
Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Andalas
Stunting masih jadi perhatian besar bagi dunia kesehatan Indonesia, termasuk di Kota Padang. Namun kabar baik datang dari Puskesmas Parak Karakah.
Sekelompok mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas (FKM Unand), berhasil menunjukkan bahwa pengenalan posyandu digital melalui aplikasi HelmiGrowth mampu meningkatkan pengetahuan kader posyandu dan ibu yang memiliki anak di bawah dua tahun (baduta) tentang cara mencegah stunting.
Kegiatan ini merupakan field project yang beranggotakan Nafisah Daviani, Novia Wahyu Diana, Aisyah Adiba SB, dan Kharimah, di bawah bimbingan empat dosen pengampu, yaitu Dr. Frima Elda, SKM, MKM; Prof. Dr. Helmizar, SKM, M.Biomed; Dr. Denas Symond, MCN; dan Dr. Idral Purnakarya, SKM, MKM.
Aplikasi HelmiGrowth merupakan inovasi digital karya Prof. Dr. Helmizar, S.K.M., M.Biomed yang dirancang untuk membantu orang tua dan kader posyandu dalam memantau tumbuh kembang anak.
Aplikasi ini menyediakan fitur pemantauan pertumbuhan anak, panduan pemberian makan bayi dan anak (PMBA), serta edukasi stunting yang disajikan secara interaktif dan mudah dipahami.
Mengapa inovasi ini penting? Posyandu selama ini menjadi garda terdepan dalam memantau tumbuh kembang balita di tingkat masyarakat. Namun, peran strategis itu perlu didukung pengetahuan yang memadai, baik dari kader maupun ibu baduta. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang akrab dengan smartphone, edukasi berbasis aplikasi menjadi peluang besar untuk menyampaikan informasi kesehatan secara lebih mudah dijangkau dan menyenangkan.
Hasil yang Menggembirakan
Kegiatan pendampingan ini melibatkan lima kader posyandu dan delapan ibu baduta di wilayah kerja Puskesmas Parak Karakah. Sebelum dan setelah pengenalan aplikasi HelmiGrowth, para peserta mengisi kuesioner pengetahuan tentang pencegahan stunting.
Hasilnya menggembirakan. Rata-rata skor pengetahuan kader meningkat dari 88 persen menjadi 100 persen setelah mengenal aplikasi HelmiGrowth. Seluruh kader bahkan berhasil mencapai skor sempurna.
Sementara itu, rata-rata skor pengetahuan ibu baduta naik dari 81 persen menjadi 96 persen, dengan enam dari delapan ibu mencapai skor maksimal. Yang menarik, peningkatan paling besar justru terlihat pada ibu yang awalnya memiliki pengetahuan paling terbatas.
Salah satu responden yang semula memperoleh skor 50 persen berhasil naik menjadi 80 persen setelah mendapat pengenalan aplikasi ini.
Mengapa Aplikasi Digital Efektif?
Salah satu kunci keberhasilan pendekatan ini terletak pada cara penyampaian informasi yang memadukan teks, gambar, dan simulasi sederhana.
Pendekatan visual dan interaktif semacam ini dipercaya lebih mudah diingat dibandingkan metode penyuluhan konvensional yang hanya mengandalkan ceramah.
Selain itu, sebagian besar ibu baduta yang menjadi peserta belum pernah menggunakan aplikasi kesehatan sebelumnya. Artinya, aplikasi HelmiGrowth membuka akses baru bagi mereka untuk belajar tentang gizi anak dan pencegahan stunting kapan saja, tanpa harus selalu hadir secara fisik dalam kegiatan penyuluhan.
Bagi kader posyandu, aplikasi ini juga memberikan manfaat yang signifikan. Kehadiran aplikasi HelmiGrowth diharapkan dapat memperkuat kapasitas kader dalam pemantauan tumbuh kembang anak, sekaligus mempermudah proses pencatatan dan dokumentasi secara lebih praktis dan sistematis.
Harapan untuk Masa Depan
Tim berharap hasil field project ini dapat menjadi salah satu rujukan dalam memperluas penerapan posyandu digital. Dukungan pelatihan lanjutan bagi kader serta sosialisasi kepada ibu baduta akan semakin memperkuat dampak positif yang sudah dirasakan.
Bagi keluarga yang memiliki anak baduta, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa pencegahan stunting bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu meningkatkan pengetahuan tentang gizi dan tumbuh kembang anak.
Kini, dengan kehadiran teknologi seperti aplikasi HelmiGrowth, akses terhadap informasi kesehatan yang terpercaya menjadi semakin mudah dijangkau oleh siapa saja, kapan saja.
Kegiatan field project ini merupakan bagian dari pembelajaran mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas, yang berkomitmen menghadirkan inovasi nyata bagi upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia, dimulai dari langkah kecil namun berdampak di tingkat layanan kesehatan primer.(yus)
Pekanbaru Pos Riau