuh, menambah stamina, bahkan dipercaya menjaga kesehatan pencernaan. Namun, lebih dari itu, setiap gelas nira yang ia jajakan yang dipaketkan dalam kantong plastik menyimpan kisah kegigihan seorang ayah yang ingin menyambung hidup dengan cara yang halal dan sederhana.

Harga yang ia tawarkan pun amat bersahabat, Rp 5.000 per gelas dan beda harga kalau botol air mineral besar.
“Tak ada varian rasa. Cuma satu air nira murni yang sudah didinginkan,”bebernya dengan senyum tulus.

Jalan Panjang terus dilaluinya. Tak banyak orang tahu, sebelum berjualan nira, Anton Hendra lebih dulu mengandalkan rezeki dari berdagang di Pasar Baru Pangkalan Kerinci. Namun, persaingan dagang yang makin ketat membuat hasil jualannya juga ikut fluktuatif seiring kondisi ekonomi masyarakat.
“Qoddarullahu maa syaa afa’al,”ungkapnya menerima kondisi yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun, tidak ada kata menyerah. Daripada menyerah, ia memilih berikhtiar dengan cara lain. Di sela waktu senggang, ia membeli nira segar dari petaji aren, lalu mengemas dan menjajakan kembali dengan harga yang bisa dijangkau semua kalangan.

“Kalau cuma mengandalkan pasar, agak gimana gitu. Jadi harus pintar-pintar cari jalan lain. Nira ini salah satunya,” ujarnya.

Setia Menyapa, Menjaga Asa
Setiap kali motor tuanya melintas dengan suara speaker yang khas, warga Pangkalan Kerinci tahu, Mamak Malin sedang lewat. Sebagian tersenyum, sebagian melambai, sebagian hanya mendengar dan berlalu. Namun, bagi Mamak Malin, sapaan kecil atau sekadar senyum dari orang yang ditemuinya adalah energi untuk terus melaju.

Di balik botol dan gelas berisi nira yang ia bawa, tersimpan harapan sederhana agar keluarga bisa tetap makan, agar anak-anaknya bisa tetap bersekolah, agar hidup terus berjalan.

“Kalau ditanya capek ya capek. Tapi kita tetap harus ikhtiar untuk kebutuhan keluarga. Jadi harus jalan terus,” katanya sambil mengusap peluh di dahi.

Lebih dari Sekadar Minuman. Bagi sebagian orang, nira hanyalah minuman manis penghilang dahaga. Tapi bagi Mamak Malin, nira adalah simbol perjuangan. Dari satu gelas ke gelas lain yang terjual, ada harga diri, ada doa, ada semangat yang tak pernah padam.

Ia bukan sekadar pedagang keliling. Ia adalah potret tentang bagaimana orang kecil bertahan di tengah kerasnya hidup kota, dengan cara sederhana namun penuh martabat.

Setiap suara speaker dari motornya, sejatinya adalah panggilan harapan. Dan setiap gelas nira yang berpindah tangan, adalah cerita kecil tentang keteguhan hati seorang lelaki bernama Mamak Malin.amr

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *