Selasa , 7 Juli 2026

Pelabuhan Penumpang Dumai Resmi Jadi Kawasan Non Tunai

Perkuat Konektivitas Ekonomi Digital Indonesia-Malaysia

DUMAI (pekanbarupos.co) – Pelabuhan Penumpang Dumai memiliki peran penting sebagai gerbang mobilitas masyarakat dan wisatawan mancanegara. Letaknya yang strategis di pesisir timur Sumatera dan berhadapan langsung dengan Selat Malaka menjadikan pelabuhan ini sebagai salah satu jalur utama penghubung Indonesia dan Malaysia.

Saat ini, Pelabuhan Penumpang Dumai melayani sejumlah rute internasional, antara lain Dumai–Melaka, Dumai–Port Dickson, dan Dumai–Muar. Keberadaan jalur tersebut turut mendorong peningkatan arus wisatawan mancanegara ke Provinsi Riau.

Data tahun 2025 menunjukkan sebanyak 15.177 wisatawan mancanegara masuk ke Riau melalui Pelabuhan Penumpang Dumai atau tumbuh 11,9 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, 87 persen di antaranya merupakan wisatawan asal Malaysia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, mengatakan implementasi pembayaran non tunai di Pelabuhan Penumpang Dumai merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan publik, efisiensi operasional pelabuhan, serta mendorong aktivitas ekonomi, pariwisata, UMKM, dan mobilitas masyarakat lintas negara.

“Peluncuran Pelabuhan Penumpang Dumai sebagai Kawasan Non Tunai merupakan bukti nyata sinergi Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, Pelindo Regional I Dumai, perbankan, dan pelaku usaha dalam memperkuat ekosistem pembayaran digital di daerah. Melalui implementasi pembayaran non tunai pada gate pass penumpang dan kendaraan serta pembayaran tiket ferry internasional berbasis QRIS Antarnegara, inisiatif ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperluas akseptasi pembayaran digital dan memperkuat peran Dumai sebagai gerbang konektivitas ekonomi Indonesia–Malaysia,” ujar Filianingsih.

Digitalisasi pembayaran di Pelabuhan Penumpang Dumai mencakup tiga aspek utama, yakni pembayaran digital untuk gate pass kendaraan, pembayaran biaya masuk terminal penumpang, serta pembayaran tiket ferry internasional yang seluruhnya menggunakan QRIS Antarnegara.

Dengan sistem tersebut, ekosistem pembayaran digital di Pelabuhan Penumpang Dumai diharapkan semakin terintegrasi dari hulu hingga hilir serta mampu memberikan pengalaman transaksi yang lebih praktis dan efisien bagi masyarakat maupun wisatawan mancanegara.

Sejalan dengan pengembangan tersebut, transaksi QRIS Antarnegara di Provinsi Riau juga terus menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga Caturwulan I Tahun 2026, nilai transaksi QRIS Antarnegara di Riau mencapai Rp18,64 miliar atau meningkat 202 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Mayoritas transaksi tersebut berasal dari transaksi inbound wisatawan Malaysia, yang semakin mempertegas posisi Riau sebagai salah satu pusat transaksi lintas negara di Indonesia.

Secara nasional, QRIS juga terus berkembang sebagai instrumen utama dalam mendukung ekonomi dan keuangan digital. Hingga Mei 2026, transaksi QRIS nasional telah mencapai 10,18 miliar transaksi dengan 64,34 juta pengguna dan 46,60 juta merchant. Sebanyak 93,2 persen merchant QRIS merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Di Provinsi Riau sendiri, QRIS telah digunakan oleh lebih dari 1 juta merchant dan 1,2 juta pengguna. Volume transaksi QRIS di daerah ini tercatat mencapai 64,9 juta transaksi hingga Mei 2026.

Bank Indonesia menilai QRIS tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran digital, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha untuk terhubung dengan ekosistem ekonomi digital yang lebih luas.

Melalui pencatatan transaksi secara elektronik, QRIS dinilai mampu membantu pelaku usaha meningkatkan transaksi, memperluas akses pasar, serta membuka peluang memperoleh layanan keuangan digital yang lebih mudah dan inklusif.

Peresmian Pelabuhan Penumpang Dumai sebagai Kawasan Non Tunai diharapkan dapat menjadi model pengembangan layanan publik berbasis transaksi digital yang dapat direplikasi di berbagai titik strategis lainnya di Provinsi Riau.

Melalui sinergi yang berkelanjutan antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan industri jasa keuangan, Riau diharapkan semakin siap menjadi bagian penting dari sistem pembayaran lintas negara yang modern, inklusif, dan berdaya saing tinggi.(yan)

About Syaifullah Syaifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *